Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Son Ye-jin dan Kompleksitas Lady Cho di The Scandal

Son Ye-jin dan Kompleksitas Lady Cho di The Scandal
Minat|Drama Korea

Lady Cho: Karakter yang Dibuat untuk Tidak Nyaman

Lady Cho dalam drama Korea kompleks The Scandal adalah seorang perempuan bangsawan di era Joseon yang sengaja ditulis sebagai figur ambigu secara moral, menghadirkan perpaduan antara hasrat pribadi, tekanan sosial, dan permainan manipulatif yang membuat penonton dipaksa mempertanyakan batas antara korban, pelaku, dan produk zamannya sendiri. Son Ye-jin terang-terangan mengakui bahwa perannya di drama sejarah The Scandal mungkin tidak akan disukai semua penonton. Dan di situlah letak daya tariknya: Lady Cho bukan tokoh yang dirancang untuk menghibur, melainkan untuk mengganggu kenyamanan kita sebagai penonton yang terbiasa mencari sosok “baik” yang mudah dipihak. Ia adalah perempuan independen yang berusaha menentang suasana konservatif Dinasti Joseon (1392–1910), tetapi dengan cara yang tidak selalu mulia atau simpatik.

Son menyebut Lady Cho sebagai sosok rumit sekaligus menarik untuk diperankan, karena kompleksitas itu memaksa dirinya terus memikirkan apa yang ada di pikiran karakter ini. Ketika seorang aktor mengatakan, “Karena karakternya sulit, itu terasa menarik bagi saya,” itu adalah pernyataan sikap terhadap seni peran, bukan sekadar promosi. Ia menolak pendekatan manis: “Dalam beberapa hal, dia sosok yang menyedihkan. Tapi saya tidak berakting dengan tujuan membuat penonton mengasihani atau memahaminya.” Lady Cho The Scandal, dengan segala lapisan manipulasi dan kerinduannya pada mimpi yang tak terpenuhi, menantang ekspektasi penonton yang menginginkan tokoh perempuan kuat yang sepenuhnya heroik.

Son Ye-jin dan Kompleksitas Lady Cho di The Scandal

Mengapa Son Ye-jin Memilih Peran yang Tidak Dicintai Semua Orang

Pilihan Son Ye-jin memainkan Lady Cho adalah keputusan artistik yang menolak zona aman. Portofolionya meliputi gadis polos di Summer Scent (2003) hingga ibu realistis dalam thriller komedi hitam No Other Choice (2025), menunjukkan rentang karakter yang luas. Dengan pengalaman seperti itu, ia cukup “aman” untuk bertahan pada peran yang disukai publik. Namun ia memilih sebaliknya: karakter yang mungkin memicu komentar, "Ada apa dengan wanita itu?"—dan Son merasa itu wajar. Sikap ini mengandung kritik halus terhadap cara penonton menilai tokoh perempuan di drama Korea kompleks: aktris sering didorong memainkan sosok yang patuh pada standar moral penonton, bukan standar realitas manusia yang berlapis.

Dalam wawancaranya, Son mengaku harus terus memikirkan isi kepala Lady Cho, bahkan belum merasa sepenuhnya menemukan jawabannya. Bagi penonton yang terbiasa dengan karakter “jelas”, ini bisa terasa menyebalkan. Tetapi justru di sana nilai analisis peran aktris: Son membuka ruang bagi interpretasi, bukan menutupnya dengan satu kunci jawaban. Perubahan cara pandangnya terhadap akting—dari penuh rencana hingga sekarang lebih menerima bahwa segalanya tak selalu sesuai rencana—selaras dengan pilihannya atas peran menantang seperti Lady Cho. Ia berhenti mengejar kepuasan instan penonton dan memilih membangun kekuatan batin serta energi yang pelan-pelan tumbuh lewat karakter yang sulit disukai, tetapi sulit dilupakan.

Ahn Hui Yeon: Moral, Tabu, dan Ancaman Nyawa di Era Joseon

Untuk memahami betapa radikalnya dunia The Scandal, kita perlu melihat janda saleh Ahn Hui Yeon. Di mata masyarakat Joseon, ia melakukan tiga perbuatan yang tabu: memeluk agama Katolik, menolak bunuh diri sebagai janda, dan jatuh cinta pada pria lain setelah suaminya berpulang. Dari memeluk agama Katolik hingga melanjutkan hidup sebagai janda, perilakunya dinilai bertentangan dengan nilai sosial yang menuntut kesucian mutlak demi kehormatan keluarga. Meski jatuh cinta itu manusiawi, Hui Yeon dicap hina karena dianggap mengkhianati mendiang suami. Akibatnya, ia tidak hanya dicemarkan reputasinya, tetapi juga sampai terancam nyawanya dalam drama Korea kompleks ini.

