Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

The Scandal: Ketika Konten Dewasa Menenggelamkan Cerita

The Scandal: Ketika Konten Dewasa Menenggelamkan Cerita
Minat|Drama Korea

The Scandal Netflix: Sukses Peringkat, Gagal Menjaga Fokus Cerita

The Scandal adalah drama konten dewasa ber-rating 19+ Korea di platform streaming Netflix, dibintangi Son Ye Jin, Ji Chang Wook, dan Nana, yang mengadaptasi novel klasik Prancis Les Liaisons Dangereuses ke dalam latar periode Joseon dengan banyak adegan sensual eksplisit sehingga memicu perdebatan tentang batas wajar representasi seks dalam serial 19+ di layanan streaming modern. Di atas kertas, kombinasi materi sumber legendaris dan deretan bintang papan atas seharusnya menjadi resep sukses. Faktanya, The Scandal Netflix memang langsung melesat ke peringkat pertama di Netflix Korea, menandai comeback besar Son Ye Jin sekaligus proyek berprofil tinggi bagi Ji Chang Wook dan Nana. Namun pencapaian tersebut dibayangi kritik tajam: alur dituduh lambat, karakter dinilai kurang tajam, dan yang paling keras, tudingan bahwa drama ini lebih sibuk mengejar sensasi daripada membangun konflik emosional yang layak disebut skandal.

Eksploitasi Adegan Sensual: Ketika Rating 19+ Dijadikan Daya Tarik Utama

Label rating 19+ Korea mestinya memberi ruang untuk tema dewasa yang rumit: hasrat, manipulasi, moralitas, bukan sekadar tubuh telanjang. Masalah utama The Scandal adalah persepsi bahwa drama konten dewasa ini mengganti kedalaman psikologis dengan deret adegan sensual yang agresif. Menurut laporan Kbizoom yang dikutip dalam salah satu sumber, kontroversi paling besar berpusat pada episode 5 dan 7, ketika Ji Chang Wook dan Nana tampil dalam adegan telanjang yang disebut sebagai yang paling berani sepanjang karier mereka. Beberapa penonton sampai menilai serial ini “hanya berisi adegan seks” dan bertanya, “Skandalnya apa sebenarnya? Atau skandalnya hanyalah semua adegan berani itu?”. Ketika komentar semacam ini mendominasi diskursus, jelas ada masalah: rating 19+ digunakan sebagai tameng estetik, bukan sebagai alat untuk mengupas kompleksitas hubungan berbahaya yang menjadi inti karya asli.

Alur Lambat dan Karakter Tumpul: Beban Naratif di Balik Konten Dewasa

Kritik terhadap The Scandal Netflix tidak berhenti di soal eksploitasi adegan sensual. Banyak penonton mengeluhkan alur yang lambat dan pengembangan karakter yang kurang menggigit. Padahal, materi Les Liaisons Dangereuses punya bahan kaya untuk membangun segitiga cinta penuh intrik dan permainan kuasa. Versi Netflix justru dianggap terlalu lama berputar pada pengembangan plot, sehingga penonton kehilangan kesabaran dan memilih mempercepat tayangan demi menyelesaikan delapan episode. Son Ye Jin disebut masih memerankan Lady Cho terlalu lembut, belum sepenuhnya menangkap sisi licik dan berbahaya yang diharapkan. Nana dikritik karena gestur dan gaya bicara yang terlalu modern untuk latar Joseon, sementara Ji Chang Wook dianggap kurang meyakinkan sebagai playboy legendaris yang seharusnya memancarkan daya tarik menghancurkan. Ketika karakter tidak kuat, setiap adegan intim kehilangan bobot emosional dan mudah terasa seperti penambahan yang bertujuan memancing klik.

Perdebatan Rating 19+ Korea di Platform Streaming

Kontroversi The Scandal sebetulnya membuka perbincangan yang lebih luas soal standar rating 19+ Korea di platform streaming. Pertanyaannya sederhana: apa yang membedakan drama konten dewasa yang matang dari sekadar tontonan penuh eksploitasi? The Scandal memperlihatkan betapa mudahnya rating 19+ digeser menjadi alat pemasaran—teaser berani, buzz di media sosial, rasa penasaran penonton—tanpa komitmen sepadan terhadap kedalaman tema. Sebagian penonton masih membela serial ini, menilai adegan eksplisit diperlukan untuk memperlihatkan transformasi emosional tokoh dan konflik antara keinginan personal dan norma sosial Joseon. Namun suara yang menolak lebih menyorot ketimpangan: seks ditampilkan terang-terangan, sementara konflik moral dan psikologis kurang terolah. Kasus ini mengingatkan bahwa platform streaming memerlukan pedoman yang lebih jelas: rating tinggi bukan lisensi untuk mengabaikan kualitas narasi.

Visual Indah, Reputasi Keruh: Pelajaran dari The Scandal

Ironisnya, di balik kritik keras, The Scandal tetap menyimpan keunggulan teknis yang diakui banyak penonton. Sinematografi rapi, warna lembut, set periode dan kostum yang digarap teliti, serta kehadiran Son Ye Jin, Ji Chang Wook, dan Nana yang kuat secara visual menjadikan drama ini menyenangkan untuk dipandang. Namun reputasi sebuah karya tidak ditentukan oleh kejernihan gambar, melainkan oleh keputusan kreatif tentang apa yang ingin disampaikan. Ketika adegan sensual menjadi pusat pembicaraan, bukan konflik batin atau permainan intrik, reputasi drama berlabel 19+ mudah terseret ke citra eksploitasi. Pelajarannya jelas: rating tinggi dan kebebasan platform streaming harus dipakai untuk memperkaya cerita, bukan mengalihkan fokus dari cerita. Jika karya adaptasi besar berikutnya ingin bertahan lebih lama dari hype awal, pencipta perlu berani menahan godaan menjual skandal lewat tubuh, dan kembali ke skandal yang sesungguhnya: pertarungan moral yang membuat penonton gelisah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!