ASI Eksklusif sebagai Strategi Anti-Stunting: Jombang Melompat Jauh di Atas Target Nasional
ASI eksklusif stunting adalah pendekatan pencegahan yang menekankan pemberian ASI saja selama enam bulan pertama kehidupan bayi sebagai strategi utama untuk mengurangi risiko gangguan tumbuh kembang, infeksi berulang, dan kekurangan gizi yang berujung pada stunting, sambil membangun sistem dukungan menyusui ibu yang menyentuh keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial secara terstruktur. Dalam konteks inilah, capaian Jombang layak dibaca sebagai lompatan strategis, bukan sekadar angka. Pemerintah daerah mengumumkan cakupan ASI eksklusif 73,1 persen untuk periode Januari–Juni 2026, jauh di atas target ASI nasional 2025 yang dipatok 61 persen. Angka ini menunjukkan satu hal: ketika program pencegahan stunting diposisikan sebagai investasi generasi, bukan proyek seremonial, komunitas bersedia bergerak bersama.
Tiga Pilar Dukungan: Keluarga, Kader, dan Fasilitas Publik Jadi Penentu
Kekuatan utama Jombang bukan semata kampanye, melainkan keberanian mengakui bahwa ibu menyusui tidak bisa dibiarkan berjuang sendirian. Bupati menegaskan, keberhasilan menyusui membutuhkan dukungan suami dan keluarga, pendampingan tenaga kesehatan dan kader, serta lingkungan yang aman bagi ibu. Pernyataan ini bukan slogan; ia diterjemahkan menjadi tiga pilar nyata: keluarga yang teredukasi, kader yang aktif, dan fasilitas publik yang ramah menyusui. Deklarasi komitmen bersama mewajibkan tersedianya ruang laktasi yang layak, aman, dan mudah diakses di fasilitas publik, layanan kesehatan, serta tempat kerja, sekaligus menjamin hak pekerja perempuan untuk memerah ASI (pumping). Di sinilah dukungan menyusui ibu naik kelas: dari wacana domestik menjadi hak sosial yang diakui pemerintah.
KP-ASI, YUKENSI, KEMPING ASIK: Inovasi Daerah yang Menyentuh Akar Komunitas
Jika banyak daerah masih terjebak pada penyuluhan satu arah, Jombang menempuh jalan lain: membangun ekosistem belajar bersama. Tiga program inovatif dikonsolidasikan menjadi sistem pendampingan terpadu untuk memperkuat dukungan menyusui ibu. KP-ASI (Kelompok Pendukung ASI) menyediakan ruang edukasi dan saling menguatkan antaribu sejak 2011. YUKENSI (Paguyuban Kakek Nenek ASI) mengakui fakta sederhana namun sering diabaikan: lansia adalah penentu keputusan dalam banyak keluarga, sehingga sejak 2017 mereka diajak aktif mendukung ASI. KEMPING ASIK (Kader PKK Pendamping ASI Eksklusif) memastikan pesan menyusui tidak berhenti di puskesmas, tetapi diantar langsung ke rumah-rumah oleh kader PKK. Kolaborasi lintas sektor—pemerintah daerah, TP PKK, organisasi profesi, dan puskesmas—membuat edukasi berjalan terus, bukan hidup-mati mengikuti anggaran tahunan.
Dari Seremoni ke Sistem: Mengapa Penguatan Berkelanjutan Lebih Penting dari Satu Kali Pencapaian
Puncak peringatan Pekan ASI Sedunia yang digelar di pendopo kabupaten memang tampak seperti acara seremonial dengan pejabat, kader, dan lintas sektor hadir dalam jumlah besar. Namun yang lebih penting adalah keputusan menjadikan momentum ini sebagai titik konsolidasi program, bukan ajang foto bersama. Kepala dinas kesehatan menegaskan bahwa momen tersebut dipakai untuk menggabungkan tiga program inovatif menjadi sistem pendampingan terpadu. Seminar tumbuh kembang anak, penyerahan juknis YUKENSI dan KP-ASI, serta edukasi gizi yang menyertai acara memperlihatkan orientasi jangka panjang: memberi pengetahuan yang bisa diulang dan diajarkan kembali di komunitas. Ketika ASI eksklusif dipahami sebagai senjata utama imunitas bayi dan fondasi program pencegahan stunting, maka tugas pemerintah bukan selesai pada capaian persentase, melainkan memastikan sistem dukungan tetap menyala bahkan ketika panggung peringatan sudah dibongkar.
Pemerataan ke 21 Kecamatan: Tantangan Berikutnya yang Tidak Boleh Diabaikan
Meski angka 73,1 persen patut diapresiasi, Jombang secara jujur mengakui bahwa pekerjaan rumah terbesar adalah pemerataan dukungan di 21 kecamatan. Di sinilah integritas kebijakan diuji: apakah ASI eksklusif stunting hanya akan menjadi kisah sukses di kecamatan tertentu, atau sungguh menjadi standar baru layanan dasar di seluruh wilayah. Penghargaan kepada desa dan puskesmas berprestasi—mulai dari KEMPING ASIK terbaik, ruang ASI terstandar, hingga KP-ASI aktif—bisa dibaca sebagai strategi memancing kompetisi sehat antarwilayah. Namun penghargaan tak boleh berhenti sebagai insentif simbolik; ia harus diiringi dukungan teknis, supervisi, dan pembiayaan yang cukup agar kecamatan yang tertinggal dapat mengejar. Kesimpulannya tegas: Jombang telah menunjukkan arah yang tepat, tetapi keberhasilan program pencegahan stunting lewat dukungan menyusui ibu baru bisa dinilai utuh ketika setiap bayi, di setiap kecamatan, mendapat hak yang sama atas ASI eksklusif.






