Kamera menjadi ruang untuk bercerita
Pameran foto pesisir adalah ruang bagi warga untuk merekam kehidupan di tepi laut dan menyampaikan kisahnya melalui gambar dari sudut pandang mereka sendiri. Di Lasem, 16 perempuan Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mengisi ruang itu dengan pengalaman hidup mereka di pesisir utara Jawa. Karya mereka dipamerkan dalam acara dan diskusi foto “Suara Segara: Perempuan Gedongmulyo Bercerita” pada Minggu (1/11). Kekuatan pameran ini terletak pada siapa yang memegang kamera. Para peserta bukan sekadar objek dalam cerita tentang pesisir, melainkan warga yang memilih bagian kehidupan desa yang layak diperhatikan. Karena itu, foto-foto tersebut menawarkan lebih dari pemandangan: setiap bingkai membawa cara pandang perempuan dengan pekerjaan dan keseharian yang beragam. Fotografi perempuan di sini berfungsi sebagai medium untuk membagikan kisah warga pesisir sekaligus membuka percakapan yang kerap luput ketika kehidupan desa diceritakan hanya dari luar.
Pengalaman sehari-hari menentukan bingkai
Pendekatan fotografi partisipatif yang digunakan dalam inisiatif ini memberi peserta kesempatan untuk memotret sudut-sudut desa berdasarkan pengalaman masing-masing. Kolaborasi Coral Triangle Center (CTC) dan Photovoices International (PVI) dirancang agar perempuan nelayan dapat mendokumentasikan serta menyampaikan pandangan dan aspirasi tentang kondisi sumber daya alam serta kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya kepada keluarga, masyarakat, pemangku kepentingan, dan publik. Pilihan tema menunjukkan bahwa cerita pesisir tidak berhenti pada laut sebagai latar. Para peserta mengangkat perikanan laut, pengelolaan sampah, garam, serta pariwisata dan ekosistem mangrove. Foto berjudul “Garam Sebagai Mata Pencaharian” karya Nikmaetul Leli, misalnya, menautkan mata pencaharian dengan kehidupan setempat. Karya “Gerobak Pembawa Berkah” oleh Siti Juwariyah juga memperlihatkan bagaimana benda dan kegiatan sehari-hari dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan warga. Nilai pameran ini ada pada pilihan subjek dan makna yang diberikan oleh orang yang menjalaninya.
Dari cerita menjadi bahan percakapan
Suara Segara bukan hanya ajang memajang gambar; pameran ini mempertemukan pengalaman warga dengan pihak yang dapat menanggapi persoalan yang mereka soroti. Sejak 2023, CTC bekerja bersama perempuan Gedongmulyo melalui pelatihan, termasuk pengelolaan perikanan berkelanjutan dan pengembangan kepemimpinan. Inisiatif foto tersebut melanjutkan upaya memperkuat keterampilan dan peran perempuan dalam pengelolaan sumber daya laut. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang, Nurida Andante Islami, menyebut foto para peserta sebagai masukan untuk melihat intervensi yang dapat dilakukan. Ia juga menyampaikan harapan agar peserta dilibatkan sebagai agen yang menjelaskan gagasan kepada warga lain dan inisiatifnya dapat diterapkan di desa lain. Harapan itu penting, tetapi dampaknya akan bergantung pada tindak lanjut: suara yang sudah terlihat perlu masuk ke dalam pembahasan dan keputusan, bukan berhenti sebagai dokumentasi acara.
Awal yang kuat, bukan akhir cerita
Program ini berlangsung singkat, tetapi 16 peserta berhasil menghasilkan rangkaian foto dan cerita yang mengangkat persoalan dekat dengan kehidupan mereka. Batas waktu tersebut patut diakui: satu pameran tidak dapat menyelesaikan tantangan pengelolaan pesisir atau menggantikan keterlibatan warga secara berkelanjutan. Namun, dokumentasi visual memberi warga sarana untuk menyampaikan pengalaman dengan cara yang dapat dilihat, dibicarakan, dan ditanggapi. Pameran foto pesisir ini paling berarti ketika publik tidak hanya mengagumi gambar, tetapi juga mendengarkan apa yang disampaikan pembuatnya. Dengan memberi perempuan Gedongmulyo kendali atas bingkai dan cerita, Suara Segara menggeser mereka dari latar menjadi pencerita. Kesimpulannya jelas: fotografi partisipatif bukan pengganti tindakan, melainkan cara yang kuat untuk memastikan tindakan berangkat dari pengalaman warga yang hidup di pesisir.






