Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ketika Lagu Kemesraan Menyatukan Tawa dan Air Mata di Griya Lansia

Ketika Lagu Kemesraan Menyatukan Tawa dan Air Mata di Griya Lansia
Minat|Menyanyi

Kemesraan di Aula: Saat Lagu Menjadi Terapi Emosi Kolektif

Kekuatan emosional musik tradisional bagi lansia adalah kemampuan lagu-lagu yang akrab di telinga mereka untuk memanggil kenangan, memicu tawa dan air mata sekaligus, serta mengubah ruang panti jompo menjadi tempat katarsis, pelukan sosial, dan pengakuan bahwa masa tua bukan akhir dari kegembiraan, melainkan babak baru untuk merasakan kembali kemesraan yang pernah dimiliki. Di aula Griya Lansia Husnul Khotimah, Wajak, lagu “Kemesraan” yang mengalun pada Senin (12/10/2026) bukan sekadar hiburan ringan bagi penghuni yang menua. Ia menjelma menjadi semacam terapi kolektif: sejumlah lansia bernyanyi, bertepuk tangan, dan berjoget menyambut kedatangan komunitas pensiunan kepala stasiun RRI dari berbagai daerah. Di balik senyum, ada air mata yang jatuh pelan, menandai betapa musik mampu menyentuh ruang terdalam yang sering tak tersentuh oleh percakapan sehari-hari.

Ketika Lagu Kemesraan Menyatukan Tawa dan Air Mata di Griya Lansia

Tawa, Kursi Roda, dan Air Mata: Potret Rawan Psikologis Lansia

Momen paling mengguncang hari itu bukan pada nada tinggi atau tepuk tangan paling keras, melainkan pada sosok yang diam di kursi roda, menangis tersedu di tengah riuh nyanyian dan joget teman-temannya. Tangis tanpa kata itu adalah alarm sunyi tentang betapa rapuhnya dunia batin lansia terlantar. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang memicu air matanya: kenangan masa lalu yang tiba-tiba datang, kerinduan kepada keluarga, atau rasa haru karena ada orang yang sudi hadir dan peduli. Di sekelilingnya, beberapa lansia lain memaksa tubuh renta mereka berdiri, berjalan tertatih, mengenakan sarung, dengan penglihatan terbatas, demi ikut bergembira. Inilah koneksi emosional bernyanyi yang sering diremehkan: satu lagu mampu memperlihatkan spektrum emosi penuh, dari euforia hingga kesedihan mendalam, tanpa perlu satu pun kalimat psikolog klinis.

Ketika Lagu Kemesraan Menyatukan Tawa dan Air Mata di Griya Lansia

Bernyanyi Bersama: Aktivitas Sosial Panti Jompo yang Menghidupkan

Jika kita bicara musik dan kesehatan mental, pemandangan di Griya Lansia Husnul Khotimah adalah contoh nyata bahwa aktivitas sosial panti jompo tidak boleh berhenti pada jadwal rutin yang kaku. Di lembaga yang merawat 212 lansia terlantar dari berbagai daerah ini, hari-hari mereka diisi dengan pola pembinaan menyerupai pesantren: persiapan salat Subuh sejak pukul 03.30 WIB, doa bersama, istighosah, senam, dan sarapan. Semua itu penting, tetapi kehadiran sesi bernyanyi bersama seperti saat lagu “Kemesraan” dinyanyikan jelas menambah lapisan kesejahteraan psikologis. Respons fisik—bertepuk tangan, berjoget, berusaha berdiri meski tertatih—menunjukkan engagement emosional yang mendalam, bukan sekadar mengikuti acara. Bagi mereka yang hari-harinya diwarnai keterbatasan, pertemuan seperti itu dapat menjadi kenangan yang menghangatkan hati, bukti bahwa mereka masih bagian dari komunitas yang hidup.

Musik sebagai Jembatan: Antara Pensiunan RRI dan Penghuni Griya Lansia

Hari itu, lagu “Kemesraan” mempertemukan dua kelompok yang sama-sama telah melewati perjalanan panjang kehidupan: para pensiunan RRI yang datang sebagai komunitas Jawara-Jawarawati, dan para penghuni Griya Lansia yang menyambut mereka dengan tawa, nyanyian, dan air mata. Para pensiunan membawa kenangan masa pengabdian, sementara para lansia di panti membawa cerita tentang keluarga, perjuangan, kehilangan, dan kerinduan yang sering tak terucap. Di titik pertemuan itulah musik tradisional berfungsi sebagai jembatan intergenerasi yang efektif. Tanpa perlu diskusi panjang, mereka saling memahami lewat bait lagu yang sama-sama dikenal. Kunjungan itu bukan sekadar silaturahmi; rombongan juga menyerahkan bingkisan sembako dan bantuan uang tunai untuk membantu kebutuhan para penghuni, diserahkan langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Pensiunan RRI, Anhar Achmad, bersama Ketua Jawara-Jawarawati, Budiningrum. Bantuan material penting, tetapi yang lebih menyentuh adalah pesan bahwa para lansia tidak dilupakan.

Ketika Lagu Kemesraan Menyatukan Tawa dan Air Mata di Griya Lansia

Di Balik Senyum: Keterbatasan, Doa, dan Tanggung Jawab Kolektif

Kita mudah terpesona oleh foto-foto lansia berjoget, tetapi di balik pelayanan tanpa pungutan biaya untuk ratusan penghuni, pengelola menghadapi kebutuhan operasional yang besar. Mereka merawat orang-orang yang tidak lagi punya tempat tinggal layak atau keluarga yang dapat mendampingi, memberi ruang untuk menjalani hari tua dengan lebih terawat dan bermartabat. Namun pengelola mengaku belum memiliki donatur tetap, sehingga ketika persediaan beras atau popok menipis, para penghuni diajak berdoa bersama. Di sini, doa dan musik berdiri berdampingan sebagai dua bentuk harapan: satu mengarah ke langit, satu menguatkan sesama manusia. Menurut pengasuh, layanan perawatan diberikan gratis hingga penghuni meninggal dunia. Pernyataan itu bukan slogan, melainkan komitmen yang menuntut tanggung jawab kolektif. Jika satu lagu bisa menggerakkan tubuh renta untuk berdiri dan berjoget, seharusnya ia juga mampu menggerakkan hati kita yang masih kuat untuk ikut peduli.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!