Ketika Limbah Teknologi Menjadi Bahasa Baru Seni Instalasi
Seni instalasi daur ulang adalah praktik seni yang menggunakan limbah teknologi, sisa produksi industri, dan material bekas sebagai medium utama untuk membangun instalasi ruang, sekaligus mengirimkan komentar kritis tentang hubungan manusia dengan alam, teknologi, dan konsumsi, sehingga galeri seni berubah dari ruang kontemplasi estetika menjadi laboratorium gagasan desain berkelanjutan yang menantang cara kita memaknai sampah dan infrastruktur. Di Art Jakarta 2026, pendekatan ini tidak lagi berada di pinggiran; ia maju ke tengah panggung lewat kolaborasi lintas industri yang berani. TACO berpartner dengan Palette Studio untuk menghadirkan The Curiosity Engine dari sisa material produksi interior, sementara iForte dan Protelindo Group menghadirkan "Hutan Kabel (Wood Wide Web)" yang memanfaatkan limbah telekomunikasi. Keduanya menegaskan: limbah teknologi seni bukan gimmick, melainkan posisi politik visual.
The Curiosity Engine: Zero Waste Sebagai Sikap Estetika
The Curiosity Engine adalah argumen visual bahwa sisa material layak diperlakukan sebagai medium utama, bukan sekadar problem logistik. Memasuki tahun keenam keterlibatannya di Art Jakarta, TACO menggandeng Palette Studio untuk menyalurkan semangat Explore New Horizons lewat karya ini. Potongan TACO PVC sheet, drawer slide, PVC board, dan sisa HPL disusun menjadi mesin imajiner yang mengagitasi rasa ingin tahu. Elemen lingkaran di bagian atas, terinspirasi mata, kompas, dan matahari, mengisyaratkan siklus baru: material yang dianggap selesai hidup dipaksa memulai peran baru. Komitmen zero waste TACO eksplisit; Anastasia Tirtabudi menegaskan mereka sengaja menggunakan material tersisa untuk menunjukkan bahwa sisa produksi memiliki nilai dan peran baru. Kutipan ini penting karena menggeser wacana dari "pengelolaan sampah" ke "desain berkelanjutan Indonesia" sebagai keputusan kreatif. Galeri pun berubah, bukan lagi ruang material mulus, tetapi ruang jejak industri yang diolah.
Hutan Kabel: Ekologi, Fiber Optik, dan Jaringan Tak Kasat Mata
Di sisi lain, "Hutan Kabel (Wood Wide Web)" karya Agnes Hansella mengusulkan narasi ekologi yang merangkul teknologi, bukan menolaknya. Instalasi ini memanfaatkan kabel, limbah telekomunikasi, komponen FTTT rack yang dipensiunkan, hingga perangkat satellite dish yang sudah tidak terpakai. Jaringan fiber optic yang bercabang disandingkan dengan konsep Wood Wide Web: jaringan mikoriza yang menghubungkan pepohonan di bawah tanah. Pengamatan Agnes terhadap pohon Ficus di Kalimantan Tengah melahirkan metafora kuat: struktur jaringan buatan manusia ternyata meniru pola yang telah lama bekerja di alam. Sensor yang merespons gerak pengunjung dan mengaktifkan serat optik secara real time menghadirkan pengalaman tubuh, bukan sekadar tontonan. Menurut Ignatius Krishnaya Santoso, konektivitas yang sehari-hari mereka bangun untuk lebih dari 35.000 menara dan 170.000 km kabel fiber optic kini dibaca ulang sebagai jembatan antara teknologi, alam, dan budaya. Ini bukan dekorasi; ini kritik lembut terhadap cara kita membangun infrastruktur tanpa memikirkan ekologi naratifnya.
Material Bekas Menggugat Standar Estetika Galeri
Yang paling mengganggu—dan sekaligus menyegarkan—dari gelombang seni instalasi daur ulang ini adalah bagaimana ia merusak standar material galeri. Sisa PVC, HPL, dan komponen interior TACO yang biasanya berakhir sebagai limbah kini menjadi struktur utama karya, bukan aksesoris. Di "Hutan Kabel", kabel tua, rack pensiun, dan perangkat satelit usang disusun sebagai lanskap yang mengundang kontemplasi. Ketika material yang akrab kita temui di plafon kantor atau menara telekomunikasi dipindahkan ke ruang seni, definisi "bahan mulia" runtuh. Galeri tidak lagi identik dengan kanvas dan patung marmer; ia menjadi ruang infrastruktur yang dibongkar dan dirakit ulang. Sikap ini sejalan dengan gagasan desain berkelanjutan Indonesia yang melihat material sebagai entitas berumur panjang, dengan berbagai kemungkinan peran. Ia juga memaksa penonton untuk menatap kabel dan panel bukan sebagai latar belakang anonim, tetapi sebagai aktor utama dalam percakapan tentang konsumsi, produksi, dan tanggung jawab.
Kolaborasi Lintas Industri: Dari Interior dan Telekomunikasi ke Ekologi Seni
Kolaborasi TACO dan Palette Studio, serta iForte dan Protelindo Group, menunjukkan bahwa limbah teknologi seni lahir ketika industri bersedia merelakan citra sterilnya. TACO menyebut kerja sama dengan seniman sebagai cara memperluas peran material dalam ekosistem seni dan industri kreatif. Di luar Art Jakarta, mereka mengulang pendekatan ini lewat program mural yang menggunakan HPL sebagai medium, menegaskan bahwa material interior bisa menjadi kanvas ekspresi visual. iForte dan Protelindo Group memposisikan partisipasi mereka sebagai upaya mempertemukan teknologi dan budaya melalui kolaborasi kreatif. Ketika perusahaan dengan kapitalisasi pasar Rp60 triliun dan jaringan ribuan menara membuka infrastrukturnya untuk diurai menjadi instalasi, pesan yang muncul jelas: desain berkelanjutan bukan domain seniman saja, melainkan tanggung jawab bersama. Art Jakarta, dalam konteks ini, berfungsi sebagai laboratorium pertemuan: antara kabel dan akar, antara panel PVC dan daun imajiner, antara kebijakan korporasi dan imajinasi publik. Di akhir hari, pameran seni tidak lagi soal karya yang "indah", melainkan tentang sistem yang berani dikritik dari dalam.