Di sini, The Scandal mengangkat isu moral dan sosial yang jauh melampaui kisah romansa adaptasi Dangerous Liaisons. Hui Yeon adalah cermin dari perempuan yang dipaksa memikul standar kesucian yang tak realistis, sementara keinginannya diperlakukan sebagai dosa. Ketika Cho Won mencoba mendekatinya, ia semula tegas menolak, mengingatkan dirinya sebagai wanita berbudi luhur lewat balasan surat yang konsisten. Namun ia akhirnya tidak mampu membohongi perasaannya sendiri dan menuliskan surat balasan lain yang mencerminkan kata hati. Pilihan itu bukan sekadar “skandal”, melainkan pernyataan bahwa manusia, termasuk janda yang dikurung norma, berhak jatuh cinta lagi. Fakta bahwa konsekuensi pilihan ini adalah ancaman nyawa menegaskan betapa kejamnya tatanan moral yang dibongkar drama ini.

Benturan Lady Cho dan Hui Yeon: Kritik Halus terhadap Penonton

Lady Cho dan Ahn Hui Yeon berada di dua ujung spektrum: satu memanipulasi permainan berbahaya bersama playboy Cho Won, satu berusaha tetap saleh namun terseret dalam skandal. Namun keduanya sama-sama merasakan dunia yang membatasi perempuan. Lady Cho harus melepaskan banyak keinginan setelah menikah dengan suami berpengaruh, di masa ketika status perempuan memiliki batasan ketat. Meski kehidupannya tampak elegan dan stabil, ia merindukan mimpi yang tak terpenuhi dan, dalam beberapa hal, tampak menyedihkan. Hui Yeon, di sisi lain, dihukum karena berusaha hidup sebagai subjek moral yang memilih jalan sendiri: memeluk keyakinan baru, menolak bunuh diri, dan mengakui cinta yang datang kemudian.

Yang menarik, Son Ye-jin menolak memohon empati penonton atas Lady Cho. Ia seakan menantang kita: jika penonton bertanya “Ada apa dengan wanita itu?”, reaksi tersebut sah, tetapi patut dipertanyakan balik. Apakah kita menilai Lady Cho lebih keras daripada tokoh laki-laki yang sama manipulatif? Apakah kita mengasihani Hui Yeon, tetapi tetap menuntutnya mematuhi kesucian janda? The Scandal menggeser fokus dari sekadar plot skandal menjadi cermin bagi penonton yang terbiasa menonton drama Korea kompleks sebagai hiburan moral yang hitam-putih. Son Ye-jin karakter Lady Cho, bersama karakter Hui Yeon, bekerja sebagai kritik lembut: perempuan di layar tidak harus suci atau heroik untuk layak diceritakan.

Son Ye-jin, Orang Tua, dan Kedewasaan Membaca Karakter

Perubahan Son Ye-jin sebagai pribadi memberi konteks menarik bagi cara ia membaca Lady Cho. Ia menyesal tidak sepenuhnya menikmati usia 20-an, selalu merasa aktingnya konyol dan tidak menyukai wajahnya. Kini, ketika melihat foto beberapa tahun lalu, ia menyadari betapa mudanya dirinya dan berkata, “Saya harus ingat bahwa hari ini adalah hari termuda saya.” Sikap ini mencerminkan penerimaan terhadap diri sendiri—dan mungkin terhadap karakter yang tidak sempurna seperti Lady Cho. Di sisi lain, prioritasnya bergeser: ia ingin tumbuh dengan perlahan mengambil peran menantang, sambil menempatkan peran sebagai orang tua sebagai prioritas lain.

Ia menikah dengan Hyun Bin pada 2022 dan dikaruniai seorang bayi laki-laki pada tahun yang sama. Menariknya, ia menegaskan bahwa mereka seperti orang tua lain yang begadang saat anak sakit, bukan pasangan glamor yang jauh dari realitas. Perspektif “orang tua biasa” ini terasa nyambung dengan caranya menolak memoles Lady Cho menjadi sosok yang mudah dikasihani. Ia tahu hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana dan sekarang ingin membangun kekuatan batin ketimbang sekadar berlari dengan kekuatan penuh. Di titik ini, analisis peran aktris Son Ye-jin tidak bisa dilepaskan dari kedewasaan pribadinya: ia memilih peran yang memaksanya, dan penonton, untuk menerima bahwa manusia—termasuk perempuan di era Joseon—berhak rumit.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!