Revitalisasi Kolaborasi: Dari Seremoni ke Peluang Nyata
Program pertukaran mahasiswa Jepang dan riset bersama antara Universitas Brawijaya dan Kyoto University adalah inisiatif kolaborasi akademik internasional yang menghubungkan mahasiswa, dosen, serta laboratorium riset kedua kampus untuk memperkuat keahlian infrastruktur, perencanaan kota, dan ketahanan bencana melalui pembelajaran lintas negara dalam bentuk kuliah tamu, kunjungan akademik, hingga penelitian bersama yang berujung pada publikasi ilmiah. Dalam beberapa tahun terakhir, kerja sama UB–Kyoto sempat meredup, tetapi kini Fakultas Teknik UB memilih menghidupkannya kembali sebagai strategi naik kelas, bukan sekadar menjaga gengsi internasional. Langkah ini jelas bernuansa politis secara akademik: kampus menegaskan bahwa tanpa jejaring global, sulit mengejar standar riset dan pengajaran yang diakui dunia.
Departemen Teknik Sipil FT UB memperluas jejaring internasional melalui Program Dosen Berkarya (DOKAR) 2026, antara lain lewat kunjungan ke Kyoto University dan Nagoya University pada 27–28 Agustus 2026. Di jalur paralel, Departemen PWK memilih memulai dengan kuliah tamu bertajuk “Sustainable and Inclusive City: Integrating Infrastructure, Walkability, and Mobility Management” di kampus FT UB, yang menjadi titik balik pengaktifan kembali kemitraan komprehensif dengan universitas di Kyoto tersebut. Dua pendekatan ini—kunjungan riset dan forum akademik—menunjukkan bahwa UB tidak ingin berhenti di penandatanganan MoU, tetapi menggerakkan kolaborasi dari laboratorium dan ruang kelas.

Infrastruktur Tangguh dan Kota Inklusif: Arah Baru Agenda Riset
Fokus utama kolaborasi baru ini tajam: ketahanan infrastruktur dan desain kota yang inklusif serta berkelanjutan. Melalui skema Joint Research and Publication (JRP) bertema “Enhancing Infrastructure Resilience through International Research Collaboration between Universitas Brawijaya, Kyoto University, and Nagoya University”, tim Teknik Sipil UB menempatkan isu infrastruktur tahan bencana sebagai prioritas riset bersama. Ini adalah pilihan yang logis: tanpa fondasi fisik yang kuat, konsep kota ramah pejalan kaki dan transportasi berkelanjutan hanya akan menjadi jargon di atas kertas.
Di sisi perencanaan kota, kuliah tamu yang menghadirkan Prof Kakuya Matsushima dari Disaster Prevention Research Institute Kyoto University menekankan integrasi infrastruktur, walkability, dan manajemen mobilitas terpadu sebagai respons atas pertumbuhan penduduk urban. Di sini terlihat jelas bahwa konsep kota inklusif tidak bisa dipisahkan dari pengembangan infrastruktur berkelanjutan. Riset bukan lagi sekadar menghitung beban jembatan atau kapasitas jalan, tetapi menimbang siapa yang diuntungkan, siapa yang terpinggirkan, dan bagaimana kota dapat diakses semua kelompok. Jika diterjemahkan serius, kolaborasi ini berpotensi mengubah cara kampus mengajarkan perencanaan dan teknik sipil: dari sekadar teknis menjadi lebih sosial dan manusiawi.
Program DOKAR dan Laboratorium Jepang: Kelas Lapangan untuk Akademisi
Program Dosen Berkarya 2026 dipakai Departemen Teknik Sipil UB sebagai pintu masuk memperkuat kolaborasi riset infrastruktur dengan universitas di Jepang. Rombongan dosen mengunjungi departemen Urban and Social Engineering di Kyoto University dan disambut oleh Prof Yutaka Ichikawa bersama sejumlah staf pengajar; pertemuan ini diisi pemaparan profil, riset berjalan, dan pembahasan peluang joint research dan publikasi bersama. Secara strategis, UB mengirim tim yang kuat—dengan beberapa doktor dan insinyur profesional—untuk membangun hubungan sejajar, bukan sebagai murid permanen universitas di Kyoto.
