Sekolah vokasi SMK bergeser dari pengajar ijazah ke pencetak tenaga kerja
Sekolah vokasi SMK adalah lembaga pendidikan menengah yang secara sadar memposisikan diri bukan sekadar pemberi ijazah, tetapi sebagai jalur langsung menuju dunia kerja melalui kurikulum industri, pembelajaran ganda, dan kolaborasi sistematis dengan perusahaan agar terserap kerja lulusan bisa mendekati 100 persen. Pergeseran orientasi ini terlihat jelas di SMK-SMTI Yogyakarta yang berkomitmen menyelaraskan kurikulum pembelajaran dengan kebutuhan industri. Bukan lagi guru dan buku yang menjadi satu-satunya rujukan, melainkan standar kompetensi pabrik kimia, perusahaan otomotif, hingga produsen bahan baku. Ambisi 100 persen lulusan terserap kerja dalam satu tahun setelah kelulusan menunjukkan bahwa sekolah vokasi SMK yang serius tidak puas dengan angka penempatan kerja yang “lumayan”; mereka menargetkan angka sempurna dan menata ulang seluruh sistem belajar untuk mencapainya.
Kurikulum industri: 12 perusahaan masuk kelas, bukan sekadar tamu
Jika selama ini kurikulum sekolah vokasi SMK disusun dari kantor dinas, SMK-SMTI Yogyakarta memilih jalan berbeda: membiarkan industri ikut menulis isi buku pelajaran. Tahun ini, sebanyak 12 praktisi industri dilibatkan untuk mendukung target keterserapan lulusan hingga 100% di dunia kerja. Mereka datang dari perusahaan kimia, otomotif, dan manufaktur seperti PT Lotte Chemical Indonesia, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, hingga PT Borneo Alumina Indonesia. Praktisi tidak hanya mengajar satu kali per semester, tetapi juga menilai langsung sistem pembelajaran dan peralatan yang ada, lalu memberi masukan untuk menyinkronkan kurikulum dengan kebutuhan industri. Ini bukan kunjungan seremonial; ini adalah audit kompetensi. Sekolah yang berani membuka diri terhadap kritik industri menunjukkan kesadaran bahwa kurikulum industri yang relevan harus lahir dari lantai pabrik, bukan dari ruang rapat birokrasi.
Pembelajaran ganda: teori di sekolah, jam terbang di pabrik
Sistem pembelajaran ganda di sekolah vokasi SMK sering dipuji, tetapi baru terasa tajam ketika teori di kelas benar-benar diikuti jam terbang di pabrik. SMK-SMTI Yogyakarta menerapkan sistem pembelajaran ganda atau dual system, di mana siswa tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung di industri melalui program PKL atau magang. Seluruh pembelajaran di sekolah diselesaikan hingga tahun kedua, lalu tahun ketiga difokuskan untuk bekerja di industri. Strategi ini jelas: sekolah menjadi landasan konsep, industri menjadi arena uji keterampilan. Menariknya, sekolah tidak pasif menunggu lowongan PKL, tetapi mengadakan roadshow ke berbagai perusahaan untuk menjajaki peluang kerja sama. Ketika menemukan industri baru yang tertarik, mereka langsung diundang menjadi praktisi dalam pembelajaran. Inilah pembelajaran ganda yang sesungguhnya: ganda dalam lokasi, ganda dalam pengampu, dan ganda dalam standar penilaian.
MODENA Tech School: jalur talenta baru untuk elektronik dan teknologi
Di sisi lain, kolaborasi industri sekolah tidak hanya terjadi di sektor kimia dan otomotif. MODENA melanjutkan komitmennya dalam memperkuat pendidikan vokasi dengan memperluas jangkauan MODENA Tech School ke Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui kemitraan bersama SMK Negeri 3 Yogyakarta. Program ini dirancang untuk memberdayakan talenta muda di bidang elektronik dan teknologi melalui pembelajaran berbasis kebutuhan industri guna mencetak lulusan yang siap bersaing di pasar kerja. Selama dua semester, siswa dibekali pelatihan teknis dasar, pemahaman produk, keterampilan administrasi, hingga kemampuan kepemimpinan dan komunikasi profesional. Dukungan sarana berupa booth dan unit produk di sekolah menjadi laboratorium nyata bagi siswa untuk mengasah kemampuan pemecahan masalah secara teknis. Siswa berprestasi tidak hanya mendapat sertifikasi industri, tetapi juga akses magang dan peluang rekrutmen langsung untuk membangun karier bersama MODENA.

Menuju 100 persen terserap kerja: ambisi yang layak ditiru, tapi perlu dijaga mutunya
Target 100 persen terserap kerja lulusan sering terdengar seperti slogan, tetapi di SMK-SMTI Yogyakarta angka itu sudah menjadi kebiasaan: keterserapan lulusan sebesar 100% selalu tercapai dalam kurun waktu satu tahun setelah kelulusan. Sekolah bahkan tetap memfasilitasi alumni yang sedang mencari pekerjaan baru maupun yang masa kontrak kerjanya telah berakhir. Namun ambisi ini datang dengan tantangan: menyesuaikan kompetensi lulusan dengan kebutuhan spesifik industri, bukan sekadar keterampilan umum yang mudah ditemukan. Di sisi lain, kemitraan seperti MODENA Tech School diharapkan dapat mempererat keterhubungan antara pendidikan vokasi dan industri, sekaligus meningkatkan rasa percaya diri serta daya saing lulusan SMK di masa depan. Kesimpulannya, sekolah vokasi SMK yang ingin meniru model ini harus berani membuka kelas untuk industri, mengadopsi pembelajaran ganda, dan mengukur keberhasilan bukan dari nilai ujian, tetapi dari kualitas pekerjaan yang dipegang lulusan.






