Dua pendekatan untuk menjaga siswa tetap belajar
Bantuan pendidikan Baznas adalah dukungan biaya belajar yang dikelola dari zakat, infak, atau sedekah untuk membantu peserta didik dari keluarga yang membutuhkan tetap melanjutkan pendidikan. Pada Oktober dan November 2026, program di Indramayu dan Kulon Progo memperlihatkan dua pilihan cakupan: menjangkau banyak siswa dengan nominal seragam atau memberi bantuan bertingkat kepada kelompok lebih kecil.
Baznas Indramayu menyalurkan bantuan ZIS Rp884 juta kepada 1.768 siswa dari keluarga prasejahtera, masing-masing menerima Rp500 ribu. Dana terdiri atas Rp697 juta dari zakat dan Rp187 juta dari infak. Penyerahan simbolis berlangsung di GOR Singalodra pada 12 Oktober 2026, sebagai bagian dari peringatan Hari Jadi ke-499 Kabupaten Indramayu. Skala besar ini memberi bantuan langsung kepada banyak keluarga; nilai seragamnya juga membuat cakupan program mudah dipahami, meski kebutuhan tiap jenjang tentu berbeda.
Di Kulon Progo, bantuan pendidikan senilai Rp525 juta diberikan kepada 375 pelajar dan mahasiswa dari jenjang SMP/MTs hingga perguruan tinggi. Penyaluran berlangsung di Aula Adikarta pada 2 November 2026 dan menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-75 kabupaten tersebut. Perbandingan ini bukan soal program mana yang lebih baik: Indramayu memprioritaskan jumlah penerima, sedangkan Kulon Progo memasukkan mahasiswa dan membedakan nominal menurut jenjang.
Jumlah penerima bukan satu-satunya ukuran
Angka penerima membuat perbedaan kedua program terlihat tegas. Indramayu menjangkau 1.768 siswa, hampir lima kali jumlah 375 penerima di Kulon Progo, tetapi kedua program tidak dapat dibandingkan hanya lewat jumlah kepala atau total dana. Indramayu menetapkan bantuan tunai Rp500 ribu per siswa, sementara Kulon Progo menyusun alokasi berdasarkan tingkat pendidikan. Perbedaan sasaran dan pola nominal itu mencerminkan pilihan desain yang berlainan, bukan bukti bahwa kebutuhan penerima di satu daerah lebih kecil.
Rincian Kulon Progo menunjukkan 150 siswa SMP/MTs menerima Rp1 juta per orang, 150 siswa SMA/SMK/MA memperoleh Rp1,5 juta, dan 75 mahasiswa menerima Rp2 juta. Dengan demikian, bantuan di sana berkisar Rp1 juta hingga Rp2 juta sesuai jenjang pendidikan. Komposisi tersebut memberi porsi khusus bagi mahasiswa, sedangkan bantuan Indramayu berfokus pada siswa dan menetapkan satu nominal untuk seluruh penerima.
Kedua pola punya kegunaan praktis: bantuan seragam dapat menyebar lebih luas, sedangkan nominal bertingkat menyesuaikan jenjang dan menyertakan mahasiswa. Namun, bantuan zakat siswa bukan pengganti pembiayaan pendidikan jangka panjang. Nilainya paling berarti ketika dipakai untuk kebutuhan belajar yang mendesak dan disertai dukungan keluarga serta sekolah.

Manfaat ditentukan oleh ketepatan sasaran
Tujuan langsung kedua program adalah meringankan beban keluarga dan membantu penerima tetap fokus belajar. Pemerintah daerah Indramayu berharap bantuan mendorong siswa melanjutkan pendidikan tanpa kehilangan semangat akibat keterbatasan ekonomi. Di Kulon Progo, harapannya bantuan menutup sebagian kebutuhan biaya agar kegiatan belajar berjalan lebih baik dan lancar. Dampak akhirnya bergantung pada apakah dana sampai kepada keluarga yang membutuhkan dan digunakan untuk keperluan pendidikan.
Karena itu, beasiswa siswa kurang mampu perlu dinilai bukan hanya dari nominal, tetapi juga dari proses pemilihan penerima dan kecocokan dukungannya. Di Kulon Progo, penentuan penerima dilakukan melalui koordinasi dengan instansi terkait. Informasi yang tersedia juga menunjukkan cakupan jenjangnya, tetapi tidak merinci seluruh mekanisme penyaluran secara setara dengan Indramayu. Membandingkan program secara adil berarti mengakui perbedaan tersebut, bukan menganggap prosedurnya sama.
Bantuan pendidikan pelajar berbasis zakat menjadi salah satu cara mengubah dana masyarakat menjadi dukungan yang terasa bagi keluarga. Agar manfaatnya berlanjut, pemerintah daerah dan lembaga zakat perlu menjaga ketepatan sasaran sekaligus memperkuat hubungan dengan keluarga dan lembaga pendidikan. Kedua daerah menyatakan harapan agar dukungan pendidikan terus diperkuat dan sinergi antarpihak terjaga.
Cakupan luas dan bantuan bertingkat sama-sama penting
Perbedaan paling jelas terletak pada pilihan cakupan. Indramayu mengutamakan jangkauan luas kepada siswa prasejahtera dengan nominal rata Rp500 ribu; Kulon Progo menjangkau lebih sedikit penerima, tetapi mencakup pelajar hingga mahasiswa dan menaikkan bantuan sesuai jenjang. Keduanya menyalurkan dana zakat untuk menopang pendidikan, tetapi angka penerima dan nilai per orang menunjukkan mekanisme program yang berbeda.
Ukuran keberhasilan semestinya bukan sekadar besarnya total dana atau banyaknya nama dalam daftar penerima. Yang lebih penting ialah apakah bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan, meringankan biaya yang menghambat belajar, dan membantu penerima bertahan hingga jenjang berikutnya. Dengan prinsip itu, bantuan pendidikan Baznas dapat dinilai dari dampak nyata, bukan hanya dari seremoni penyerahannya.
Kesimpulannya, Indramayu menonjol dalam keluasan jangkauan, sedangkan Kulon Progo menunjukkan pendekatan bertingkat yang memasukkan mahasiswa. Tidak perlu menyeragamkan kedua model: daerah dapat memilih desain sesuai sasaran dan kebutuhan lokal, dengan transparansi dan ketepatan penerima sebagai tolok ukur bersama.






