Makanan Indonesia di Drakor: Lebih dari Sekadar Properti
Makanan Indonesia di drakor adalah berbagai produk kuliner yang diproduksi di Indonesia, mulai dari permen, wafer, biskuit, hingga mi instan, yang muncul secara jelas dalam adegan drama Korea dan ikut membentuk cerita, karakter, dan pengalaman menonton penonton lintas budaya. Ketika para tokoh drakor membuka bungkus camilan atau memasak mi instan, yang kita lihat bukan hanya promosi produk, melainkan bukti bahwa kuliner Asia saling berkelindan di layar. Penulis berpendapat, kemunculan makanan ini adalah bentuk pengakuan bahwa selera penonton sudah global. Penonton drakor tidak lagi hanya mengenal kimchi atau ramyeon; mereka mulai akrab dengan permen kopi, wafer krim, dan mi instan yang selama ini menghiasi rak minimarket Asia. Di tengah arus konten yang seragam, detail kecil seperti ini membuat cerita terasa lebih dekat dan nyata.

Kopiko: Permen Kopi yang Ikonik di Layar Kecil
Sulit membahas makanan Indonesia di drakor tanpa menyebut Kopiko. Permen kopi produksi PT Mayora Indah Tbk ini sudah berkali-kali muncul di berbagai drama populer seperti Vincenzo, Hometown Cha-Cha-Cha, Today’s Webtoon, dan My Royal Nemesis. Di banyak adegan, Kopiko bukan sekadar camilan; ia hadir sebagai teman begadang, hadiah kecil, atau pemecah keheningan di kantor. Ketika penonton melihat tokoh favoritnya mengulum permen kopi, rasa penasaran pun muncul: seperti apa rasanya? Di sinilah kekuatan representasi: satu bungkus kecil bisa mendorong jutaan penonton untuk mencari, mencicipi, lalu membicarakannya di media sosial. Kopiko, yang dulu identik dengan toples di ruang tamu, mendadak menjadi bintang tamu tetap di dunia drakor, mengaburkan batas antara produk lokal dan ikon global.
Wafer Nabati dan Danisa: Camilan yang Mengisi Dunia Karakter
Selain permen kopi, makanan Indonesia di drakor juga hadir dalam bentuk camilan yang lebih akrab di meja kerja: wafer dan biskuit. Wafer Nabati, produksi PT Kaldu Sari Nabati Indonesia, sempat tampil dalam drama The Fabulous yang tayang di sebuah platform streaming dan dibintangi Chae Soo Bin serta Minho SHINee. Sementara itu, Danisa Butter Cookies produksi PT Mayora Indah Tbk muncul di My Demon dan King the Land. Kehadiran camilan ini memberi warna pada kehidupan karakter: kotak biskuit di ruang tamu, wafer di meja kantor, semua memberi pesan bahwa mereka juga manusia yang butuh ngemil saat stres. Penonton pun menangkap sinyal halus bahwa kuliner Asia di K-drama bukan monolit; ada beragam rasa dan merk yang saling berbagi panggung, memperkaya imajinasi tentang apa yang disebut “camilan sehari-hari” di Asia.

Indomie di Drama Korea: Mi Instan yang Menembus Cerita Aksi
Ketika mi instan merek Indomie tampil di drama Korea Vagabond, banyak penonton langsung berhenti sejenak: itu mi favorit di dapur sendiri! Indomie, yang diproduksi PT Indofood Sukses Makmur Tbk, selama ini dikenal karena rasa dan popularitasnya di berbagai negara. Kemunculannya di tengah alur penuh ketegangan Vagabond, yang dibintangi Bae Suzy dan Lee Seung Gi, memperlihatkan bagaimana satu mangkuk mi instan bisa menyelipkan keintiman di antara adegan aksi. Penulis melihat, Indomie di drama Korea bukan hanya “easter egg” untuk penggemar, tetapi simbol bahwa meja makan Asia kini berbagi menu. Ketika tokoh drakor memasak Indomie, penonton yang biasa menyantapnya merasa diakui: selera mereka sah, rasanya diperhitungkan, dan cerita besar pun bersedia memberi ruang untuk satu panci kecil mi instan yang akrab.
Dari Layar ke Lidah: Mengapa Representasi Makanan Penting
Jika ditarik garis, pola kemunculan makanan Indonesia di drakor memperlihatkan satu hal: makanan adalah bahasa universal yang mudah dipahami siapa pun. Ketika penonton melihat permen, wafer, biskuit, atau mi instan muncul di adegan, mereka tidak sedang menonton iklan; mereka menyaksikan momen sehari-hari yang kebetulan sangat dekat dengan hidup sendiri. Di sinilah jembatan halus terbentuk. Penggemar drakor yang awalnya penasaran bisa berubah menjadi konsumen, lalu menjadi duta kecil yang membagikan cerita di media sosial. Penulis berpendapat, inilah bentuk paling lembut dari pertukaran budaya: tanpa ceramah, tanpa kampanye besar, hanya lewat satu bungkus camilan yang dibuka pelan di depan kamera. Pada akhirnya, makanan viral drakor bukan hanya soal produk yang laku, tetapi tentang rasa kebersamaan yang lahir dari satu gigitan yang sama.










