Masuk ke Bisnis Baterai EV: Langkah Strategis Green Power LABA
Masuknya Green Power LABA ke bisnis baterai kendaraan listrik melalui pendirian PT Gobattery Solusi Indonesia (GOIN) bersama Oscar Investama adalah langkah strategis perusahaan energi terbarukan untuk memperluas peran dari sekadar pemasok komponen menjadi pemain kunci dalam ekosistem EV lokal, dengan fokus pada layanan baterai yang menyentuh aspek teknis, operasional, dan pembiayaan armada niaga listrik. Inti kabar ini bukan sekadar pembentukan perusahaan patungan, melainkan perubahan posisi Green Power Group dari emiten manufaktur menuju penyedia solusi energi baru dan berkelanjutan yang aktif di sektor transportasi listrik. Kemitraan dengan PT Oscar Investama Indonesia dikukuhkan lewat Perjanjian Kerja Sama Pendirian, Investasi, dan Pengelolaan GOIN pada Rabu, 23 September 2026 di Jakarta, ditandatangani Direktur Utama Green Power Group Chen Xiaoxiao dan Direktur Oscar Investama Indonesia Williem Tanjung Oscar. Keputusan ini menunjukkan bahwa tahap kebijakan kendaraan listrik mulai bergeser ke tahap pemanfaatan komersial. Alih-alih menunggu pasar matang, LABA memilih masuk lebih dini dan membangun fondasi layanan baterai di segmen kendaraan niaga listrik, terutama truk listrik, yang memiliki kebutuhan operasional jauh lebih kompleks dibanding kendaraan penumpang.

GOIN dan Model BaaS: Mengubah Cara Pelaku Logistik Melihat Baterai
Nilai strategis GOIN terletak pada keputusan fokus ke Battery-as-a-Service (BaaS) untuk kendaraan niaga listrik, khususnya truk listrik. Alih-alih menjual baterai sebagai aset sekali beli, GOIN memilih model di mana baterai dimiliki dan dikelola perusahaan, sedangkan operator armada cukup membayar biaya sewa bulanan. Secara bisnis, ini menggeser baterai kendaraan listrik dari beban investasi besar menjadi biaya operasional yang lebih terukur. Pemisahan kepemilikan baterai dari kendaraan diharapkan mengurangi kebutuhan modal awal bagi pelaku usaha yang ingin beralih ke kendaraan listrik, sehingga transisi menjadi lebih realistis bagi perusahaan logistik yang sensitif terhadap arus kas. Seperti ditegaskan Williem Tanjung Oscar, "Bagi operator armada, beralih ke kendaraan listrik harus masuk akal secara bisnis. Biayanya harus terkendali, kendaraannya siap beroperasi, dan layanannya bisa diandalkan." GOIN menjawab tiga titik krusial ini: kepastian ketersediaan baterai, kualitas layanan pemeliharaan, dan skema tarif yang jelas. Jika eksekusinya konsisten, model BaaS berpotensi menjadi standar baru dalam ekosistem EV lokal untuk kendaraan niaga.
Rantai Layanan Baterai: Dari Charging Station hingga Perbaikan
Yang membuat GOIN menarik adalah ambisinya untuk menggarap seluruh rantai layanan baterai, bukan hanya sewa perangkat. Ruang lingkup bisnis mencakup perdagangan dan penyewaan baterai serta peralatan listrik, penyimpanan tenaga listrik, pemasangan jaringan listrik, pengoperasian charging station, hingga layanan reparasi dan pemeliharaan baterai. Pendekatan menyeluruh ini penting karena ekosistem EV lokal selama ini cenderung terfragmentasi: pabrikan menjual kendaraan, pihak lain mencoba menyediakan pengisian daya, namun aspek pengelolaan baterai sebagai aset jangka panjang sering kali terabaikan. Dengan menggabungkan pengalaman Green Power Group di energi, baterai, dan peralatan listrik dengan kemampuan Oscar Investama di investasi dan pengembangan bisnis, GOIN berupaya menutup celah tersebut. Secara praktis, operator armada tidak lagi harus memikirkan banyak kontrak berbeda untuk baterai, pengisian, dan perbaikan. Jika konsep integrasi ini berjalan, pelaku usaha mendapatkan satu pintu layanan yang memudahkan pengambilan keputusan dan mengurangi risiko teknis pada operasi harian.
Momentum Ekosistem EV dan Respons Pasar terhadap LABA
Ekspansi Green Power LABA ke bisnis baterai kendaraan listrik jelas memanfaatkan momentum ketika ekosistem EV lokal mulai memasuki fase pemanfaatan komersial setelah sebelumnya digerakkan oleh kebijakan. Chen Xiaoxiao menyebut peluang elektrifikasi kendaraan niaga jauh lebih besar daripada sekadar menjual truk listrik, karena pasar membutuhkan infrastruktur pembiayaan dan operasional agar kendaraan niaga listrik layak secara bisnis bagi operator dan lembaga pembiayaan. Menariknya, pasar modal merespons langkah ini dengan nada positif. Menjelang pengumuman kerja sama, saham LABA sempat turun dari Rp124 pada Senin, 21 September 2026 ke Rp112 pada Selasa, 22 September 2026, terkoreksi 9,68 persen dengan nilai transaksi Rp4,00 miliar. Namun pada hari penandatanganan GOIN, harga saham berbalik naik 1,79 persen ke Rp114 per saham dengan nilai transaksi Rp1,03 miliar. Penguatan berlanjut pada Kamis, 24 September 2026, ketika LABA ditutup di Rp117 per saham, naik 2,63 persen dengan nilai transaksi Rp2,28 miliar dan volume 196,87 ribu lot. Angka-angka ini bukan jaminan keberhasilan jangka panjang, tetapi menunjukkan bahwa investor melihat diversifikasi LABA ke ekosistem EV sebagai narasi pertumbuhan, bukan sekadar manuver kosmetik.
Tahap Berikutnya: Tantangan Eksekusi dan Signifikansi bagi Masa Depan EV
Setelah penandatanganan kerja sama, GOIN belum langsung beroperasi penuh. Kedua pihak masih harus menuntaskan proses legalitas, mulai dari akta pendirian, pengesahan badan hukum, hingga pengurusan izin usaha sebelum GOIN bisa berjalan komersial. Dari sisi operasi, Williem Tanjung Oscar menegaskan bahwa pengembangan bisnis akan dilakukan bertahap, dimulai dari rute logistik yang terukur sebelum memperluas jangkauan layanan. Pendekatan bertahap ini tepat, karena keberhasilan bisnis baterai kendaraan listrik ditentukan oleh kinerja nyata: keandalan baterai, kualitas layanan, serta kecocokan struktur biaya dengan pola operasi armada. Jika GOIN mampu membuktikan bahwa BaaS membuat elektrifikasi kendaraan niaga "masuk akal secara bisnis" seperti yang dikatakan Williem, posisi Green Power LABA dalam ekosistem EV lokal akan menguat secara struktural. Kesimpulannya, ekspansi LABA ke sektor baterai EV melalui GOIN adalah taruhan yang berani tetapi logis. Perusahaan tidak hanya mengikuti tren, melainkan mencoba membentuk arsitektur layanan baterai yang bisa menjadi tulang punggung penggunaan kendaraan niaga listrik. Ke depan, pertanyaan utamanya bukan apakah elektrifikasi akan tumbuh, melainkan siapa yang sanggup menyediakan layanan baterai yang membuat pertumbuhan itu berkelanjutan—dan LABA jelas ingin berada di barisan depan.






