Koneksi internet ikut menentukan nasib waktu ujian
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah ujian untuk mengevaluasi kemampuan akademik siswa, dan pelaksanaannya bergantung pada kesiapan peserta maupun sarana teknis yang menopang tes. Pada TKA hari pertama, Senin, 26 Oktober 2026, pengalaman dua sekolah memperlihatkan bahwa koneksi internet bukan gangguan kecil ketika ujian dilakukan melalui komputer. Di SMAN 1 Kelumpang Utara, Kabupaten Kotabaru, 40 siswa mengikuti tes dalam dua sesi, masing-masing berisi 20 peserta. Materi hari itu adalah Bahasa Indonesia, dengan pengawasan melalui Zoom. Secara umum kegiatan dinilai berjalan baik, tetapi internet lambat membuat sebagian siswa keluar-masuk aplikasi dan kesulitan tersambung ke Zoom. Akibatnya, beberapa peserta kehabisan waktu untuk menjawab. Gangguan tersebut bukan sekadar urusan teknis bagi panitia: ketika menit ujian habis karena koneksi, kesempatan siswa menunjukkan kemampuannya ikut tergerus.
Di Pontianak, persiapan mengurangi risiko gangguan
Sementara itu, pelaksanaan TKA di SMKN 5 Pontianak pada hari yang sama berlangsung lancar tanpa kendala internet, server, maupun listrik. Gelombang pertama diikuti 187 siswa dan dijadwalkan selama empat hari, dari 26 hingga 29 Oktober. Dari total 370 siswa kelas XII yang mengikuti TKA, sekolah membagi peserta menjadi dua gelombang agar pelaksanaan tertib dan sesuai kapasitas fasilitas. Sekolah menyiapkan tiga ruangan untuk setiap gelombang, sekitar 21 peserta per ruangan, serta membagi ujian menjadi tiga sesi per hari. Langkah ini menunjukkan bahwa kelancaran bukan soal keberuntungan semata: kapasitas ruang dan pengaturan peserta turut menentukan apakah ujian berbasis komputer bisa berjalan tertib. Kelancaran pada hari pertama memang belum menjamin seluruh rangkaian tanpa kendala, tetapi persiapan yang terukur memberi dasar yang lebih baik.

Cadangan teknis seharusnya menjadi bagian dari standar
SMKN 5 Pontianak juga menyediakan komputer cadangan untuk mengantisipasi masalah teknis dan telah menyurati PLN agar tidak ada pemadaman di area sekolah selama ujian. Setiap laboratorium menyiapkan 25 komputer, termasuk perangkat cadangan, sementara standar yang disebut untuk penyediaan komputer sekitar 20 unit per kelas. Pengawas dan panitia dinilai sigap, dan laboratorium dianggap nyaman bagi peserta. Sebaliknya, di SMAN 1 Kelumpang Utara, guru Ari Maulana menyebut titik masalah berada pada modem dan kabel LAN. Perbandingan ini tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa satu sekolah lebih siap dalam semua hal, tetapi memperjelas bahwa rencana cadangan, jaringan, dan perangkat perlu diperiksa sebelum peserta duduk mengerjakan soal. Kendala internet TKA layak dipandang sebagai risiko yang harus diantisipasi, bukan gangguan yang baru ditangani setelah siswa kehilangan waktu.
Kelancaran harus diukur dari pengalaman siswa
TKA di SMKN 5 Pontianak diharapkan berlanjut lancar hingga seluruh gelombang selesai, dengan dukungan fasilitas dan panitia. Harapan itu patut disertai pemeriksaan koneksi, server, listrik, dan perangkat sebelum setiap sesi, sebab keberhasilan ujian bukan hanya soal tes dapat dimulai. Pengalaman siswa di Kotabaru menjadi pengingat bahwa aplikasi yang terputus dapat mengambil waktu yang seharusnya dipakai untuk menjawab, sementara kelancaran di Pontianak menunjukkan manfaat pengaturan kapasitas dan komputer cadangan. Penyelenggara perlu menilai kesiapan dari sudut pandang peserta: apakah mereka bisa masuk, bertahan di aplikasi, dan menggunakan waktu ujian sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, ujian berbasis komputer baru adil ketika fasilitas teknis tidak menjadi penghalang bagi kemampuan yang hendak diukur.






