Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari ASEAN Cup ke Piala Dunia: Roadmap Jadi Tuan Rumah FIFA

Dari ASEAN Cup ke Piala Dunia: Roadmap Jadi Tuan Rumah FIFA
Minat|Asia Tenggara

Momentum ASEAN Cup dan Sinyal Politik dari FIFA

Roadmap menuju Piala Dunia FIFA Indonesia adalah rencana jangka panjang untuk mengubah kesuksesan sebagai tuan rumah turnamen internasional menjadi fondasi permanen: membangun ekosistem sepak bola dari sekolah, menata infrastruktur stadion sepak bola, dan memenuhi standar penyelenggaraan event FIFA, dengan FIFA ASEAN Cup 2026 sebagai batu loncatan utama. Presiden FIFA Gianni Infantino memuji penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup 2026 dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta pada Senin 5 Oktober 2026. Pujian soal atmosfer pertandingan dan antusiasme penonton—“penonton datang ke stadion, pertandingan sangat, sangat menarik”—bukan sekadar basa-basi; ini adalah sinyal politik bahwa pintu Piala Dunia FIFA Indonesia mulai terbuka. Namun, euforia tidak boleh menipu: kesuksesan satu turnamen adalah ujian awal, bukan tiket otomatis menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Infantino menyebut FIFA ASEAN Cup sebagai “kesuksesan besar bagi seluruh kawasan ASEAN” dan menilai tuan rumah mampu mengelola tim-tim terbaik kawasan dengan baik. Pada saat yang sama, ia menegaskan bahwa ASEAN Cup hanyalah awal dari “banyak ajang lainnya” yang bisa digelar. Di balik pujian itu, ada pesan tersirat: jika ingin Piala Dunia FIFA Indonesia menjadi kenyataan, negara ini harus bisa menjadikan standar ASEAN Cup sebagai baseline, lalu naik satu tingkat lagi di bidang tata kelola, keamanan event olahraga, dan kesiapan ekosistem regional. Dengan kata lain, ASEAN Cup bukan puncak, melainkan pemanasan sebelum pertarungan sesungguhnya.

Dari ASEAN Cup ke Piala Dunia: Roadmap Jadi Tuan Rumah FIFA

Ekosistem dari Sekolah: Syarat yang Sering Diabaikan

Hal paling menarik dari pernyataan Infantino bukan daftar stadion atau hitung-hitungan kapasitas, melainkan penekanan pada sepak bola sekolah. Ia menyebut penguatan sepak bola sekolah sebagai bagian penting jika suatu negara ingin menjadi tuan rumah turnamen utama FIFA, termasuk Piala Dunia. “Kita perlu berbuat lebih banyak di sekolah, di sepak bola sekolah. Dan inilah rencananya,” kata Infantino. Ini adalah teguran halus: mimpi Piala Dunia FIFA Indonesia tidak mungkin tercapai jika fondasinya, yaitu pembinaan usia muda di sekolah, masih rapuh. Obsesinya jangan berhenti di seremonial tuan rumah turnamen internasional; yang harus dibenahi adalah jalur produksi pemain dan kultur sepak bola di level akar rumput.

Penonton yang penuh stadion saat FIFA ASEAN Cup 2026 menunjukkan gairah publik terhadap sepak bola. Tetapi tanpa basis pemain yang muncul dari sistem sekolah, antusiasme itu akan berhenti di tribun. Roadmap Piala Dunia menuntut perubahan cara pandang: federasi, pemerintah, dan klub harus melihat sekolah bukan sekadar tempat talent scouting sesekali, tetapi ruang pendidikan sepak bola yang terintegrasi dengan kurikulum, pelatih tersertifikasi, dan kompetisi berjenjang. Jika sepak bola sekolah tetap diperlakukan sebagai kegiatan ekstrakurikuler yang musiman, mimpi Piala Dunia FIFA Indonesia akan selalu bergantung pada goodwill FIFA, bukan pada kekuatan ekosistem sendiri.

Infrastruktur Stadion: Dari Tempat Main Menjadi Aset Bisnis

Di level infrastruktur stadion sepak bola, Infantino bicara lugas: klub harus mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan stadion. Ia menegaskan bahwa klub tidak boleh berhenti sebagai pengguna fasilitas, tetapi harus mengoperasikan dan mengelola stadion sehingga menghasilkan pendapatan yang bisa diinvestasikan kembali. Ini poin krusial bagi ambisi Piala Dunia FIFA Indonesia. FIFA tidak sedang mencari negara dengan stadion banyak tetapi mati suri di luar hari pertandingan. Mereka mencari ekosistem di mana stadion adalah aset hidup: terawat, berfungsi, dan menjadi pusat ekonomi lokal. Mengandalkan anggaran publik tanpa model bisnis yang sehat akan membuat infrastruktur cepat usang dan sulit memenuhi standar FIFA untuk tuan rumah turnamen internasional.

