Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Desainer Lokal Rayakan Warisan Tekstil di Fashion Nation ke-20

Tiga Desainer Lokal Rayakan Warisan Tekstil di Fashion Nation ke-20
Minat|Pertunjukan Busana

Fashion Nation ke-20: Panggung Wastra Tradisional yang Kian Kontemporer

Fashion Nation ke-20 adalah sebuah fashion show Senayan City yang menempatkan wastra tradisional, seperti batik dan tenun nusantara, di jantung rancangan kontemporer, menghadirkan desainer lokal lintas gaya yang memadukan teknik pengerjaan tangan, ekspresi personal, serta narasi visual tentang perempuan dan perjalanan kreatif di atas runway sebagai perayaan identitas dan estetika tekstil warisan budaya yang terus berevolusi.

Di edisi perayaan ini, panggung Senayan City terasa seperti laboratorium ide tentang cara baru memaknai koleksi wastra tradisional. Alih-alih sebatas motif etnik yang ditempel di busana, desainer memposisikan batik dan tekstil warisan sebagai inti gagasan: tentang waktu, kebebasan berekspresi, sampai refleksi karier. Bagi pencinta mode yang menantikan inovasi wastra, rangkaian tampilan di Fashion Nation ke-20 menghadirkan angin segar dan sekaligus tantangan: kalau desainer lokal berani sedemikian jauh bereksperimen di tenun nusantara runway, mengapa kita sebagai pemakai pakaian masih sering terjebak pada gaya yang itu-itu saja?

TOTON dan "Tempaan Kala": Batik Gedog Tuban sebagai Metafora Waktu

Koleksi "Tempaan Kala" dari TOTON menjadi bukti paling jelas bahwa desainer Indonesia batik bisa menghadirkan sesuatu yang konseptual tanpa kehilangan akar tradisi. Di Fashion Nation ke-20, Toton Januar menyuguhkan 20 rancangan eksklusif yang seluruhnya berputar pada gagasan tentang bagaimana waktu menempanya sebagai kreator dan menghaluskan karya-karyanya. Alih-alih produksi instan, ia sengaja memilih teknik pengerjaan tangan yang memakan waktu, menempatkan proses sebagai bagian dari narasi, bukan sekadar tahapan produksi.

Pilihan wastranya tidak main-main: Batik Gedog Tuban dan Batik Pekalongan dengan karakter motif khas dijadikan medium utama untuk memvisualkan perjalanan dan pendewasaan. Warna biru dan putih menghasilkan kesan elegan yang tenang, seolah menggarisbawahi bahwa kedewasaan estetika lahir dari disiplin panjang. “Tempaan itu adalah suatu proses yang terus-menerus yang membentuk kita,” ujar Toton dalam konferensi pers di Fashion Nation 20th Edition. Di runway, kain yang sarat filosofi ini tampil sebagai busana modern, membantah anggapan bahwa batik hanya pantas hadir di acara seremonial.

Tiga Desainer Lokal Rayakan Warisan Tekstil di Fashion Nation ke-20

Tenka Tian dari Kami: Bunga Cosmos dan Suara Perempuan di Runway

Jika TOTON bicara tentang waktu, Kami. lewat koleksi "Tenka Tian" membawa diskusi ke ranah karakter dan kebebasan perempuan. Tenka Tian di Fashion Nation 20th Edition menggunakan inspirasi bunga liar Cosmos sebagai simbol kebebasan batin dan keberagaman ekspresi, sehingga tenun nusantara runway terasa seperti padang rumput ide dan warna yang hidup. Pendekatan ini penting: wastra tradisional tidak lagi hanya bicara motif daerah, tetapi juga menjadi medium untuk mengangkat psikologi dan dinamika sosial perempuan.

Istafiana Candarini menjelaskan bahwa bunga Cosmos menggambarkan expressiveness banyak perempuan dan merepresentasikan perempuan yang memiliki self-expression berbeda satu sama lain, layaknya padang rumput dengan bunga warna-warni. Gagasan abstrak ini diterjemahkan melalui potongan bunga, bordir, payet, serta aksen kelopak yang ditempatkan langsung di permukaan material tekstil, menciptakan tekstur tiga dimensi yang lembut namun tegas. Palet warna yang bergerak dari pastel, terang berani, hingga gelap sengaja dipilih sebagai metafora bahwa setiap perempuan memiliki “warna” sendiri dalam dirinya. Di sini, wastra dan elemen dekoratif bekerja sebagai bahasa visual untuk menyuarakan keragaman, bukan sekadar dekorasi feminim.

Tiga Desainer Lokal Rayakan Warisan Tekstil di Fashion Nation ke-20

Billy Tjong dan FUCHSIA: Memoar Visual 25 Tahun Ekspresi Diri

Sementara dua desainer lain merayakan alam dan waktu, Billy Tjong datang ke panggung fashion show Senayan City dengan perspektif sangat personal lewat koleksi FUCHSIA. Lebih dari sekadar deretan busana, FUCHSIA adalah memoar visual tentang perjalanan Billy yang disusun melalui warna favoritnya sejak awal karier. Dalam rangka 25 tahun berkarya di dunia mode, ia mempersembahkan 28 tampilan yang memancarkan energi berani dan karakter kuat, menjadikan satu warna sebagai poros eksplorasi kreativitas, craftsmanship, dan cara ia memaknai feminitas modern.

Yang menarik, di tengah panggung yang ramai koleksi wastra tradisional, FUCHSIA tetap nyambung dengan wacana identitas dan warisan, tetapi dari sisi perjalanan individu. Banyak looks memuat interpretasi ulang karya terdahulu dengan pendekatan kontemporer, memperlihatkan evolusi siluet dan teknik melalui sentuhan khas Billy pada corsetry. Semangat kolaborasi dengan talenta muda membuat koleksi ini terasa lintas generasi, sejalan dengan ruh Fashion Nation ke-20 yang mempertemukan mentor dan penerus dalam satu runway. Di tangan Billy, warna menjadi arsip hidup, mengingatkan bahwa ekspresi diri desainer pun adalah bagian dari warisan yang layak dirayakan.

Tiga Desainer Lokal Rayakan Warisan Tekstil di Fashion Nation ke-20

Kesimpulan: Wastra Bukan Sekadar Motif, Melainkan Bahasa Masa Kini

Tiga koleksi di Fashion Nation ke-20—"Tempaan Kala" dari TOTON, "Tenka Tian" dari Kami., dan FUCHSIA dari Billy Tjong—menegaskan satu hal: wastra tradisional akan relevan selama desainer berani menggunakannya sebagai bahasa gagasan, bukan dekorasi nostalgia. TOTON mengajak penonton merenungkan proses pendewasaan melalui batik Gedog Tuban dan Pekalongan; Kami. meminjam bunga Cosmos untuk menyuarakan keragaman perempuan; Billy menjadikan fuchsia sebagai memoar visual perjalanan kreatifnya.

Dalam konteks ini, tenun nusantara runway tidak lagi sekadar tempat memamerkan koleksi wastra tradisional, tetapi ruang negosiasi identitas antara masa lalu dan masa kini. Bagi pencinta mode yang peduli pada tekstil warisan, ajang seperti Fashion Nation ke-20 seharusnya menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap desainer lokal bukan hanya soal bangga terhadap batik, melainkan juga tentang memberi ruang pada narasi baru yang lahir dari kain-kain lama. Jika panggung nasional sudah berani mengangkat cerita sedalam ini, langkah berikutnya ada di tangan kita: memilih untuk mengenakan, mengapresiasi, dan membicarakan karya-karya ini sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!