Ringkasan Utama: Flagship yang Dibangun di Atas Tiga Pilar
Huawei Mate 90 Pro adalah smartphone flagship yang menggabungkan prosesor Kirin 9035, kamera utama dengan aperture variabel F1.4-F4.0 berbasis teknologi XMAGE, layar OLED tandem 6,75 inci dengan kecerahan hingga 12.000 nits, baterai 6.600 mAh, serta sistem operasi HarmonyOS 7 yang berfokus pada integrasi AI untuk memberikan pengalaman premium menyeluruh bagi pengguna harian.
Inti keunggulan Huawei Mate 90 Pro ada pada tiga pilar: performa, kamera, dan daya tahan. Huawei resmi meluncurkan perangkat ini di Tiongkok, diperkenalkan bersamaan dengan jajaran Mate 90 lainnya pada 1 Oktober 2026. Dengan harga mulai sekitar Rp18,7 jutaan untuk konfigurasi 12GB/256GB, jelas ini bukan ponsel yang menyasar semua orang, melainkan pengguna yang mencari paket teknologi penuh dan siap membayar mahal untuk itu. Menariknya, Huawei belum mengumumkan jadwal pemasaran global, sehingga saat ini Mate 90 Pro masih terasa seperti “mainan baru” khusus pasar awal.

Kirin 9035: Performa Flagship yang Ramah Daya
Huawei menempatkan Kirin 9035 sebagai otak utama Mate 90 Pro, dan inilah faktor penentu apakah ponsel ini layak disebut flagship. Kirin 9035 merupakan penerus Kirin 9030 dan diposisikan di bawah Kirin 9050 pada Mate 90 Pro Max. Peningkatan yang diklaim tidak kecil: CPU naik 11 persen, GPU 10 persen, dan NPU hingga 51 persen dibanding Kirin 9030. Salah satu pernyataan yang paling mudah dikutip adalah ini: “Pengujian internal menunjukkan peningkatan performa keseluruhan sekitar 10 persen antara HarmonyOS 7 dan HarmonyOS 6 pada perangkat serupa.”
Secara praktis, apa artinya untuk pengguna? Multitasking berat, game dengan grafis tinggi, hingga aplikasi AI seharusnya berjalan lebih halus. Dukungan hardware-level ray tracing dengan kemampuan memproses hingga 31 juta ray per detik memberi sinyal bahwa Huawei serius menggarap gaming dan grafis kelas konsol di perangkat genggam, meski saat ini terbatas pada adegan tertentu saja. Kombinasi Kirin 9035 dan HarmonyOS 7 menunjukkan strategi Huawei: bukan sekadar mengejar angka benchmark, tapi mengoptimalkan ekosistem chipset–OS–AI agar respons terasa cepat sekaligus lebih efisien energi.

Layar 12.000 Nits: Terang, Tapi Perlukah Seterang Itu?
Mate 90 Pro membawa layar 6,75 inci dengan panel dual-layer OLED alias tandem OLED yang Huawei sebut sebagai Linglong generasi kedua. Klaim paling mencolok adalah peak brightness 12.000 nits pada APL 1%, meningkat dari 8.000 nits pada generasi sebelumnya. Angka ini bukan sekadar “lebih terang dari rata-rata”, tapi sudah mendekati batas di mana mata manusia mungkin tidak lagi membedakan perbedaan di bawah matahari terik.
Untuk pengguna, dampaknya jelas: visibilitas outdoor harusnya sangat baik, bahkan saat memotret atau menonton video di bawah sinar matahari langsung. Panel ini dipadukan dengan chip display Zhuque dan penyesuaian AI pada tingkat piksel untuk menjaga keseragaman tampilan, termasuk peningkatan yang diklaim mencapai 138 persen pada masa pakai layar dan 30 persen pada keseragaman. Namun semua persentase ini masih klaim perusahaan, bukan hasil pengujian independen. Kesan saya, layar Mate 90 Pro lebih merupakan pernyataan teknologi: Huawei ingin menunjukkan bahwa mereka masih mampu menekan batas teknis, bahkan jika sebagian pengguna tidak akan memanfaatkan 12.000 nits setiap hari.

Kamera Aperture Variabel dan XMAGE: Fotografi Serius di Saku
Di sektor kamera, Huawei tidak sekadar menempelkan angka megapiksel besar. Mate 90 Pro membawa tiga kamera belakang: kamera utama 50MP, telefoto 50MP, dan ultrawide 40MP. Kamera utama memakai sensor RYYB dengan OIS dan aperture variabel F1.4 hingga F4.0, didukung sistem pencitraan XMAGE. Aperture variabel ini bukan gimmick; di F1.4, efek bokeh lebih kuat dan cahaya lebih banyak masuk, berguna untuk low-light atau portrait dramatis, sementara F4.0 memberi area fokus lebih luas, cocok untuk foto grup atau pemandangan.
Teknologi XMAGE di sisi perangkat lunak berusaha menghadirkan karakter foto khas Huawei: detail tinggi, warna kaya, dan dynamic range lebar. Ada lapisan AI yang membuat kamera terasa “pintar”: dalam mode foto dan potret, perangkat dapat menyarankan satu dari 13 pose untuk foto grup dan satu dari 14 tata letak komposisi pada rentang zoom 4x. Bagi pengguna biasa, ini membantu menghasilkan foto yang tampak profesional tanpa perlu banyak belajar fotografi. Bagi pengguna serius, fleksibilitas aperture dan lensanya membuat Mate 90 Pro bisa diperlakukan seperti kamera kompak canggih yang kebetulan punya fungsi telepon.
Baterai 6.600 mAh dan HarmonyOS 7: Daya Tahan dan Ekosistem
Baterai 6.600 mAh menjadi fondasi penting yang membuat semua fitur berat tadi tetap realistis untuk penggunaan harian. Huawei mengklaim Mate 90 Pro mampu digunakan untuk pemutaran video hingga 41 jam berdasarkan pengujian internal. Ada juga outdoor exploration mode yang diklaim mampu memperpanjang daya tahan hingga 15 hari ketika difokuskan pada pesan satelit dan pelacakan. Dengan layar terang, prosesor kencang, dan fitur AI yang aktif, kapasitas sebesar ini tampak seperti keputusan yang sangat rasional.
Di sisi perangkat lunak, Mate 90 Pro menjalankan HarmonyOS 7 sejak awal. Fokusnya jelas: ekosistem terintegrasi di mana Kirin 9035 dan AI bekerja selaras dengan sistem. Ini bukan hanya soal animasi halus, tetapi juga pengelolaan daya dan tugas yang lebih cerdas. Sejumlah fitur AI tambahan akan hadir lewat pembaruan HOTA pada tahap berikutnya, menunjukkan bahwa pengalaman pengguna masih akan berkembang setelah pembelian. Namun sampai sekarang, Huawei belum mengumumkan harga maupun ketersediaan untuk pasar internasional, sehingga banyak calon pengguna di luar pasar awal harus bersabar dan mungkin mempertimbangkan alternatif lain yang sudah resmi tersedia.






