Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Erupsi Anak Krakatau, Penerbangan Lumpuh dan Traveler Terdampar

Erupsi Anak Krakatau, Penerbangan Lumpuh dan Traveler Terdampar
Minat|Destinasi Luar Negeri

Abu Krakatau yang Mengubah Langit Jadi Terminal Darurat

Erupsi Anak Krakatau terhadap dunia penerbangan adalah situasi ketika sebaran abu vulkanik memaksa penutupan bandara, pembatalan massal penerbangan, dan mengubah ratusan ribu penumpang menjadi “pengungsi transportasi” yang terjebak di bandara, hotel, bahkan kota-kota transit jauh dari rumah mereka. Inilah yang terjadi: erupsi Krakatau melumpuhkan sekitar 2.300 penerbangan dan berdampak pada lebih dari 270.000 penumpang. Penutupan delapan bandara utama memicu gelombang pembatalan penerbangan Jakarta dan kota lain, memaksa penumpang beralih ke rute alternatif darat yang memakan belasan hingga puluhan jam. Dalam kekacauan ini, abu bukan sekadar fenomena alam; ia berubah menjadi faktor yang menguji daya tahan mental, finansial, dan kemampuan improvisasi para traveler terdampar eruption di berbagai titik peta.

Dari Doha ke Swiss: Saat Langit Menolak Didatangi

Dampak erupsi Krakatau pada penerbangan terasa bahkan ribuan kilometer dari sumber abu. Raditya Dika, misalnya, sudah terbang sekitar empat jam dari Doha ketika pesawatnya diminta putar balik ke bandara asal. Setibanya di darat, ia langsung berburu opsi: mencari penerbangan berikutnya, mempertimbangkan rute lewat negara lain, sampai akhirnya menyadari bahwa jadwal yang ada tak akan mengizinkannya tiba tepat waktu di Jakarta untuk acara yang sudah dijanjikan. Di Eropa, Katon Bagaskara lebih dulu merasakan status traveler terdampar eruption di Bandara Jenewa, Swiss. Dengan bantuan perwakilan diplomatik, ia akhirnya mendapat rute memutar: Jenewa–Abu Dhabi–Denpasar, lalu menunggu Bandara Soekarno–Hatta kembali dibuka untuk bisa melanjutkan ke Jakarta. Dua kisah publik figur ini memperlihatkan satu kenyataan pahit: status “priority” di boarding pass tidak berdaya melawan NOTAM penutupan bandara.

Erupsi Anak Krakatau, Penerbangan Lumpuh dan Traveler Terdampar

Liburan yang Molor dan Tagihan Hotel yang Ikut Meledak

Di level wisatawan biasa, kerugiannya mungkin tidak viral, tetapi lebih terasa di dompet. Di Lombok, Dea dan rombongan dari Jakarta yang seharusnya terbang ke Soekarno–Hatta terpaksa menerima penundaan hingga dua hari setelah erupsi Anak Krakatau mengganggu rute Lombok–Jakarta. Mereka sudah keluar dari Gili Air, singgah beli oleh-oleh, lalu baru menerima kabar bahwa penerbangan diundur sampai tanggal 8 dan harus memperpanjang menginap dengan biaya sendiri. Kasus serupa menimpa Dita dan dua temannya, yang juga terjebak di Lombok dan gagal pulang sesuai jadwal, membuatnya absen dari sebuah acara penganugerahan penting di Jakarta, meski diizinkan mengirim perwakilan. Maskapai memberi reschedule gratis dan refund penuh, tetapi kompensasi itu tidak mencakup biaya non‑ticket seperti hotel, makan, dan transport lokal yang tiba-tiba membengkak.

Erupsi Anak Krakatau, Penerbangan Lumpuh dan Traveler Terdampar

Dari Parkiran Bandara ke Jalan Raya: Maraton Jalur Darat

Ketika pembatalan penerbangan Jakarta berlangsung serentak, bandara berubah jadi ruang tunggu tanpa kepastian. Amelia Devina, warga Bogor yang sudah bersiap liburan ke Bali, datang ke Soekarno–Hatta pukul 04.00 hanya untuk mendapati semua jadwal di layar keberangkatan berstatus cancel akibat erupsi Anak Krakatau. Ia lalu mencoba peruntungan dengan naik taksi online ke Bandara Halim, namun di sana pun penerbangan ditutup hingga siang hari dan mereka terdampar di parkiran dengan koper-koper liburan yang tak jadi terbang. Di sisi lain jaringan transportasi, statistik resmi menyebutkan: “Erupsi Gunung Anak Krakatau melumpuhkan 2.300 penerbangan dan berdampak pada 270.000 penumpang.” Banyak di antara mereka beralih ke rute alternatif darat, menempuh perjalanan belasan hingga puluhan jam, termasuk kombinasi bus, kapal, dan kereta api demi mencapai tujuan.

Yogyakarta, Bali, dan 27 Jam Perjalanan Pulang yang Melelahkan

Ketika langit tak bisa dilalui, peta wisata mendadak berubah. Seorang komika Malaysia, Jason Leong, menjadi contoh ekstrem: penerbangannya dari Soekarno–Hatta ke Selangor dibatalkan, rencana pindah ke Bandung dan Surabaya pun ia coret karena keterbatasan rute dan pertimbangan aktivitas vulkanik lain. Ia memilih naik kereta enam jam ke Yogyakarta untuk mengejar jadwal terbang ke Kuala Lumpur dari sana. Di rute lain, seorang travel influencer bernama Achmad yang harusnya menikmati penerbangan dua jam Bali–Jakarta malah menempuh odisea darat-laut 27 jam: menyeberang dari Gilimanuk ke Ketapang, lalu berpindah-pindah kereta di Jawa Timur karena tiket kereta langsung ke Jakarta habis. Presenter Ayu Dewi pun tak luput; alih-alih mendarat di Jakarta, ia harus dialihkan dulu ke Bali dan kemudian mencari cara kembali lewat jalur darat ketika penerbangan ke Jakarta belum dibuka. Di tengah semua ini, sebagian penumpang lain memilih menunggu bandara kembali beroperasi, berjudi dengan waktu dan biaya hidup di kota transit.

Erupsi Anak Krakatau, Penerbangan Lumpuh dan Traveler Terdampar

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!