Kunjungan ke laboratorium struktur dan geoteknik di Kyoto membuka akses pada fasilitas eksperimen yang selama ini sulit ditemui di dalam negeri. Di Nagoya University, tim juga meninjau laboratorium beton, keairan, geoteknik, baja, serta fasilitas N2U Bridge yang menggunakan komponen jembatan aktual untuk mempelajari kerusakan struktur dan pemeliharaan infrastruktur. Mereka juga memasuki Disaster Mitigation Research Building dengan struktur tahan gempa, pembangkit listrik mandiri, panel surya, dan sistem pemantauan gerakan tanah. Kutipan kunci dari Ketua Departemen Teknik Sipil, Ir. Eko Andi Suryo, menegaskan arah program ini: kolaborasi internasional penting untuk mempertemukan kompetensi akademisi dan menghasilkan riset yang memberi kontribusi nyata bagi infrastruktur yang tangguh.
Pertukaran Mahasiswa: Dari Deklarasi ke Jalur Karier Global
Revitalisasi kerja sama dengan universitas di Kyoto tidak berhenti di tingkat dosen. Ketua Departemen PWK FT UB, I Nyoman Suluh Wijaya, menegaskan harapan akan berlanjutnya research collaboration, teaching collaboration, dan exchange student dua arah, baik dari UB ke Kyoto maupun sebaliknya. FT UB dan Kyoto University juga bertekad menjaga keberlanjutan sinergi melalui kesepakatan teknis, pertukaran dosen tamu, kolaborasi publikasi jurnal internasional, dan skema pertukaran mahasiswa secara berkala. Di sinilah program pertukaran mahasiswa Jepang menjadi lebih dari sekadar pengalaman budaya: ia berubah menjadi batu loncatan karier akademik dan profesional.
Departemen PWK menyatakan bahwa kerja sama tidak boleh berhenti pada staf pengajar, tetapi harus memberi dampak langsung bagi mahasiswa. Interaksi intensif dengan sivitas akademika Kyoto University dipandang sebagai cara memperkaya perspektif global dan memperluas jejaring profesional sejak dini. Bagi mahasiswa yang mampu memanfaatkan peluang ini, kuliah singkat, proyek studio, atau magang riset di universitas di Kyoto bisa menjadi portofolio kuat saat melamar studi lanjut atau posisi di lembaga internasional. Namun peluang itu tidak otomatis inklusif: kampus perlu memastikan informasi, seleksi, dan dukungan akademik disusun transparan agar tidak hanya dinikmati kelompok kecil yang sudah “punya akses”.
Menuju Kota Berkelanjutan dan SDGs: Tugas Rumah Bagi Kampus
Upaya menghidupkan kembali kolaborasi UB–Kyoto sejatinya adalah strategi menata ulang peta internasionalisasi kampus, setelah arus mahasiswa asing di PWK lebih banyak datang dari Eropa. Dengan menggandeng lagi institusi ternama di Jepang, UB berusaha menyeimbangkan jejaring ke Asia Timur, sekaligus menancapkan diri dalam diskursus global tentang kota berkelanjutan. Materi kuliah Prof Matsushima tentang walkability, integrasi infrastruktur, dan manajemen mobilitas menunjukkan bahwa kerja sama ini selaras dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4, 11, dan 17.
Namun agar kolaborasi akademik internasional benar-benar berkontribusi pada kota yang lebih adil, kampus harus menghindari jebakan seremoni dan ranking. Tantangannya: menyerap pengetahuan dari Kyoto University, mengadaptasi ke konteks lokal yang penuh ketimpangan, lalu mengajarkannya kembali kepada mahasiswa dengan peka. Jalan ke depan sudah tergambar: riset infrastruktur tahan bencana, konsep kota inklusif, dan program pertukaran mahasiswa Jepang yang rutin. Tugas rumah UB adalah mengubah semua itu menjadi kebijakan akademik yang konsisten, kurikulum yang diperbarui, dan proyek nyata di lapangan—bukan sekadar foto bersama dan berita singkat di situs kampus.






