Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Perundungan Digital dan Luka Psikologis yang Tak Boleh Diremehkan

Perundungan Digital dan Luka Psikologis yang Tak Boleh Diremehkan
Minat|Kesehatan Mental

Serangan yang Tak Berhenti di Layar

Perundungan digital adalah tindakan menghina, mengancam, mempermalukan, atau menyebarkan informasi pribadi seseorang melalui teknologi dan platform daring, sering kali di hadapan banyak orang. Definisi ini penting karena dampaknya tidak patut dianggap sebagai candaan yang selesai ketika ponsel dimatikan. Berbeda dari perundungan tatap muka yang biasanya terbatas pada situasi tertentu, unggahan dan komentar digital dapat menjangkau banyak orang dengan cepat, disimpan, lalu dibagikan ulang meski pelaku menghapus konten awalnya. Bagi remaja dan mahasiswa, yang menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dan membangun pertemanan, paparan seperti ini dapat mengubah ruang sosial sehari-hari menjadi sumber rasa malu, takut berinteraksi, dan hilangnya kepercayaan diri. Karena itu, dampak cyberbullying remaja tidak bisa diukur hanya dari isi satu komentar: jangkauan dan kemungkinan konten beredar kembali ikut menentukan beratnya tekanan.

Risiko Psikologis Perlu Ditanggapi Serius

Perundungan digital kesehatan mental bukan isu pinggiran. Ringkasan penelitian Datu (2024) menyebut perundungan daring berkaitan dengan depresi, kecemasan, dan dampak sosial. Temuan ini tidak berarti setiap korban akan mengalami gangguan yang sama, tetapi cukup menjadi alasan untuk tidak mengecilkan keluhan atau menunggu sampai situasi memburuk. Laporan tentang pengalaman anak di internet mencatat hanya 37,5 persen memiliki pengetahuan untuk melindungi diri secara daring, sementara 42 persen pernah merasa tidak nyaman atau takut karena pengalaman online. Angka tersebut bukan jumlah korban cyberbullying, tetapi menandakan adanya kebutuhan besar akan bekal keamanan digital. Sumber yang sama juga menyebut korelasi 25 persen dalam kategori moderat. Korelasi itu bukan ukuran prevalensi korban, sehingga tidak semestinya dipakai untuk menyimpulkan bahwa semua pengguna menghadapi risiko yang setara. Yang perlu dilakukan adalah mendengar korban dan menyediakan dukungan yang sesuai.

Victim Blaming Menambah Beban Korban

Serangan tidak selalu datang dari pelaku awal. Komentar yang mempertanyakan perilaku korban atau meremehkan pengalamannya dapat menambah tekanan sosial, rasa malu, dan ketakutan untuk berbicara; respons seperti ini berpotensi memperburuk kondisi psikologis korban. Itulah sebabnya victim blaming media sosial bukan sekadar perdebatan soal etika berkomentar. Ia dapat menghambat korban mencari pertolongan dan membuat ruang pemulihan terasa tidak aman. Menyuruh korban lebih berhati-hati, menganggap hinaan sebagai lelucon, atau menuntut mereka membuktikan bahwa mereka pantas dibela memindahkan tanggung jawab dari pelaku. Pola menyalahkan korban juga berkaitan dengan stigma sosial dan kurangnya pendekatan yang berorientasi pada pemulihan. Dalam konteks perundungan daring, respons yang lebih bertanggung jawab ialah menghentikan penyebaran konten, tidak ikut menghakimi, dan menanyakan dukungan apa yang dibutuhkan korban. Empati bukan pengganti penanganan, tetapi tanpa empati, korban dapat semakin enggan meminta bantuan.

Intervensi Harus Menjangkau Individu dan Budaya Daring

Intervensi cyberbullying tidak cukup berupa nasihat agar korban mengabaikan komentar. Remaja dan mahasiswa perlu mendapat edukasi digital yang mendorong mereka berpikir sebelum mengunggah atau berkomentar. Platform juga perlu dimanfaatkan untuk melaporkan konten, sementara bukti disimpan bila korban ingin mengajukan keluhan. Langkah-langkah ini harus berjalan bersama dukungan psikologis yang peka terhadap kebutuhan korban, bukan menuntut mereka menangani masalah sendirian. Kampus perlu menyediakan sistem pelaporan yang dapat diandalkan, kursus literasi digital, dan bantuan bagi pelajar yang mengalami perundungan. Keluarga, lembaga pendidikan, dan komunitas daring juga perlu menolak budaya yang menjadikan penghinaan sebagai hiburan dan korban sebagai sasaran penghakiman. Intervensi yang menyatukan pencegahan, pelaporan, pendampingan, serta perubahan norma sosial memberi peluang lebih baik bagi korban untuk pulih. Kesimpulannya jelas: menghentikan perundungan daring bukan tugas korban seorang diri, melainkan tanggung jawab bersama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!