Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Doomscrolling dan Doom Spending: Dua Kebiasaan Digital yang Menggerus Mental Gen Z

Doomscrolling dan Doom Spending: Dua Kebiasaan Digital yang Menggerus Mental Gen Z
Minat|Kesehatan Mental

Dari Layar Gelap ke Keranjang Belanja: Inti Masalahnya

Doomscrolling adalah kebiasaan kompulsif terus-menerus mengonsumsi berita negatif di media sosial atau internet meski kita tahu konten tersebut merusak kesehatan mental, sedangkan doom spending adalah tindakan membelanjakan uang secara tak terkendali sebagai mekanisme koping untuk meredakan kecemasan terhadap masa depan; keduanya saling berkelindan sebagai pola pelarian emosional yang memberi rasa lega sesaat tetapi menambah beban psikologis dan finansial jangka panjang.

Fenomena ini tidak lagi sekadar soal kurang disiplin menabung atau sekadar kebiasaan main ponsel sebelum tidur. Doomscrolling gen z muncul dari dorongan untuk terus membaca berita buruk tentang krisis ekonomi, PHK, dan masa depan kerja yang terasa suram, sementara doom spending kecemasan hadir sebagai “obat sementara” lewat belanja impulsif online: sepatu baru, tiket konser, atau kopi mahal yang memberi ilusi bahwa hidup masih bisa dinikmati. Gen Z berada di tengah badai ini, dengan ponsel di tangan dan aplikasi e-commerce hanya sejauh satu ketukan. Pertanyaannya bukan lagi apakah kebiasaan ini berbahaya, melainkan seberapa lama kita akan membiarkan dua kebiasaan digital ini mengatur emosi dan keputusan finansial kita.

Cara Kerja Doomscrolling: Bias Negatif dan Algoritma yang Mengikat

Doomscrolling gen z berakar pada cara kerja otak yang memang lebih peka terhadap ancaman. Secara psikologis, dorongan untuk terus membaca berita buruk datang dari bias negativitas: otak kita dirancang untuk menangkap potensi bahaya demi bertahan hidup, dan di era digital, bahaya itu tampil sebagai rentetan kabar bencana, konflik geopolitik, resesi, hingga kisah tragis di media sosial. Otak memperlakukan berita negatif ini seperti ancaman nyata yang harus dipahami, sehingga memicu dorongan “cari informasi lagi” meski kita sudah lelah dan cemas.

Rasa cemas media sosial semakin diperparah oleh algoritma yang sengaja mengutamakan konten dengan emosi kuat seperti marah dan takut karena konten seperti ini memicu interaksi tertinggi. Fitur infinite scroll menghapus titik berhenti alami: tanpa halaman terakhir, jempol terus mengusap layar nyaris tanpa disadari. Akibatnya, tubuh terus melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin seolah ancaman terjadi di depan mata, memicu kecemasan berkelanjutan, rasa bersalah saat mencoba beristirahat, dan pada banyak kasus mengganggu kualitas tidur serta meningkatkan risiko depresi. Konsumsi informasi yang sehat mengharuskan tujuan jelas dan durasi terbatas, sementara doomscrolling adalah sekadar tenggelam dalam kegelapan layar tanpa arah.

Doom Spending: Pelarian Emosional yang Menggadaikan Masa Depan

Jika doomscrolling adalah pintu masuk kecemasan, doom spending kecemasan adalah pintu pelarian yang tampak paling gampang. Di dunia finansial dan psikologi, doom spending didefinisikan sebagai tindakan membelanjakan uang secara tak terkendali sebagai mekanisme koping untuk meredakan kecemasan terhadap masa depan. Ini adalah bentuk avoidance coping: alih-alih menghadapi rasa takut soal rumah, pensiun, atau karier, kita lari ke kepuasan instan yang bisa dibeli dari aplikasi. Ketika cita-cita besar seperti memiliki rumah atau dana pensiun terasa makin tidak rasional untuk dicapai, otak bergeser mencari sesuatu yang bisa dinikmati hari ini, sekarang juga.

