Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

BLACKPINK Members Race to Release: Strategi Solo yang Berbeda

BLACKPINK Members Race to Release: Strategi Solo yang Berbeda
Minat|Penyanyi/Band Pop

Lomba diam-diam: race to release solo para member BLACKPINK

Race to release solo para member BLACKPINK adalah fase ketika Jennie, Lisa, dan Jisoo merilis musik baru dalam jarak waktu berdekatan, masing-masing dengan tema, konsep, dan strategi promosi yang berbeda, sehingga membentuk persaingan tidak resmi di mata publik dan mengungkap arah artistik individu mereka sekaligus mempertahankan bayangan identitas grup yang telah dibangun bersama bertahun-tahun.

Yang menguat dari comeback BLACKPINK terbaru bukan sekadar angka, melainkan pergeseran cara kita membaca mereka sebagai artis solo. Jennie memulai babak baru dengan EP Fallen Angel pada 28 Agustus, berisi HEAVEN, Less than a Lover, dan Fallen Angel. Lisa menyusul dengan SaWaDiKa yang langsung mengguncang YouTube, sementara Jisoo datang empat jam kemudian dengan Click sebagai pembuka album solo penuh. Di permukaan, ini terlihat seperti perlombaan K-pop member rilis baru. Namun jika ditelisik, ini lebih mirip eksperimen strategi: satu sprint global, dua pembangunan karakter yang sengaja diperlambat. Di tengah hiruk-pikuk, Rosé memilih absen dulu, menciptakan keheningan yang justru menambah lapisan drama pada narasi Jennie Lisa Jisoo 2026.

BLACKPINK Members Race to Release: Strategi Solo yang Berbeda

Lisa: sprint global lewat SaWaDiKa dan kekuatan identitas lokal

SaWaDiKa menegaskan satu hal: ketika BLACKPINK solo comeback diarahkan untuk menangkap pasar global, Lisa adalah pelari jarak pendek yang nyaris tak tertandingi. Video musiknya dirilis pada pukul 7 pagi tanggal 4 September dan langsung menembus 70,8 juta penayangan hanya dalam 24 jam. Lebih dari dua hari kemudian, angka itu menyentuh 100 juta, menjadikannya video musik tercepat mencapai tonggak ini pada tahun tersebut dan tercepat kedua sepanjang sejarah artis solo K-pop, hanya kalah dari LALISA yang ironisnya juga miliknya. Di Spotify Global, SaWaDiKa debut di peringkat #13 dengan sekitar 2,7 juta streaming, disebut sebagai debut terbesar tahun itu untuk artis solo K-pop.

Yang menarik, ledakan ini bukan datang dari formula K-pop generik. SaWaDiKa sangat berakar pada kultur asal Lisa: Muay Thai, tuk-tuk, sampai stasiun Hua Lamphong memenuhi visual, mengubah MV menjadi kartu pos kultur yang hiper-pop. Strateginya jelas: meminjam bahasa global pop, tetapi menjual keunikan lokal sebagai identitas. Dalam konteks comeback BLACKPINK terbaru, Lisa memilih jalan "go big or go home"; bukan sekadar single, tetapi pernyataan posisi di puncak ekosistem YouTube dan streaming. Kekuatan Lisa saat ini adalah kemampuannya membuat konten terasa seperti event internasional, tanpa kehilangan rasa individu di dalam bayang-bayang merek BLACKPINK.

BLACKPINK Members Race to Release: Strategi Solo yang Berbeda

Jennie: Fallen Angel dan narasi eksplorasi daripada angka

Di sisi lain spektrum, comeback Jennie dengan EP Fallen Angel tidak diarahkan untuk meledak di hari pertama, dan fakta bahwa tidak terjadi ledakan menjadi bagian dari ceritanya. HEAVEN dan Less than a Lover masing-masing debut di peringkat #150 dan #196 di Spotify Global, dengan sekitar 1,31 juta dan 1,2 juta streaming. Lagu utama Fallen Angel bahkan belum sempat muncul di chart global di hari rilis. Di Korea Selatan, posisinya terbilang moderat: #17 di Bugs, #48 di Melon, dan #135 di Genie. Kutipan yang layak dicatat: "Kesuksesan Fallen Angel cukup beragam: pasar musik digital belum menunjukkan terobosan yang signifikan, sementara visual dan daya tarik internasional telah membantu Jennie mempertahankan popularitasnya."

