Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Drone Penyemprot Padi: Hemat Biaya, Sulit Diadopsi?

Drone Penyemprot Padi: Hemat Biaya, Sulit Diadopsi?
Minat|Fotografi Udara Drone

Drone Penyemprot Padi: Definisi, Janji, dan Realitas di Sawah

Drone penyemprot padi adalah pesawat tanpa awak yang dirancang khusus untuk menyemprot pupuk cair, pestisida, atau biostimulan secara otomatis dan merata di lahan sawah, sehingga petani dapat menghemat waktu kerja, mengurangi kontak langsung dengan bahan kimia, serta meningkatkan efisiensi penyemprotan tanaman tanpa bergantung penuh pada tenaga kerja manual. Di Subak Jaka, Desa Kukuh, Kecamatan Marga, kelompok petani menguji drone penyemprot padi untuk pemupukan tanaman padi organik dengan memanfaatkan pupuk cair Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR). Terobosan teknologi pemupukan drone ini menurunkan pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu jam menjadi hanya hitungan menit, sebuah lompatan efisiensi yang tidak mungkin dicapai oleh sprayer manual konvensional. Namun di balik kinerja yang mengesankan, muncul pertanyaan penting: apakah teknologi hemat waktu ini juga akan hemat biaya dan mudah diadopsi oleh petani kecil?

Uji Coba di Subak Jaka: Dari Dua Jam Menjadi Hitungan Menit

Pengalaman Subak Jaka menjadi gambaran paling konkret tentang bagaimana efisiensi penyemprotan tanaman berubah ketika drone mulai turun ke sawah. Uji coba pemupukan dilakukan di lahan padi organik seluas 35 are dengan teknologi pemupukan drone yang menyemprot pupuk cair PGPR secara merata. Menurut pekaseh Ir I Wayan Yusa, perabukan konvensional dengan sprayer manual atau mesin membutuhkan sekitar dua jam untuk menghabiskan satu tangki 14 liter di lahan 35 are, sedangkan drone menyelesaikan pekerjaan yang sama hanya dalam hitungan menit. “Terobosan teknologi digital ini terbukti meningkatkan efisiensi pemeliharaan sawah dari jam menjadi hitungan menit”. Selain menghemat waktu, operator tidak lagi harus berjalan di pematang sambil memanggul tangki. Dari sisi kenyamanan kerja, sulit menyangkal bahwa drone penyemprot padi menawarkan standar baru dalam pemeliharaan lahan.

Biaya Tinggi, Operator Terbatas: Sisi Gelap Modernisasi Cepat

Meski menjanjikan efisiensi, teknologi ini datang dengan harga yang berat untuk petani kecil. Satu unit drone penyemprot padi berikut empat baterai dan tangki 15 liter dibanderol Rp 175 juta. Untuk subak yang lahan organiknya tinggal 2,7 hektar dari sebelumnya 10 hektar akibat tingginya biaya pemeliharaan, angka tersebut bukan sekadar mahal, tapi nyaris tak terjangkau. Tidak heran jika Subak Jaka harus merencanakan proposal bantuan ke pemerintah maupun pihak ketiga untuk pengadaan drone melalui kelompok tani padi organik. Di sisi lain, pengoperasian drone tidak seperti menyalakan pompa air; perlu latihan agar pesawat tidak “nabrak” dan hancur seperti kekhawatiran Yusa. Tanpa program pelatihan operator dan skema pembiayaan yang realistis, teknologi pemupukan drone berisiko hanya menjadi mainan mahal yang berputar di segelintir lahan besar.

Adopsi Drone Pertanian: Dari Jawa, Kalimantan, Sumatra ke Timur

Di luar Bali, adopsi drone pertanian bergerak lebih cepat. Perusahaan penyedia solusi drone merancang unit yang mampu menebar benih, menyemprot pupuk, hingga memetakan lahan untuk mendukung produktivitas. Business Development DJI Agriculture, Dede Supriatna, menyatakan adopsi teknologi drone terus bertumbuh, terutama untuk kegiatan tanam dan perawatan, dengan mayoritas petani di Jawa, Kalimantan, dan Sumatra sudah mengenal dan memakai drone. “Saat ini petani Jawa, Kalimantan dan Sumatra mayoritas sudah mengenal dan memakai teknologi Drone sehingga peluang ekspansi ke wilayah Timur”. Namun pertumbuhan ini tidak merata; akses informasi tetap menjadi hambatan utama, khususnya di wilayah terpencil, sehingga edukasi petani tentang manfaat drone harus terus dikejar. Menariknya, drone juga mulai dipakai untuk distribusi logistik pada pemadaman kebakaran hutan dan lahan, menandakan bahwa teknologi ini pelan-pelan menjadi bagian dari ekosistem pertanian modern yang lebih luas.

Modernisasi Pertanian Butuh Desain Kebijakan, Bukan Sekadar Drone

Uji coba di Subak Jaka menegaskan satu hal: drone penyemprot padi bukan gimmick, melainkan alat yang secara nyata mengubah cara petani bekerja di sawah organik mereka. Dalam konteks program pertanian modern yang mendorong efisiensi dan produktivitas, teknologi ini selaras dengan arah kebijakan yang ingin mengurangi kerja berat manual dan meningkatkan hasil. Namun efisiensi tanpa keadilan akses hanya akan memperlebar jurang antara petani bermodal besar dan kelompok kecil. Hambatan biaya investasi, keterbatasan pelatihan operator, dan minimnya dukungan produsen pada model pembiayaan kolektif adalah tiga batu sandungan utama adopsi drone pertanian. Di Subak Jaka, drone bahkan diharapkan bisa menarik minat generasi muda karena penyemprotan bisa dilakukan dari rumah. Agar harapan ini bukan sekadar slogan, pemerintah dan produsen perlu mendesain skema kepemilikan bersama, layanan sewa, dan pusat pelatihan di tingkat desa. Tanpa itu, drone penyemprot akan tetap efisien di brosur, tetapi sulit mengakar di lumpur sawah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!