Belanja impulsif online memberi rasa lega singkat, ilusi kendali, dan kesan bahwa kita masih punya kuasa atas hidup: kita mungkin tidak bisa mengendalikan inflasi, tetapi kita bisa memilih sepatu mana yang akan tiba di depan pintu. Namun efeknya brutal ketika euforia belanja memudar: saldo menipis, tagihan paylater menumpuk, dan kecemasan finansial yang semula coba diredakan malah berlipat. Seperti yang digambarkan dengan tajam, "Kita belanja karena cemas, lalu cemas karena telah belanja". Doom spending adalah puas sesaat yang dibayar dengan stres jangka panjang—dan banyak anak muda bahkan belum menyadari bahwa mereka sedang menjual masa depan demi paket yang tiba besok.

Mengapa Gen Z yang Paling Terseret: Paylater dan Banjir Berita Buruk

Gen Z lebih rentan terhadap kombinasi doomscrolling dan doom spending bukan hanya karena mereka lahir dengan ponsel di tangan, tetapi karena seluruh ekosistem digital dibangun di sekeliling mereka. Paparan konstan terhadap berita negatif membuat cemas media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari: kabar krisis iklim, ketidakpastian ekonomi, dan persaingan kerja yang ketat memicu kecemasan eksistensial bahwa masa depan mereka suram. Di saat yang sama, akses ke platform e-commerce, paylater, dan pinjaman digital mengubah setiap impuls emosional menjadi transaksi yang sangat mudah dilakukan. Ketika rasa cemas akan masa depan bertemu dengan sistem pembayaran yang menunda “rasa sakit” saat mengeluarkan uang, keputusan finansial rasional sering kalah oleh dorongan emosional.

Data menunjukkan betapa seriusnya hal ini. Riset Credit Karma mengungkapkan sekitar 37% Gen Z mengaku sering melakukan doom spending untuk meredakan stres. Pengguna fitur paylater dalam kelompok usia produktif juga didominasi generasi muda, dengan Gen Z menyumbang 26,5% dari total pengguna. Ironisnya, kemudahan utang instan ini jarang dipakai untuk tujuan produktif; porsi terbesar justru terserap ke konsumsi gaya hidup seperti fesyen, elektronik, dan perawatan tubuh. Gen Z akhirnya berada di persimpangan berbahaya: di satu sisi mereka dibombardir narasi bahwa masa depan tidak aman, di sisi lain mereka digoda untuk mengorbankan stabilitas masa depan itu demi sedikit ketenangan hari ini.

Memutus Siklus: Mengambil Kembali Kendali Mental dan Finansial

Jika doomscrolling membuka pintu kecemasan dan doom spending menjadi pelarian yang mahal, maka tugas Gen Z hari ini adalah mengambil kembali kendali atas dua hal: perhatian dan uang. Dari sisi informasi, bedakan jelas antara konsumsi sehat dan doomscrolling: tanya diri sendiri tujuan membuka aplikasi, batasi durasi, dan perhatikan kondisi fisik setelah berhenti. Layar yang membuat leher tegang, mata perih, dan jantung berdebar bukan lagi alat informasi, melainkan pemicu stres. Gunakan pengatur waktu aplikasi, ciptakan area bebas ponsel (meja makan, kamar tidur), dan secara aktif "de-eskalasi" algoritma dengan memilih tidak tertarik pada konten yang memicu ketakutan, lalu mengikuti akun yang memberi edukasi positif atau hiburan menenangkan.

Di sisi finansial, perlakukan setiap keinginan belanja impulsif online sebagai sinyal emosi, bukan kebutuhan. Tunda transaksi, cek kembali alasan di balik keinginan itu, dan sadari bahwa doom spending kecemasan adalah coping jangka pendek yang menggadaikan ketenangan jangka panjang. Paylater dan kredit digital seharusnya tidak menjadi bensin bagi api konsumtif, tetapi alat yang dipakai dengan hati-hati dan disadari batasnya. Gen Z tidak wajib menjadi generasi yang hancur oleh layar dan utang; mereka bisa menjadi generasi yang paling sadar, paling kritis, dan paling berani berkata: "Saya berhenti scroll, saya berhenti belanja karena cemas, dan saya memilih masa depan yang lebih tenang." Bagi generasi muda, menyadari bahwa diri sendiri sedang terjebak dalam lingkaran layar gelap ini adalah langkah awal yang sangat penting.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!