Uang Saku Bukan Manja, Tapi Strategi Finansial
Mengapa orang tua tetap memberi uang saku anak meski mereka sudah punya penghasilan sendiri adalah pendekatan pengasuhan yang memisahkan uang untuk belajar mengelola keuangan dari uang hasil kerja, agar anak memahami fungsi berbeda dari setiap sumber dana dan mampu membangun kemandirian finansial anak secara bertahap melalui pengalaman nyata yang terstruktur.
Banyak orang tua mengira begitu anak punya gaji, uang saku anak harus dihentikan. Menurut saya, ini cara cepat yang sering merusak proses belajar finansial. Contoh menarik datang dari hubungan ayah-anak antara Pasha dan putranya, Kiesha Alvaro. Kiesha sudah mandiri lewat dunia akting dan memiliki penghasilan sendiri dari dunia hiburan, namun Pasha menegaskan bahwa urusan uang saku tetap menjadi tanggung jawabnya sebagai ayah. Keputusan ini bukan soal memanjakan, tapi soal strategi. Selama orang tua masih sanggup, mempertahankan uang saku rutin memberi ruang aman untuk mengajar anak menabung tanpa tekanan menanggung hidupnya sendiri.

Memisahkan Uang Saku dan Penghasilan: Sekolah Keuangan Mini di Rumah
Inti strategi ini adalah memisahkan dua arus uang: uang saku untuk kebutuhan harian dan penghasilan kerja untuk masa depan. Dalam kasus Pasha, ia menyatakan bahwa selama dirinya masih mampu memenuhi kebutuhan sang anak, penghasilan Kiesha sebaiknya disimpan untuk keperluan di masa mendatang. Ia bahkan berkata, “Hasil nampaknya tabung aja. Tabung aja, kalau buat dia mah kan bapaknya masih ada”.
Di sini, mengajar anak menabung tidak dilakukan lewat ceramah, melainkan lewat struktur. Uang saku anak dipakai untuk jajan, transport, hobi kecil; sementara honor kerja diarahkan murni ke tabungan. Anak belajar bahwa tidak semua uang boleh dihabiskan. Kombinasi kemandirian finansial anak—yang merasa punya penghasilan sendiri—dengan dukungan orang tua yang tetap menanggung kebutuhan hariannya, menciptakan pemahaman holistik tentang keuangan pribadi: ada uang untuk hari ini, ada uang untuk nanti.

Menabung Penghasilan: Bibit Kebiasaan Investasi Jangka Panjang
Instruksi Pasha agar penghasilan Kiesha ditabung sepenuhnya adalah contoh konkret strategi membangun kebiasaan investasi jangka panjang. Saat anak diminta menyisihkan semua hasil kerjanya, pesan yang tertanam adalah: kerja keras hari ini bukan hanya untuk memenuhi keinginan sesaat, tetapi untuk keamanan dan pilihan hidup di masa depan.
Dengan pola ini, anak belajar bahwa tabungan bukan sisa, melainkan tujuan utama. Uang saku anak menjadi ‘uang latihan’ mengatur pengeluaran, sedangkan penghasilan kerja menjadi ‘uang masa depan’. Orang tua yang konsisten pada pola ini sebenarnya sedang melakukan pendidikan keuangan anak dalam bentuk paling sederhana: disiplin. Anak terbiasa melihat saldo tabungan bertambah, bukan menghilang. Ketika dewasa, pola ini mudah diterjemahkan ke investasi, dana darurat, atau biaya pendidikan lanjutan yang juga masih didukung orang tua selama mereka produktif bekerja.
Peran Orang Tua: Dari Pemberi Uang Jadi Mentor Finansial
Keputusan Pasha untuk tetap memberi uang saku dan memenuhi kebutuhan harian Kiesha—meski sang anak sudah berpenghasilan sendiri—menunjukkan satu prinsip penting: tanggung jawab orang tua tidak berhenti ketika anak mulai menghasilkan uang. Pasha ditemui di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (5/8/2026), dan menjelaskan bahwa selama dirinya masih mampu membiayai, ia ingin penghasilan anaknya aman sebagai tabungan.
Menurut saya, inilah perubahan peran orang tua: dari sekadar pemberi uang menjadi mentor finansial. Orang tua tetap menyediakan kebutuhan pokok, tapi mulai melibatkan anak dalam obrolan uang yang nyata. Di sela kegiatan bersama—entah bermain golf atau berkendara dengan motor gede yang sering dilakukan Pasha dan Kiesha—mereka punya ruang santai untuk membahas prioritas, mimpi, dan bagaimana uang bisa mendukung semua itu. Kemandirian finansial anak tumbuh bukan karena ia dibiarkan menanggung semuanya sendirian, tetapi karena ia ditemani belajar membuat keputusan finansial sejak muda.
Kesimpulan: Uang Saku Rutin, Penghasilan Disimpan, Karakter Finansial Terbentuk
Model Pasha-Kiesha memberi gambaran jelas: anak bisa mandiri secara finansial lewat kerja, tetapi tetap menerima uang saku rutin dari orang tua. Kombinasi ini bukan kontradiksi, melainkan strategi. Uang saku anak melatih pengeluaran sadar; penghasilan kerja melatih kesabaran menabung; orang tua menjaga agar kebutuhan dasar tetap aman.
Jika orang tua ingin mengajar anak menabung tanpa menakut-nakuti soal uang, pendekatan seperti ini layak dicoba. Pisahkan uang latihan dan uang masa depan, dampingi anak mengambil keputusan, dan gunakan momen kebersamaan—sport, hobi, atau aktivitas sederhana—sebagai ruang obrolan finansial. Pada akhirnya, kemandirian finansial anak lahir dari kebiasaan kecil yang diulang, bukan dari satu ceramah panjang tentang uang.






