Kemewahan Baru: Bukan Lagi Label, Melainkan Kualitas dan Ketahanan
Kemewahan parfum bagi generasi muda kini didefinisikan sebagai kombinasi kualitas bahan, racikan yang matang, dan ketahanan aroma tinggi yang ditawarkan dalam format parfum berkualitas terjangkau, bukan lagi sekadar nama merek terkenal atau harga yang fantastis yang membuat dompet menjerit. Pergeseran ini terlihat jelas pada perilaku Gen Z dan Milenial yang tampil sebagai smart shoppers kritis, aktif mencari wewangian berkonsentrasi tinggi dengan ketahanan maksimal sekelas ekstrait de parfum, namun tetap ramah di kantong. Riset global tentang definisi baru kemewahan menunjukkan mayoritas konsumen (57%) menilai mewah dari kualitas bahan dan racikan, bukan dari label harga mahal yang hanya dihargai 39% responden. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah sinyal keras bahwa era berbangga pada brand logo di botol parfum mulai surut. Anak muda menuntut parfum tahan lama harga murah yang bekerja nyata di kulit mereka, bukan status simbol di meja rias.
Extrait de Parfum Ramah Kantong: Simbol Perlawanan terhadap Harga Fantastis
Di ajang Jakarta X Beauty (JXB) 2026 yang berlangsung di JCC Senayan pada 2–5 Juli, tren wewangian anak muda terasa sangat kuat: ekstrait de parfum premium menjadi buruan, selama tetap masuk akal bagi dompet. Priskila memanfaatkan momentum ini dengan menghadirkan ruang sensorik interaktif "SCENTORY: The Signature of Experience" agar publik bisa mengeksplorasi langsung konsentrasi minyak wangi modern dan ketahanannya. Di sana, lini ekstrait de parfum dari Regazza, Bellagio, dan Casablanca menarik perhatian karena menawarkan performa tinggi dengan harga yang disebut sebagai friendly price. Sikap Gen Z jelas: kalau parfum bisa wangi sepanjang hari, punya racikan berkualitas, dan memenuhi standar keamanan IFRA, BPOM, serta sertifikasi halal, mereka tidak peduli apakah brand-nya termasuk nama lama yang dianggap prestisius atau pemain baru yang lebih inklusif. Mereka menantang asumsi lama bahwa parfum premium harus mahal dan terbatas bagi kalangan tertentu.
Perfoma di Kulit, Bukan Logo di Botol: Cara Baru Memilih Wewangian
Penelitian tren konsumen menunjukkan perubahan signifikan dalam kriteria pembelian parfum: fungsionalitas dan kualitas cairan kini menjadi prioritas utama dalam pencarian, menggantikan obsesi pada prestise brand. Anak muda mencari parfum berkualitas terjangkau yang bertahan dari pagi hingga malam, mampu mencerminkan karakter mereka, dan terasa nyaman dipakai berulang kali. Di area interaktif SCENTORY, pengunjung diajak mencoba berbagai aroma, mengenali karakter parfum, dan menemukan wewangian yang sesuai dengan kepribadian masing-masing. Di sini, pengalaman nyata di kulit mengalahkan daya tarik iklan glamor. Bagi banyak pria muda, misalnya, aroma dipandang sebagai cerminan sifat berani dan percaya diri, bukan sekadar pelengkap pakaian formal. Sementara itu, bagi mereka yang mengutamakan harga, parfum tahan lama harga murah bukan kompromi; ia justru dianggap pilihan cerdas yang sejalan dengan gaya hidup modern yang menghindari pengeluaran berlebihan untuk simbol status semata.
Genderless Fragrance: Kebebasan Memilih Aroma Tanpa Label
Tren wewangian anak muda tidak berhenti pada soal harga dan performa; batas antara parfum pria dan perempuan pun kian memudar. Di berbagai booth JXB 2026, pengunjung tidak lagi terpaku pada rak "cowok" atau "cewek". Mereka lebih tertarik mencoba beragam aroma yang dirasa sesuai dengan karakter dan aktivitas, tanpa peduli stereotipe bahwa kayu dan rempah harus maskulin, sementara bunga dan buah-buahan hanya untuk feminin. Brand seperti Blackstag bahkan sejak awal menolak mengotak-ngotakkan parfum berdasarkan gender, dengan tegas menyebut koleksinya genderless dan unisex; setiap orang bebas memakai aroma yang disukai tanpa batasan identitas. Pola pikir ini selaras dengan preferensi Gen Z preferensi parfum yang menempatkan parfum sebagai ekspresi diri yang personal. Genderless fragrance menjadi bagian integral dari kemewahan versi baru: kebebasan memilih aroma yang jujur terhadap diri sendiri, bukan sekadar patuh pada label di kemasan.
Kesimpulan: Smart Shoppers Muda Mengatur Ulang Peta Industri Parfum
Jika dulu industri parfum didominasi narasi "mewah berarti mahal", Gen Z dan Milenial kini memaksa peta itu digambar ulang. Mereka menunjukkan bahwa parfum premium bisa hadir sebagai parfum berkualitas terjangkau, dengan konsentrasi ekstrait de parfum, ketahanan tinggi, dan standar keamanan internasional. Data 57% konsumen yang mendefinisikan kemewahan dari kualitas bahan dan racikan menjadi bukti bahwa performa produk menang telak atas gengsi harga. Ditambah tren genderless fragrance, anak muda mengembalikan parfum ke hakikatnya: medium ekspresi diri yang personal, bukan label status sosial atau gender. Industri yang tidak mau beradaptasi akan tertinggal. Generasi smart shoppers ini telah mengirim pesan jelas: berhenti menjual logo besar dan harga fantastis, berikan kami parfum tahan lama harga murah yang bekerja, aman, inklusif, dan terasa relevan untuk keseharian kami.






