Trident Resolve di Banten: Latihan Militer yang Menempatkan Bencana di Garis Depan
Latihan militer ADMM-Plus Trident Resolve adalah latihan gabungan multinasional yang memadukan simulasi operasi militer dengan skenario penanggulangan bencana besar, dukungan medis, dan keamanan siber lintas negara sebagai bagian dari kerja sama keamanan regional yang terstruktur dan berkelanjutan. Provinsi Banten ditetapkan sebagai tuan rumah ADMM-Plus Exercise Trident Resolve 2026, sebuah latihan gabungan yang melibatkan 19 negara dan berlangsung pada 20–26 September dengan fokus penguatan kerja sama dalam penanggulangan bencana, dukungan medis militer, dan keamanan siber. Gubernur Andra Soni menyambut langsung para delegasi di Cilegon, menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap latihan ini sebagai momentum strategis, bukan sekadar seremoni militer.

Mengapa Banten? Geografi Berisiko Tinggi dan Pelajaran Tsunami
Pemilihan Banten bukan kebetulan. Wilayah ini memiliki garis pantai panjang, berada di sekitar Selat, menjadi rumah bagi kawasan industri strategis, dan berdekatan dengan Gunung Anak Krakatau yang aktif secara vulkanik. Kombinasi ini menjadikannya laboratorium alami untuk menguji kesiapsiagaan bencana. Andra Soni mengingatkan bahwa pengalaman tsunami Selat Sunda 2018 adalah peringatan keras tentang pentingnya sistem peringatan dini dan koordinasi lintas lembaga yang solid. Dengan kata lain, Trident Resolve 2026 adalah cara mengubah trauma menjadi kapasitas. Latihan ini tidak hanya menguji evakuasi dan penyelamatan, tetapi juga bagaimana pemerintah daerah, militer, dan lembaga sipil bekerja bersama ketika bencana majemuk—gempa, erupsi, tsunami—terjadi sekaligus.

Tiga Dimensi Latihan: HADR, Medis Militer, dan Siber
Trident Resolve 2026 mengintegrasikan tiga kelompok kerja ahli ADMM-Plus: Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR), Military Medicine (MM), dan Cyber Security (CS). Sekitar 2.200 personel dari unsur militer dan lembaga sipil terlibat dalam rangkaian kegiatan ini, sebuah skala yang menunjukkan bahwa latihan militer ADMM-Plus kini menjadikan kesiapsiagaan bencana sebagai arena utama, bukan pelengkap. Di ranah HADR, skenario gempa, erupsi Anak Krakatau, dan tsunami digunakan untuk menguji evakuasi, pencarian dan penyelamatan, hingga distribusi bantuan kemanusiaan. Kelompok Military Medicine fokus pada penanganan korban dalam kondisi krisis, sementara tim keamanan siber menguji ketahanan sistem informasi dan komunikasi ketika jaringan terganggu saat darurat. Intinya, Trident Resolve menggabungkan aspek kemanusiaan dengan kemampuan militer dan teknologi dalam satu paket operasional.
Kerja Sama Keamanan ASEAN yang Menyentuh Warga Sipil
Sebagai bagian dari kerangka ASEAN Defence Ministers’ Meeting Plus, Trident Resolve 2026 adalah bukti bahwa kerja sama keamanan ASEAN tidak lagi berhenti pada dialog politik, melainkan turun ke level prosedur operasional dan koordinasi lapangan. Latihan ini menguji kemampuan bekerja bersama antara militer dan lembaga sipil dari 19 negara, dari evakuasi hingga pemulihan infrastruktur komunikasi. "Sekitar 2.200 personel dari unsur militer dan lembaga sipil terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut," menunjukkan skala nyata komitmen kolektif kawasan. Bagi warga Banten, dampaknya sangat praktis: peningkatan kapasitas daerah, penguatan sistem peringatan, dan pola koordinasi darurat yang lebih jelas. Kerja sama keamanan ASEAN di sini berarti kesiapsiagaan bencana yang lebih konkret di tingkat lokal.
Dampak Jangka Panjang: Dari Diplomasi Pertahanan ke Ketangguhan Daerah
Latihan seperti Trident Resolve 2026 mudah dilihat sebagai agenda diplomasi pertahanan semata, tetapi Banten menunjukkan bahwa nilai strategisnya lebih dalam. Pemerintah provinsi berharap latihan ini memberi dampak nyata bagi peningkatan kapasitas daerah dalam memitigasi potensi bencana di masa depan. Pelaksanaan latihan menjadi ruang pertukaran pengalaman dan pengujian kemampuan bekerja bersama dalam menghadapi kondisi darurat multinasional. Bagi Banten, ini momentum memperkuat kesiapsiagaan daerah, meningkatkan koordinasi lintas lembaga, dan membangun ketangguhan menghadapi berbagai potensi bencana. Kesimpulannya, Trident Resolve 2026 menegaskan bahwa kerja sama keamanan ASEAN yang relevan hari ini adalah yang mampu melindungi warga dari gempa, tsunami, dan serangan siber—bukan hanya dari konflik bersenjata.






