Centil Core: Dari Sindiran ke Pernyataan Identitas
Centil core Gen Z adalah tren estetika yang menghidupkan kembali kata “centil” sebagai ekspresi diri lewat warna, aksesori, dan riasan playful, menggeser maknanya dari sindiran terhadap perilaku genit menjadi simbol kebebasan gaya, keberanian tampil mencolok, dan identitas visual yang dirayakan di media sosial.
Selama puluhan tahun, kata “centil” dipakai untuk menyindir perempuan yang dianggap terlalu cari perhatian, bukan sebagai pujian. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah ini dilekatkan pada perilaku suka bergaya berlebihan agar terlihat menarik. Kini, lewat Centil Era dan centil core Gen Z, muatan negatif itu dibalik total: warna-warni playful, riasan yang tidak mengejar kesan natural semata, casing ponsel penuh manik-manik, hingga kutek cerah dipakai generasi muda sebagai identitas yang dirayakan. Yang dulu dianggap berlebihan, sekarang menjadi bahasa visual baru untuk menyatakan, “Ini gue, dan gue berhak terlihat seperti yang gue mau.”
Naykilla: Dari Konten Kreator ke Rujukan Identitas Gen Z
Jika centil core adalah bahasa visualnya, tren makeup Naykilla adalah kamus yang dipakai Gen Z untuk merangkai ekspresi itu. Belakangan, gaya makeup content creator Naykilla semakin banyak mencuri perhatian. Signature colorful dengan alis warna magenta, eyeshadow gradasi hijau-kuning, blush dan lipstik terang, ditambah pita rambut dan stiker wajah, menjadikan wajah sebagai kanvas penuh eksperimen. Salah satu sosok rujukan utama tren Centil Era ini adalah Naykilla, penyanyi hip-dut yang sedang naik daun.
Yang menarik, pengaruh Naykilla bukan hanya soal teknik rias. Tren makeup Naykilla membuktikan bahwa makeup adalah cara untuk berkreasi dengan bebas. Dalam ekosistem cewek Y dan Z yang aktif di Instagram dan TikTok, ia menjadi figur yang memberi legitimasi: centil tidak lagi soal menggoda orang lain, melainkan menggoda batasan sosial yang mengekang gaya. Menjadi terang, penuh aksesori, dan mencolok bukan “dosa estetika”, melainkan pilihan sadar untuk mengklaim ruang visual di timeline dan di kehidupan nyata.
Fenomena Recreate: Komunitas Online Mengubah Tren Jadi Gerakan
Di TikTok dan Instagram, tren TikTok beauty tidak hidup sendirian; ia tumbuh lewat budaya recreate yang menjadikan setiap wajah sebagai remix dari referensi bersama. Sejumlah artis dan selebgram tertarik mencoba recreate makeup Naykilla dan membagikannya di media sosial. Mulai dari Uly Novita Siahaan, yang menutup alis asli dan menggantinya dengan magenta senada rambut, lengkap dengan kepangan, eyeshadow hijau-kuning, pita bintang, dan stiker wajah warna-warni, sampai netizen ramai menilai tampilannya nyaris tak berbeda dari versi asli.
Ria Ricis ikut tren dengan ciri khasnya: hijab magenta menggantikan rambut Naykilla, pita rambut di sekeliling hijab, tooth gems, alis dan blush satu warna tapi lebih halus, menghasilkan tampilan menarik dan colorful. Qheyla Zavyera Valendro menyandingkan videonya dengan video Naykilla; potongan rambut, makeup, aksesori, hingga baju pink bermotif dibuat semirip mungkin, sampai netizen bingung membedakan keduanya. Di sisi lain, Jessica Jane dan Ashilla menampilkan versi lebih lembut namun tetap penuh warna dan stiker wajah, sementara Fatya Biya secara terbuka mengaku deg-degan karena keluar dari comfort zone-nya untuk mengikuti tren ini. Itulah kekuatan ekspresi diri makeup: setiap recreate bukan sekadar tiruan, tetapi pernyataan, “Gaya ini sah untuk gue adaptasi dengan cara gue sendiri.”
Nilai Baru Gen Z: Kebebasan Ekspresi dan Penolakan Norma Lama
Tren Centil Era yang muncul belakangan membalikkan seluruh muatan negatif kata “centil”. Jika dulu centil dilekatkan pada stereotip perempuan genit dan cari perhatian, kini gaya berpakaian era 80–90-an dengan warna-warni playful dan riasan yang tidak lagi mengejar natural semata dipakai generasi muda sebagai identitas yang dirayakan. Di sini terlihat jelas evolusi nilai identitas Gen Z: mereka menolak dikontrol oleh standar “wajar” yang diwariskan generasi sebelumnya, dan memilih membuat standar sendiri yang lebih cair dan inklusif.
Nilai-nilai baru ini tampak pada cara mereka memaknai centil core Gen Z bukan sebagai “salah kostum”, melainkan sebagai strategi visual untuk menunjukkan keberanian dan agency. Tren makeup Naykilla, yang memberi ruang eksplorasi luas dari natural hingga colorful, menjadi medium untuk menegaskan bahwa tubuh dan wajah bukan milik norma sosial tradisional, melainkan milik individu. Dalam budaya di mana kata centil pernah digunakan untuk mengontrol perempuan, transformasi ini adalah bentuk perlawanan halus namun tegas: Gen Z memilih membuat kata itu berpihak pada mereka. Itu lah yang menjadikan tren TikTok beauty seputar centil core bukan sekadar estetika, melainkan gerakan kecil mengubah bahasa, persepsi, dan akhirnya, cara mereka memandang diri sendiri.






