Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Inovasi Mahasiswa Mengubah Perangkat Kesehatan Pintar

Inovasi Mahasiswa Mengubah Perangkat Kesehatan Pintar
Minat|Solusi Pintar

Gelombang Baru Perangkat Kesehatan Pintar dari Kampus

Perangkat kesehatan pintar adalah rangkaian alat dan wearable AI kesehatan yang memadukan sensor, IoT, dan kecerdasan buatan untuk membantu diagnosis, pencegahan, serta dukungan terapi penyakit secara lebih akurat, portabel, dan terjangkau, sekaligus mengubah kebiasaan hidup sehari-hari melalui umpan balik langsung kepada penggunanya. Tren ini tidak lagi dimonopoli korporasi besar; kampus-kampus mulai menjadi laboratorium ide yang menempatkan kebutuhan nyata pasien, pekerja, dan kelompok rentan sebagai titik berangkat inovasi. Tiga proyek mahasiswa—SPATCH untuk deteksi postur otomatis, BREIT untuk pemetaan jaringan kanker payudara, dan Netravest sebagai rompi AI bagi tunanetra—menunjukkan bahwa smart healthcare devices bisa lahir dari empati atas masalah sederhana: nyeri punggung, kecemasan terhadap kanker, dan keterbatasan tongkat putih. Ketiganya bukan sekadar prototipe teknis, tetapi pernyataan bahwa masa depan kesehatan harus lebih inklusif dan mudah diakses.

SPATCH: Plester Biofeedback Murah yang Menegur Postur Buruk

SPATCH (Spine Aware Biofeedback Patch) dikembangkan mahasiswa Universitas Brawijaya sebagai respon terhadap budaya duduk berjam-jam di depan laptop yang berujung nyeri punggung dan kasus skoliosis di kalangan mahasiswa sendiri. Ide lahir dari pengalaman sehari-hari, bukan dari laboratorium steril, dan itu membuat solusi ini terasa relevan: plester tipis berbasis micro-pressure point yang menempel di kulit dan memberi rangsangan tekanan saat posisi tubuh kurang ideal, sehingga pengguna terdorong memperbaiki postur secara otomatis. Berbeda dengan korset medis yang tebal dan mahal, SPATCH dirancang ringan, dikemas dalam pouch, tanpa elektronik dan tanpa kebutuhan pengisian daya, tetapi tetap berfungsi sebagai "pelatih postur" personal. Satu kemasan dijual sekitar Rp35.000, berisi micro-pressure board yang dapat dipakai berulang, tiga plester sekali pakai, dan dua alcohol swab. Kutipan yang layak dicatat: "Satu kemasan SPATCH dijual dengan harga Rp35.000 dan berisi satu micro-pressure board, tiga buah plester, serta dua buah alcohol swab". Dengan masuknya SPATCH ke pendanaan PKM, tim menargetkan melaju ke PIMNAS untuk menguji apakah ide sederhana ini bisa menjadi produk koreksi postur massal.

Inovasi Mahasiswa Mengubah Perangkat Kesehatan Pintar

BREIT: Wearable AI Kanker Payudara yang Mengolah Sinyal Menjadi Peta Jaringan

Jika SPATCH menjawab nyeri punggung, BREIT (Breast Cancer Integrated Theranostics) menjawab ketakutan jauh lebih besar: kanker payudara. Mahasiswa Universitas Gadjah Mada merancang wearable AI kesehatan ini untuk memetakan karakteristik jaringan payudara sekaligus mengeksplorasi pendekatan terapi pendukung, memadukan Electrical Impedance Tomography (EIT), AI, dan sistem digital. EIT mengirim rangsangan listrik berintensitas sangat kecil ke permukaan tubuh, lalu membaca respons jaringan dan mengubahnya menjadi peta distribusi impedansi yang direkonstruksi menjadi citra oleh AI. Secara prinsip, BREIT menantang dominasi pemeriksaan berbasis sinar-X karena tidak menggunakan radiasi pengion, meski tim menegaskan perangkat ini belum dimaksudkan menggantikan metode klinis yang sudah mapan dan masih berada di tahap pengembangan serta pengujian. Perangkat ini juga terhubung ke komponen wearable vest untuk eksplorasi Electro-Capacitive Cancer Therapy, menjadikan BREIT contoh jelas smart healthcare devices yang tidak berhenti di diagnostik, tetapi menimbang dimensi terapeutik. "Melalui BREIT, mahasiswa UGM berupaya mengembangkan ekosistem teknologi yang menghubungkan perangkat wearable, AI, dan ilmu kesehatan" adalah kalimat yang merangkum ambisi lintas disiplin mereka.

Inovasi Mahasiswa Mengubah Perangkat Kesehatan Pintar

Netravest: Rompi AI yang Menjadi "Mata Tambahan" bagi Tunanetra

Tongkat putih adalah simbol kemandirian tunanetra, tetapi juga simbol keterbatasan: rintangan di atas jangkauan tongkat seperti spanduk atau papan reklame sering luput dari deteksi. Lima mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia menjawab celah ini dengan Netravest, rompi navigasi cerdas berbasis AI dan sensor LiDAR yang dirancang bukan untuk menggantikan tongkat, melainkan menjadi "mata tambahan" bagi penggunanya. Kamera dengan algoritma YOLOv8n mengenali lebih dari 20 kelas objek dari dataset 30.000 gambar, sementara LiDAR mengukur jarak; keduanya digabung melalui sensor fusion agar sistem dapat memberi peringatan saat objek berada sekitar 110–150 sentimeter dari pengguna dengan waktu proses sekitar 200 milidetik. Informasi dikirim lewat bone conduction dan getaran, sehingga pengguna tetap mendengar lingkungan sekitar. Netravest juga memikirkan kehidupan sehari-hari melalui fitur pengenalan nominal uang rupiah dan sistem SOS yang mengirim lokasi serta status perangkat ke pendamping lewat aplikasi dan bot Telegram. Saat ini bobot prototipe sekitar 2 kilogram dengan baterai delapan jam, dan tim menargetkan miniaturisasi hingga 1 kilogram sambil meningkatkan algoritma AI serta kenyamanan rompi.

Inovasi Mahasiswa Mengubah Perangkat Kesehatan Pintar

Mengapa Inovasi Mahasiswa Penting bagi Masa Depan Kesehatan

Tiga inovasi ini punya benang merah yang menandai arah baru perangkat kesehatan pintar: terjangkau, mudah dibawa, dan berbasis teknologi AI serta sensor modern untuk diagnosis dan pencegahan penyakit. SPATCH menyentuh masalah ergonomi yang sering diremehkan, tetapi berpotensi menjadi sumber gangguan muskuloskeletal jangka panjang. BREIT berusaha menambah lapisan data pada pemahaman jaringan kanker payudara di tengah angka kasus dan kematian yang masih tinggi. Netravest menempatkan martabat tunanetra di pusat desain teknologi dengan menjawab keterbatasan tongkat tradisional lewat deteksi rintangan multi-dimensi. Ketiganya lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa—bukti bahwa inovasi mahasiswa teknologi bukan hobi pinggiran, melainkan jalur strategis untuk menghasilkan smart healthcare devices yang dekat dengan realitas pengguna sehari-hari. Tantangannya kini ada pada uji klinis, regulasi, dan kapasitas produksi. Namun jika ekosistem pendanaan, bimbingan, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan terus ditumbuhkan, bukan mustahil SPATCH, BREIT, dan Netravest menjadi pionir ekosistem wearable AI kesehatan yang membuat akses layanan kesehatan lebih manusiawi dan demokratis.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!