Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kolaborasi OJK dan Fintech Mengangkat UMKM dan Nelayan Naik Kelas

Kolaborasi OJK dan Fintech Mengangkat UMKM dan Nelayan Naik Kelas
Minat|Asia Tenggara

Literasi Keuangan UMKM: Dari Program Seremonial Menjadi Strategi Naik Kelas

Literasi keuangan UMKM adalah serangkaian pengetahuan dan keterampilan yang membantu pelaku usaha kecil memahami, menggunakan, dan mengevaluasi produk serta layanan keuangan formal agar keputusan pendanaan, tabungan, dan pengelolaan kas mendukung keberlanjutan usaha serta menurunkan ketergantungan pada sumber pembiayaan tidak resmi dan berisiko tinggi. Fokus utama artikel ini: literasi keuangan UMKM bukan lagi kegiatan sosialisasi sesekali, tetapi sedang bergeser menjadi strategi naik kelas yang digerakkan oleh kolaborasi OJK, fintech, dan pemerintah daerah. Di Palembang, misalnya, OVO Finansial bersama Otoritas Jasa Keuangan menghadirkan Teras Perwira Spesial Ulang Tahun sebagai wadah temu ramah dan berbagi bagi mitra wirausaha untuk menguatkan pemanfaatan teknologi, promosi digital, pengelolaan bisnis, dan akses pendanaan resmi. Langkah seperti ini penting karena lebih dari 188.000 pelaku UMKM tercatat sebagai tulang punggung ekonomi kota dan tidak bisa lagi dibiarkan beroperasi tanpa fondasi keuangan yang kuat.

Kolaborasi OJK dan Fintech Mengangkat UMKM dan Nelayan Naik Kelas

Palembang: Digitalisasi dan Akses Perbankan Formal untuk UMKM

Program Teras Perwira di Palembang menunjukkan arah baru literasi keuangan UMKM: langsung menyasar pelaku usaha yang sudah bersentuhan dengan ekosistem digital, seperti mitra Grab dan OVO merchant, lalu menghubungkan mereka ke akses perbankan formal dan pendanaan resmi. Pendekatan ini lebih relevan dibanding seminar umum, karena pelaku UMKM dibekali strategi promosi daring, pemanfaatan aplikasi pembayaran, hingga cara membaca risiko ketika mengambil pinjaman. Di balik slogan “Cerdas Jualannya, Tangguh Usahanya”, pesan pentingnya jelas: UMKM yang melek keuangan akan lebih berani dan lebih terukur dalam mengambil keputusan modal, ekspansi, dan diversifikasi. Di sisi lain, kehadiran regulator dalam forum yang digerakkan fintech memberi sinyal kuat bahwa inklusi keuangan regional bukan sekadar membuka rekening, tetapi memastikan pelaku usaha memahami karakter produk, hak, kewajiban, dan konsekuensi setiap keputusan pendanaan.

Solo Raya: Inklusi Keuangan Regional Butuh Maraton Kolaborasi, Bukan Lari Sprint

Kisah Solo Raya mengungkap paradoks inklusi keuangan regional: akses sudah tinggi, pemahaman masih tertinggal. Dalam rangkaian Bulan Inklusi Keuangan, OJK bersama pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan TPAKD menggelar kegiatan Road to BIK Solo Raya sebagai momentum awal memperluas kolaborasi sepanjang September hingga Oktober untuk literasi, inklusi, dan perlindungan keuangan masyarakat. "Dengan tingkat inklusi yang sudah mencapai 93,61 persen, sementara literasi masih berada pada 69,57 persen, kita perlu terus meningkatkan pemahaman masyarakat". Angka ini seharusnya menjadi alarm: rakyat sudah banyak memakai produk keuangan, tapi belum cukup paham cara memilih dan menggunakannya secara aman. Dengan melibatkan sektor perbankan, pasar modal, dan industri keuangan nonbank, program OJK dan mitra di Solo tidak berhenti pada promosi rekening baru, melainkan mendorong penggunaan yang bertanggung jawab lewat insentif yang dibingkai edukasi, bukan sekadar hadiah konsumtif.

Sangihe: Nelayan dan Masyarakat Pesisir Masuk Panggung Layanan Keuangan

Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (Gencarkan) di Kepulauan Sangihe memperlihatkan bahwa inklusi keuangan regional baru sah disebut adil ketika nelayan dan masyarakat pesisir ikut duduk di meja yang sama. OJK wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo menggandeng Bank SulutGo dan pemerintah kabupaten untuk memberikan edukasi pengelolaan pendapatan yang sangat dipengaruhi musim dan cuaca kepada nelayan, pelaku usaha perikanan, dan keluarga mereka. Di sini, literasi keuangan tidak dibicarakan dalam bahasa abstrak, melainkan dihubungkan dengan cara menyimpan pendapatan panen raya, mengatur pengeluaran saat paceklik, serta mengenali risiko pinjaman online ilegal dan investasi bodong yang kerap menyasar wilayah pinggiran. Bank SulutGo mendorong penggunaan akses perbankan formal yang sudah ada di kepulauan dan mengenalkan pembiayaan seperti KUR Mikro Nelayan agar layanan keuangan menjadi alat memperkuat keberlanjutan ekonomi keluarga, bukan jebakan baru bagi masyarakat pesisir.

Mengikat Ekosistem: Kolaborasi Lintas Stakeholder Harus Terukur dan Berkelanjutan

Benang merah Palembang, Solo Raya, dan Sangihe adalah satu: inklusi keuangan yang sehat lahir dari kolaborasi lintas pihak, bukan program tunggal. OJK konsisten menggandeng pemerintah daerah, TPAKD, industri jasa keuangan, dan bank lokal untuk merancang kegiatan yang sekaligus mengedukasi, memperluas akses, dan memperkuat perlindungan konsumen. Di kota besar, fokusnya literasi keuangan UMKM dan integrasi dengan ekosistem fintech. Di wilayah kepulauan, prioritasnya nelayan layanan keuangan agar mereka tidak tersingkir dari sistem formal. Pola ini seharusnya dijaga agar terukur dan berkelanjutan: ada target segmen jelas, pemantauan capaian literasi dan inklusi, serta tindak lanjut, bukan berhenti di seremoni. Jika ekosistem inklusi keuangan regional terus ditenun dengan disiplin seperti ini, UMKM dan masyarakat pesisir tidak lagi sekadar objek edukasi, melainkan subjek ekonomi yang mampu menegosiasikan kebutuhan, memilih produk, dan menolak praktik keuangan yang merugikan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!