Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Car Free Day Dua Hari: Peluang Besar, Tantangan Serius

Car Free Day Dua Hari: Peluang Besar, Tantangan Serius
Minat|Asia Tenggara

CFD Sabtu-Minggu: Ide Rasional, Tapi Tidak Bisa Hanya Menutup Jalan

Car Free Day Jakarta adalah kebijakan penutupan sementara ruas jalan utama dari kendaraan bermotor pada hari tertentu, yang bertujuan memberi ruang aman bagi warga untuk berolahraga, bersosialisasi, sekaligus menekan polusi udara Jakarta melalui pengurangan emisi dan dorongan perubahan pola mobilitas perkotaan. Usulan CFD dua hari setiap pekan—Sabtu dan Minggu—yang kini dikaji Gubernur Pramono Anung bukan sekadar penambahan jadwal, melainkan ujian serius bagi arah kebijakan lingkungan DKI. Di atas kertas, ide ini tampak sederhana: lebih banyak jalan ditutup, emisi kendaraan turun, warga punya waktu lebih luas untuk menikmati kota. Namun realitas Jakarta tidak sesederhana itu. Jalan-jalan yang selama ini menjadi koridor CFD adalah nadi ekonomi dan mobilitas yang berdenyut bahkan di akhir pekan. Menutupnya dua kali seminggu berarti mengubah ritme kota, dan setiap perubahan ritme selalu menimbulkan friksi jika tidak dipersiapkan dengan teliti.

Mengapa Wacana CFD Dua Hari Muncul Sekarang?

Pemicu wacana CFD Sabtu-Minggu jelas: kegelisahan atas polusi udara Jakarta yang kian kronis dan tuntutan akan kebijakan lingkungan DKI yang lebih tegas. Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat mengusulkan Car Free Day dua kali sepekan sebagai salah satu langkah konkret menekan emisi di kota besar, dengan harapan Jakarta menjadi pelopor. Pramono menyebut usulan ini "cukup rasional" dan telah dibahas secara internal di Balai Kota, menandakan ide tersebut tidak asal datang lalu dibiarkan menggantung. Saat ini Car Free Day Jakarta berlangsung setiap Minggu pagi di dua lokasi utama secara bersamaan: Sudirman–MH Thamrin dan Rasuna Said, dengan jam operasional sekitar 06.00–10.00 WIB di Sudirman–Thamrin dan 06.00–09.00 WIB di Sudirman. Menambah satu hari baru berarti menggandakan eksperimen kebijakan di jantung kota. Pertanyaannya: apakah CFD dua hari akan sekadar menjadi simbol hijau, atau benar-benar mengubah kualitas udara?

Pertimbangan Gubernur: Polusi Boleh Turun, Aktivitas Warga Jangan Tumbang

Pramono tampak menempatkan diri di tengah: mendukung gagasan, tetapi menolak tergesa-gesa. Ia mengakui CFD sudah menyebar ke hampir semua kota administrasi di Jakarta, namun koridor Sudirman–Thamrin dan Rasuna Said tetap menjadi sorotan karena fungsi ekonominya yang besar. Ia tegas menyebut pelaksanaan CFD Sabtu tidak bisa dilakukan serentak di dua lokasi tersebut; pemerintah mempertimbangkan aktivitas perkantoran, hotel, dan pertokoan yang tetap berjalan di akhir pekan. Kekhawatiran utamanya tepat: "Jangan sampai keinginannya untuk membuat warga sehat ternyata malah membuat warga tidak sehat karena harus menanggung beban jalan yang ditutup," kata Pramono. CFD yang mengganggu akses kerja, menghambat tamu hotel, atau memutus pasokan toko jelas akan memunculkan resistensi. Di sisi lain, menunda keputusan terlalu lama berisiko membuat CFD Sabtu-Minggu menjadi wacana tanpa arah. Pramono berjanji keputusan akan diambil "pada saat yang tepat", tetapi kota yang sesak polusi tidak punya kemewahan waktu tanpa batas.

Suara DPRD dan Warga: Rute, Jam, dan Rekayasa Lalu Lintas Jadi Kunci

DPRD DKI, melalui anggota Komisi B Dwi Rio Sambodo, mendukung ide CFD dua hari namun menuntut kajian matang yang melibatkan pengguna jalan, pelaku usaha, warga sekitar, dan peserta CFD. Bagi legislatif, dampak sosial dan ekonomi tidak boleh menjadi catatan kaki; ia harus duduk sejajar dengan tujuan lingkungan. Rio mendorong rekayasa lalu lintas yang fleksibel, dari pengalihan arus bertahap, optimalisasi lampu lalu lintas, sampai sistem satu arah sementara di titik strategis. Di lapangan, warga yang mendukung mengusulkan rute CFD Sabtu dibedakan dari Minggu, sekaligus jam operasional yang lebih pendek agar lalu lintas kerja tetap bergerak. Usulan ini realistis: tantangan utama bukan sekadar menutup jalan, melainkan menentukan rute dan jam baru yang tidak mematikan mobilitas dan bisnis. Tanpa desain ini, CFD Sabtu-Minggu berisiko menjadi kebijakan bising—ramai di media, menyulitkan di jalan. Keberhasilan bergantung pada seberapa jauh pemerintah mau mendengar detail pengalaman orang-orang yang hidup di sekitar rute CFD.

Manfaat Ganda CFD Ekspansi dan Jalan Menuju Keputusan

Rio melihat CFD dua kali sepekan sebagai peluang besar: warga punya lebih banyak waktu untuk berolahraga dan bersosialisasi di ruang publik yang aman, sambil polusi udara berkurang. Ia bahkan menyebut manfaat gandanya meliputi kesehatan, kualitas lingkungan, penguatan UMKM, dan ruang pendidikan serta kebudayaan. Di titik ini, gambaran ideal CFD Sabtu-Minggu sudah jelas: Car Free Day Jakarta menjadi agenda rutin akhir pekan yang sehat, inklusif, dan ramah bisnis—bukan sekadar penutupan jalan. Namun jalan menuju ke sana akan ditentukan oleh keputusan politik dan kapasitas teknis: Pemprov DKI sedang mengkaji internal, DPRD mendorong tim terpadu dan sosialisasi jauh hari, sementara publik menunggu kepastian rute dan jam. Jika keputusan diambil dengan data lapangan dan keberanian merombak pola mobilitas, CFD Sabtu-Minggu bisa menjadi etalase kebijakan lingkungan DKI yang berfungsi, bukan simbol hijau yang hampa. Jika tidak, ia hanya menambah satu lagi wacana yang terserak di udara berdebu kota.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!