Kalau comeback BLACKPINK terbaru dibaca sebagai peta strategi, Jennie memilih rute festival dan storytelling pelan. Ia sudah memanaskan panggung lebih dulu dengan membawakan tiga lagu yang belum dirilis, termasuk Heaven, di Governors Ball Music Festival 7 Juni, sekaligus terlibat langsung dalam penulisan lirik bersama beberapa penulis. Nuansa dreamlike, misterius, dan berani yang menyelimuti Fallen Angel menunjukkan eksplorasi diri: hubungan toksik di Heaven, nuansa lirih di Less than a Lover, hingga judul utama yang nyaris terdengar seperti pengakuan dosa. Secara komersial, ini mungkin bukan puncak Jennie. Tetapi secara artistik, ia sedang menguji batas persona “it girl” dengan materi yang kurang ramah chart namun kaya narasi; sebuah pilihan sadar di tengah tekanan angka.

BLACKPINK Members Race to Release: Strategi Solo yang Berbeda

Jisoo: Click dan strategi domestik pelan tapi stabil

Jisoo masuk ke arena dengan pendekatan yang bahkan lebih hati-hati. Click, single utama album solo penuh pertamanya, hadir empat jam setelah SaWaDiKa, menandai pertama kalinya dua member merilis produk solo di hari yang sama. Secara YouTube, ia memang berangkat lebih lambat: butuh sekitar 1 jam 46 menit untuk menyentuh 1 juta penonton dan menghasilkan 13 juta penayangan dalam 24 jam. Angka ini jauh di bawah sprint Lisa, tetapi pertumbuhan penontonnya digambarkan stabil, tanpa fluktuasi ekstrem.

Namun menilai Jisoo dengan kacamata pure global view count sama sekali tidak adil. Keunggulan Click muncul di pasar domestik; ia cepat naik di tangga lagu digital lokal seperti Melon, Genie, dan Bugs, sementara SaWaDiKa lebih mendominasi YouTube global. Di peta K-pop member rilis baru, Jisoo jelas memilih fondasi basis Korea yang kuat, kemudian membiarkan buzz internasional terbentuk secara organik. Ini adalah pacing pelan tapi pasti: ia tidak sedang mengejar status "video tercepat"; ia sedang meneguhkan dirinya sebagai penyanyi yang relevan di rumah sendiri. Identitas BLACKPINK tetap terasa dalam produksi, tetapi cara Jisoo merangkai vokal dan atmosfer Click memberi sinyal bahwa ia ingin dikenal bukan hanya sebagai wajah grup, melainkan sebagai pembangun mood yang konsisten di skena pop domestik.

Rosé dan masa depan solo BLACKPINK: dari keheningan ke evolusi

Di tengah hiruk-pikuk Jennie Lisa Jisoo 2026, keheningan Rosé terasa bising. Ketika tiga rekannya sibuk merilis EP, single, dan album, ia tidak menghadirkan MV baru, lagu baru, atau tanggal rilis pasti untuk karya selanjutnya. Dalam wawancara, Rosé menyebut dirinya sedang fokus pada pembuatan musik, eksplorasi diri, dan mencari arah baru, menyamakan proses pembuatan album dengan menyelami diri dan mendokumentasikan periode hidup tertentu. Fans merangkum fase ini dengan humor getir: "404 Not Found" – error, tak tersambung.

Jika tiga member lain menampilkan evolusi artistik lewat produk yang bisa dihitung angkanya, Rosé memilih evolusi versi tak kasat mata: riset, refleksi, dan penundaan. Secara kolektif, keempat jalur ini justru menggambarkan satu hal penting tentang BLACKPINK solo comeback: mereka tidak lagi sekadar menyalin formula grup, tetapi menghadirkan warna musik berbeda yang mempresentasikan identitas artistik dan eksplorasi visi masing-masing. Di masa depan, dinamika ini mungkin mengarahkan grup ke format "empat pilar" yang setara, di mana keberhasilan tidak hanya diukur dari rekor 24 jam, tetapi juga dari keberanian mengambil risiko kreatif. Kesimpulannya: race to release ini bukan perlombaan untuk menentukan siapa paling sukses, melainkan bab awal dari fase BLACKPINK sebagai ekosistem artis solo yang saling melengkapi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!