Gizi Anak Saat Orang Tua Merantau: Masalah Rumah Tangga, Bukan Sekadar Angka Stunting
Gizi anak orang tua TKI adalah persoalan pemenuhan nutrisi dan pola makan anak yang ditinggal bekerja jauh oleh ayah atau ibunya, sehingga keseharian mereka bergantung pada pengasuh keluarga seperti kakek, nenek, atau kerabat yang belum tentu memahami kebutuhan gizi seimbang dan dampak jangka panjang kekurangan nutrisi maupun konsumsi gula berlebih pada tumbuh kembang anak.
Cilacap sering dipuji karena angka stuntingnya “lebih baik” daripada rata-rata provinsi, tetapi ini pujian yang menyesatkan. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat stunting di Cilacap masih 15,6 persen, hanya sedikit lebih rendah dari Jawa Tengah 17,1 persen dan nasional 19,8 persen. Dengan kata lain, satu dari enam anak masih gagal tumbuh optimal. Di balik angka itu, ada pola pengasuhan rapuh: orang tua bekerja di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan rumah, sementara anak tumbuh bersama kakek, nenek, atau kerabat tanpa bimbingan gizi yang memadai. Jika pola ini dibiarkan, stunting pencegahan desa akan selalu terlambat satu langkah dari masalah.
Migrasi Orang Tua dan Pola Makan Anak Rural yang Berubah Manis dan Instan
Sebagai daerah penyumbang pekerja migran, Cilacap punya pola pengasuhan khas: banyak anak dititipkan ke kakek-nenek atau saudara ketika orang tuanya bekerja di luar negeri. Gambarannya terdengar familier di banyak desa: orang tua mengirim uang, keluarga di kampung mengurus anak. Masalahnya, uang yang masuk tidak otomatis berubah menjadi gizi berkualitas. "Anak-anak ini banyak diasuh oleh kakek neneknya. Akhirnya mereka jajan sembarangan yang tinggi gula lah dan semacamnya," kata Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap, Budi Santosa.
Inilah wajah baru pola makan anak rural: lebih banyak jajanan kemasan, minuman berwarna, roti manis, dan minuman saset dibanding lauk bergizi. Konsumsi gula tak lagi datang hanya dari teh manis di rumah, tapi menumpuk dari jajanan di warung dan minuman manis di sekolah. Gizi anak orang tua TKI dipertaruhkan ketika pengasuh keluarga nutrisi sehari-hari tidak mendapatkan dukungan pengetahuan dan pendampingan. Ketika kedekatan emosional pengasuh digabung dengan minimnya informasi, pilihan makanan sering mengikuti keinginan anak, bukan kebutuhannya.
Kental Manis dan Bahaya “Gula Disamarkan” dalam Cangkir Susu
Di banyak rumah desa, masalah gizi bukan semata kekurangan makan, tetapi salah memilih sumber kalori. Contoh paling nyata adalah kental manis yang masih sering diperlakukan sebagai susu harian anak. Kental manis memang terlihat putih dan kental seperti susu, namun kandungan gulanya ekstrem: sekitar 50 gram gula per 100 mililiter, sehingga 30 mililiter saja sudah mengandung lebih dari 15 gram gula. Untuk anak usia 2–6 tahun, angka ini hampir memenuhi batas harian gula yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia hanya dari satu sajian.
Survei nasional terhadap 2.150 orang tua balita menemukan 67,6 persen responden masih menggunakan kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan anak. Artinya, pola makan anak rural banyak dipenuhi kalori kosong yang miskin protein dan mikronutrien penting. Ini kebiasaan berbahaya yang berjalan diam-diam: anak tampak kenyang dan “lahap minum susu”, padahal tubuhnya kekurangan zat pembangun tinggi badan dan kecerdasan. Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, dr Erna Yulia Soefihara, menegaskan edukasi soal kental manis harus terus dilanjutkan karena kesalahpahaman ini masih kuat mengakar.
Ketika Kakek-Nenek Menjadi Orang Tua Kedua: Pengasuh Keluarga Butuh Ilmu, Bukan Sekadar Titipan
Dalam keluarga PMI, kakek, nenek, atau kerabat yang tinggal serumah praktis menjadi orang tua kedua. Mereka yang mengatur jam makan, uang jajan, dan menu harian anak. Namun banyak pengasuh keluarga tumbuh dalam era ketika stunting belum menjadi istilah populer, dan susu identik dengan apa pun yang manis dan putih. Tanpa bimbingan, mereka cenderung mengulang pola lama: nasi banyak, lauk sedikit, jajanan manis sebagai bentuk sayang. Padahal, stunting pencegahan desa membutuhkan pengasuh yang memahami bahwa cinta pada cucu berarti batasi gula, berani menolak rengekan membeli jajan, dan memprioritaskan makanan bergizi.
Pemerintah Kabupaten Cilacap menyadari persoalan ini dan berencana memetakan faktor penyebab utama masalah gizi anak agar intervensi lebih tepat sasaran. Ini langkah penting, tetapi pemetaan tanpa tindak lanjut konkret ke dapur-dapur pengasuh akan berhenti sebagai dokumen. Pengasuh keluarga nutrisi perlu dibantu dengan penjelasan sangat praktis: seberapa sering memberi jajanan manis, bagaimana membaca label gula, kapan kental manis boleh dipakai (bukan sebagai susu), dan menu harian sederhana yang lebih menekankan protein dan sayur ketimbang sekadar rasa manis.
Jembatan Desa: Intervensi Komunitas agar Anak Tak Menjadi Korban Jarak
Persoalan gizi anak dalam keluarga PMI membuktikan bahwa tumbuh kembang tidak boleh berhenti hanya karena orang tua bekerja di luar negeri. Di sinilah desa dan komunitas religius punya peran strategis sebagai jembatan antara orang tua yang jauh dan pengasuh di rumah. Kader organisasi keagamaan sudah mulai digerakkan sebagai agent of change untuk meluruskan kesalahan konsumsi susu dan pola makan anak di lingkungan sekitar. Mereka dekat dengan jamaah, mudah dipercaya, dan bisa menyisipkan pesan gizi di pengajian, arisan, hingga posyandu.
Model intervensi berbasis komunitas ini harus dipandang sebagai strategi utama, bukan pelengkap. Program stunting pencegahan desa akan lebih kuat jika posyandu, kader kesehatan, dan tokoh agama kompak menyampaikan pesan yang sama: gizi anak orang tua TKI bukan urusan keluarga itu saja, melainkan urusan satu kampung. Pemerintah daerah pun perlu memetakan kondisi keluarga PMI secara lebih spesifik agar intervensi kesehatan dan gizi menjangkau anak yang diasuh kerabat, bukan hanya keluarga yang orang tuanya tinggal serumah dengan anak. Jika desa bersedia menjadi “orang tua bersama”, jarak ribuan kilometer tidak otomatis menjadikan anak korban gizi.