Intinya, pengelolaan stadion harus berpindah dari pola birokratis ke pola korporat yang akuntabel. Klub didorong “mengelola stadion, mengoperasikan stadion, untuk menghasilkan lebih banyak pendapatan sehingga mereka dapat berinvestasi lebih banyak.” Tanpa ini, stadion akan tetap menjadi beban, bukan mesin pertumbuhan. Roadmap menuju Piala Dunia menuntut reformasi: kontrak pengelolaan yang jelas, model bisnis yang realistis, dan pemanfaatan stadion sebagai ruang multifungsi, bukan sekadar arena pertandingan. ASEAN Cup sudah membuktikan bahwa stadion bisa penuh dan atmosfer kompetitif. Langkah berikutnya adalah memastikan stadion tetap berstandar tinggi setiap hari, bukan hanya saat FIFA datang berkunjung.

Kerja Sama Kawasan dan Prospek Turnamen FIFA Lain

Infantino menegaskan bahwa pengembangan sepak bola tidak bisa berhenti di satu negara saja; perlu kerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk meningkatkan kualitas kawasan. Ia mengingatkan, “tidak akan membantu jika Anda bagus di satu negara tetapi negara tetangga tidak. Jadi harus ada kerja sama tim bersama di antara semua orang.” Bagi ambisi Piala Dunia FIFA Indonesia, ini pesan keras: status sebagai tuan rumah turnamen internasional besar hanya akan kuat jika didukung ekosistem regional yang juga maju. FIFA ASEAN Cup 2026 yang disebut Infantino sebagai kesuksesan besar bagi seluruh kawasan menjadi bukti bahwa format regional bisa menaikkan standar bersama, bukan hanya menguntungkan satu negara.

Dari sisi prospek, Infantino menyebut peluang menjadi tuan rumah berbagai agenda FIFA “terbuka lebar”. Ia merinci opsi: negara ini sudah punya Piala Dunia U-17 dan FIFA ASEAN Cup, lalu bisa mempertimbangkan Piala Dunia U-20 dan kompetisi sepak bola wanita, hingga Piala Dunia sendiri. Dengan kata lain, Piala Dunia FIFA Indonesia bukan lompatan tunggal, melainkan ujung rangkaian turnamen yang semakin besar skalanya. ASEAN Cup 2026 menjadi momentum untuk menunjukkan kapabilitas mengelola event internasional berskala besar dan membangun reputasi jangka panjang. Tantangannya sekarang adalah konsisten: menyusun jadwal turnamen berjenjang, memperkuat kerja sama regional, dan menjadikan setiap event FIFA berikutnya sebagai langkah terukur menuju mimpi terbesar.

Dari Euforia ke Roadmap Nyata

Kesimpulannya, pintu Piala Dunia sudah dibuka oleh FIFA, tetapi belum ada yang menjamin akan tetap terbuka. Pujian Infantino terhadap penyelenggaraan FIFA ASEAN Cup, atmosfer stadion, dan antusiasme penonton menunjukkan bahwa standar dasar untuk menjadi tuan rumah turnamen internasional mulai terpenuhi. Namun, syarat yang ia tekankan—sepak bola sekolah dan pengelolaan stadion—mengungkap bahwa pekerjaan rumah terbesar justru ada di sisi yang jarang masuk pemberitaan. Roadmap Piala Dunia FIFA Indonesia harus berani berpindah dari pendekatan seremonial ke pendekatan struktural: membangun ekosistem pemain sejak sekolah, menata tata kelola klub dan stadion, serta memperkuat kerja sama kawasan ASEAN sebagai satu paket.

Jika langkah-langkah itu dikerjakan, Piala Dunia bukan sekadar mimpi politis, tetapi konsekuensi logis dari ekosistem yang matang. Jika tidak, ASEAN Cup 2026 akan dikenang sebagai puncak sesaat, bukan awal dari banyak ajang lainnya. Pilihannya jelas: menjadikan euforia sebagai energi untuk reformasi, atau membiarkannya hilang tanpa roadmap. FIFA sudah memberi komitmen bahwa banyak turnamen—U-17, FIFA ASEAN, U-20, kompetisi wanita, hingga Piala Dunia—“semuanya terbuka”. Pertanyaannya bukan lagi apakah dunia siap datang, melainkan apakah negara ini siap menyambutnya dengan fondasi yang layak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!