Interkoneksi Ternate–Tidore: Tulang Punggung Keandalan Listrik Kepulauan
Sistem interkoneksi kabel laut Ternate–Tidore adalah jaringan penyaluran tenaga listrik yang menghubungkan pembangkit di dua pulau melalui gardu induk Ternate untuk mendistribusikan energi secara terpadu, menciptakan cadangan daya bersama dan meningkatkan keandalan listrik Maluku bagian utara dalam kondisi geografis kepulauan yang kompleks.
Pesannya jelas: keandalan listrik di wilayah kepulauan tidak lagi bisa mengandalkan sistem pulau per pulau yang terpisah. PT PLN (Persero) UIW Maluku dan Maluku Utara memperlihatkan arah barunya ketika menggelar media gathering dan site visit ke instalasi ketenagalistrikan di Ternate pada Rabu (23/9/2026). Di sana, manajemen membuka data yang biasanya hanya beredar di kalangan teknis: jumlah tower, panjang jaringan, hingga margin cadangan daya. Langkah transparan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sinyal bahwa infrastruktur transmisi PLN di kawasan ini sudah memasuki fase di mana akuntabilitas publik menjadi sama pentingnya dengan kabel dan gardu induk itu sendiri.
Peran Strategis Gardu Induk Ternate dan Kabel Laut Interkoneksi
Di jantung sistem ini berdiri dua gardu induk Ternate: GI Kastela di dekat PLTD Kastela dan GI Ternate di samping kantor ULTG Kayu Merah. Keduanya bukan sekadar titik teknis, tetapi simpul strategis yang menentukan seberapa stabil lampu tetap menyala di rumah-rumah Ternate dan Tidore. GI Ternate bahkan menjadi titik temu interkoneksi utama antara sistem kelistrikan dua pulau tersebut, menjadikannya semacam “bandara hub” bagi aliran listrik regional.
Kabel laut interkoneksi menghubungkan sistem Ternate dengan PLTU di Tidore, memastikan pasokan listrik ke Kota Tidore mengalir langsung melalui jaringan bawah laut ini. Dengan konfigurasi ini, gangguan di satu pulau tidak otomatis menjatuhkan sistem di pulau lain, selama cadangan dan alur transmisi tersusun baik. Di sinilah konsep keandalan listrik Maluku diuji: bukan hanya cukup daya, tapi juga kecerdasan mengatur rute penyaluran energi lewat gardu induk, menara, dan kabel laut interkoneksi yang saling menopang.
Angka-Angka Sistem: Cadangan Daya, Jaringan Transmisi, dan Bauran Pembangkit
Pada paparan kepada media, Manager ULTG Kayu Merah membeberkan bahwa di Ternate terdapat 23 tower transmisi dengan panjang sekitar 15,5 kilometer sirkuit yang menghubungkan PLTMG Kastela ke GI Ternate. Jaringan ini menjadi tulang punggung infrastruktur transmisi PLN di kawasan tersebut. Tanpa tulang punggung yang kuat, kabel laut interkoneksi pun akan kehilangan efektivitasnya karena energi tidak bisa disalurkan stabil ke beban akhir.
Lebih menarik lagi, daya mampu pasok sistem Ternate–Tidore per Agustus 2026 mencapai sekitar 61 MW, dengan beban puncak sekitar 50 MW dan cadangan daya aman 11 MW. Salah satu pernyataan kunci yang pantas dikutip adalah: cadangan daya aman sebesar 11 MW menandakan sistem sudah bergerak dari sekadar “cukup” ke kategori yang lebih siap menghadapi lonjakan beban maupun gangguan teknis. Dari sisi bahan bakar, bauran didukung kombinasi 30 persen batu bara dari PLTU Tidore dan porsi pembangkit lain yang antara lain berasal dari PLTD Kayu Merah, PLTMG Kastela, serta PLTD sewa di Kastela.
ULTG, Sistem Modern, dan Edukasi Media untuk Dukungan Publik
Fakta bahwa pengelolaan transmisi Ternate berada di bawah UPT3 Maluku dan ditangani ULTG Kayu Merah menunjukkan struktur organisasi yang mulai disiapkan menghadapi sistem yang makin kompleks. Unit ini mengelola gardu induk Ternate dan jaringan transmisi yang tersambung ke kabel laut interkoneksi, sekaligus menjadi pintu informasi bagi publik. Ketika manajer ULTG berdiri di depan jurnalis dan memaparkan aset, infrastruktur transmisi, serta keandalan sistem kelistrikan Ternate–Tidore, itu sinyal bahwa PLN ingin mengubah cara publik memandang gardu induk, tower, dan kabel: bukan sekadar “alat teknis”, melainkan infrastruktur strategis yang layak diawasi bersama.
Dalam konteks ini, pembicaraan mengenai sistem GIS dan ULTG menjadi relevan sebagai pendekatan pengelolaan jaringan transmisi dan gardu induk yang lebih modern dan terstruktur. Alih-alih menunggu kritik ketika listrik padam, PLN mulai menyusun narasi proaktif melalui edukasi media dan stakeholder. Pendekatan ini penting untuk menjaga dukungan publik terhadap pengembangan infrastruktur transmisi PLN yang tidak selalu kasat mata, tetapi sangat menentukan kualitas layanan listrik sehari-hari.
Sinergi PLN–Kejaksaan: Pengawasan Sebagai Bagian dari Keandalan
Keandalan listrik tidak cukup dijaga dengan teknologi; ia juga membutuhkan tata kelola yang bersih dan proyek yang berjalan sesuai aturan. Di sinilah sinergi antara PLN dan Kejaksaan Tinggi Maluku Utara menjadi penting. Dalam audiensi resmi, kedua institusi menyepakati langkah strategis untuk memperkuat sinergi dalam mendukung kelancaran pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan di wilayah ini. Kolaborasi ini dimaksudkan agar setiap proyek transmisi, gardu induk, dan fasilitas pendukung lain tidak tersandera masalah perizinan, pertanahan, atau persoalan hukum yang sering menghambat pembangunan.
Pihak manajemen PLN menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, sementara Kepala Kejaksaan Tinggi menyoroti pentingnya komunikasi dan koordinasi yang baik agar program strategis bisa memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui penguatan sinergi tersebut, PLN dan Kejati Maluku Utara berkomitmen mengawal pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan sehingga mampu segera mendukung keandalan sistem dan pelayanan listrik ke masyarakat. Pada akhirnya, kabel laut interkoneksi dan gardu induk modern tidak akan berfungsi optimal tanpa payung pengawasan yang kuat dan transparan.






