Belanja sembako online bukan lagi pelengkap, tapi jadi kebiasaan utama
Belanja sembako online adalah praktik membeli kebutuhan pokok harian seperti makanan, minuman, dan bahan dapur melalui platform e-commerce, yang kini tidak lagi sebatas pilihan tambahan tetapi berubah menjadi salah satu cara utama rumah tangga memenuhi kebutuhan pokok secara digital di banyak kota dan wilayah, terutama dipicu oleh kenyamanan, kemudahan perbandingan harga, dan persepsi keamanan dalam berbelanja dari rumah. Lonjakan terkini di kategori Food & Beverages (F&B) menunjukkan bahwa pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat, tetapi tanda struktur baru dalam perilaku konsumsi. Laporan pasar FMCG digital mencatat nilai transaksi F&B e-commerce mencapai Rp20,6 triliun pada Januari–Juni, naik 52% dibanding periode yang sama sebelumnya. Ini bukan kenaikan kosmetik; ini adalah alarm keras bagi retail tradisional bahwa konsumen telah memindahkan keranjang sembako mereka ke layar ponsel.

Angka-angka yang menggeser peta: dari Rp13,6 triliun ke Rp20,6 triliun
Pertumbuhan 52% belanja sembako online di kategori F&B, dari Rp13,6 triliun menjadi Rp20,6 triliun, layak disebut sebagai lompatan struktural, bukan sekadar kenaikan musiman. Kuantitas produk yang terjual pun naik 33%, sementara kenaikan harga komoditas hanya sekitar 15%, menandakan permintaan yang memang mengembang, bukan angka yang “dipoles” inflasi semata. Pangsa F&B terhadap total pasar FMCG digital naik dari 20% menjadi 23%, artinya kebutuhan pokok digital makin dominan dalam keranjang belanja online. Dalam konteks ini, belanja sembako online bukan lagi perilaku eksklusif segelintir pengguna awal, tetapi mulai menjadi standar baru. Menariknya, sebagian besar transaksi F&B (sekitar 77% atau Rp15,8 triliun) mengalir lewat Non-Official Store, sementara Official Store hanya menyumbang 23% atau Rp4,8 triliun. Ini menunjukkan konsumen memprioritaskan harga dan ketersediaan dibanding label resmi, selama kebutuhan pokok mereka terpenuhi cepat.

Air mineral dan minyak goreng: simbol kebutuhan pokok digital
Jika ingin melihat sejauh mana kebutuhan pokok digital telah mengakar, cukup lihat dua produk: air mineral dan minyak goreng online. Subkategori air mineral mencatat pertumbuhan nilai transaksi 219% year-on-year, menjadi yang tertinggi di F&B digital. Minyak goreng menyusul dengan kenaikan 123%. Keduanya adalah produk super-esensial yang selama ini identik dengan rak minimarket dan warung; kini, mereka menjadi pendorong utama belanja sembako online. Pertumbuhan signifikan juga terjadi pada teh (97%), mi instan & pasta (91%), gula (79%), dan kopi (75%), sementara makanan ringan seperti candy naik 121% dan sweet snacks 100%. Menurut laporan FMCG e-commerce, “Mineral Water atau air mineral mencatat pertumbuhan nilai transaksi tertinggi, yakni 219 persen YoY, diikuti Cooking Oil atau minyak goreng yang tumbuh 123 persen.” Data ini menegaskan: kebutuhan pokok digital telah naik kelas menjadi kategori strategis, bukan pinggiran.
Ramadan, Lebaran, dan preferensi kenyamanan: mengapa lonjakan terjadi sekarang
Lonjakan transaksi F&B e-commerce tidak terjadi di ruang hampa. Dua faktor utama yang tampak: pergeseran perilaku ke kenyamanan dan efek musiman Ramadan–Lebaran. Laporan pasar menunjukkan bahwa periode Ramadan dan persiapan Lebaran mendorong peningkatan tajam beberapa subkategori: buah-buahan naik 255% quarter-on-quarter, biskuit & kue kering 157%, gift set & hampers 133%, dan kacang-kacangan 130%. Ritual berbagi dan stok makanan khas Lebaran berpindah ke kebutuhan pokok digital, menegaskan bahwa momen keagamaan pun kini diorkestrasi lewat keranjang online. Di luar musim, konsumen tampak memilih belanja sembako online karena kombinasi kenyamanan (pengantaran ke rumah), keamanan (pembayaran dan penghindaran kerumunan), serta kemampuan membandingkan harga lebih cepat. Pergeseran ini mengukuhkan e-commerce sebagai kanal utama, bukan alternatif cadangan, untuk kebutuhan pokok harian dan musiman.
Implikasi bagi retail tradisional: dari ancaman menjadi peluang kolaborasi
Bagi retail tradisional, angka-angka ini adalah peringatan keras sekaligus undangan untuk beradaptasi. Ketika belanja sembako online tumbuh 52% dan kebutuhan pokok digital seperti air mineral serta minyak goreng menjadi primadona transaksi F&B e-commerce, warung, minimarket, dan supermarket yang tetap bergantung pada kunjungan fisik akan kehilangan frekuensi belanja rutin. Namun ancaman ini bisa diubah menjadi peluang jika pelaku retail mau menjadi bagian dari ekosistem digital sebagai penyedia stok lokal, mitra Non-Official Store, atau jaringan pemenuhan pesanan cepat. Fakta bahwa 77% transaksi F&B terjadi di Non-Official Store menunjukkan ruang besar bagi pemain kecil dan menengah untuk ikut menikmati pertumbuhan ini, selama mereka sanggup memenuhi standar kecepatan dan kepercayaan konsumen. Kesimpulannya jelas: era kebutuhan pokok digital sudah tiba; retail tradisional hanya punya dua pilihan—ikut bermain di kanal online, atau bersiap ditinggalkan keranjang belanja yang kini bergerak lewat internet.






