MYP Paket 1: Dari Badan Jalan ke Kualitas Ruang Jalan
Proyek Multi Years Project Paket 1 infrastruktur jalan Sulsel adalah program penanganan 13 ruas jalan dan tujuh titik longsor yang kini memasuki fase penyempurnaan dengan fokus pada pembangunan pedestrian jalan, sistem drainase jalan, median, dan bahu jalan untuk meningkatkan keamanan, kenyamanan, serta fungsi ruang jalan bagi aktivitas masyarakat di beberapa wilayah provinsi tersebut. Fase ini menandai pergeseran penting: dari sekadar memperkuat struktur badan jalan menuju penataan menyeluruh koridor jalan. Pemerintah provinsi tidak hanya mengejar kelancaran lalu lintas, tetapi mulai mengakui bahwa kualitas infrastruktur jalan Sulsel bergantung pada detail-detail pendukung: saluran air yang tertutup rapi, trotoar yang layak diinjak, dan bahu jalan yang kokoh. Pendekatan ini patut diapresiasi karena menyasar persoalan yang sehari-hari dirasakan pengguna jalan, bukan sekadar memenuhi target fisik proyek jangka panjang.
Makassar: Pedestrian dan Drainase Jadi Wajah Baru Koridor Jalan
Di Makassar, fase penyempurnaan MYP Paket 1 tampak paling jelas pada penanganan pedestrian dan sistem drainase jalan. Di ruas Jalan Hertasning, pekerjaan berlanjut pada pemasangan manhole untuk jalur pedestrian, sementara di Jalan Aroepala fokus diarahkan pada pengecoran beton plat penutup saluran drainase. Langkah ini menunjukkan pilihan prioritas yang tepat: trotoar dan saluran air adalah elemen yang paling sering diabaikan dalam proyek infrastruktur jalan Sulsel, padahal keduanya menentukan kenyamanan pejalan kaki dan daya tahan jalan terhadap genangan. Kutipan yang layak dicermati datang dari Gubernur Andi Sudirman Sulaiman: “Saat ini penataan kawasan kita lakukan secara bertahap, termasuk median jalan, pedestrian, trotoar hingga saluran drainase di sejumlah ruas.” Pernyataan ini mengirim sinyal politik bahwa ruang bagi pejalan kaki mulai dipandang serius, bukan pelengkap belaka.
Sinjai dan Bulukumba: Bahu Jalan dan Teknologi Cold Milling
Berbeda dengan Makassar yang fokus pada pedestrian dan drainase, di Sinjai dan Bulukumba sorotan tertuju pada penguatan bahu jalan. Di ruas Batas Gowa–Tondong di Kabupaten Sinjai, bahu jalan dibangun menggunakan beton dengan spesifikasi fc 15 MPa, begitu pula di ruas Tanete–Tanaberu di Kabupaten Bulukumba. Pilihan material ini mengindikasikan keseriusan menghadapi beban kendaraan dan potensi kerusakan tepi jalan, yang selama ini menjadi titik lemah banyak ruas regional. Sementara itu, pada ruas Batas Bulukumba–Sanjai–Sinjai, penanganan hasil galian dilakukan dengan Cold Milling Machine (CMM), teknologi yang lebih presisi untuk merapikan permukaan sebelum lapisan baru. Pendekatan teknis yang berbeda di tiap ruas menunjukkan proyek ini tidak lagi memakai pola seragam; kebutuhan lokal menjadi penentu, sebuah praktik yang lebih dewasa dalam manajemen infrastruktur jalan Sulsel.
Strategi Bertahap dan Dampaknya bagi Pengguna Jalan
Kunci dari fase penyempurnaan Multi Years Project Paket 1 adalah pola pelaksanaan bertahap sesuai progres dan kebutuhan tiap ruas. Kepala Bidang Jalan DBMBK, Muhammad Rosyadi, menegaskan bahwa “seluruh tahapan tersebut dilaksanakan secara bertahap mengikuti progres pekerjaan di masing-masing ruas.” Pendekatan ini memang memperpanjang masa gangguan bagi pengguna jalan, tetapi di sisi lain memberi ruang untuk penyesuaian teknis yang lebih tepat sasaran. Manfaat praktisnya cukup jelas: jalan yang diperkuat bahunya dan dilengkapi drainase yang tertutup rapi akan lebih tahan terhadap kerusakan, sementara pedestrian yang tertata meningkatkan rasa aman pejalan kaki. Penyempurnaan diarahkan agar infrastruktur tidak berhenti pada badan jalan yang kuat, tetapi memiliki fasilitas pendukung yang menunjang keamanan, kenyamanan, dan aktivitas masyarakat. Jika konsisten, strategi bertahap ini dapat mengurangi siklus tambal-sulam yang selama ini membebani anggaran.
Kesimpulan: Penyempurnaan Harus Diikuti Konsistensi Pemeliharaan
Fase penyempurnaan MYP Paket 1 menegaskan arah baru dalam pengelolaan infrastruktur jalan Sulsel: bukan lagi proyek yang berhenti pada pengaspalan, tetapi penataan koridor jalan yang lebih komprehensif. Fokus pada pembangunan pedestrian jalan, sistem drainase jalan, median, dan bahu beton menunjukkan kesadaran bahwa kualitas perjalanan ditentukan oleh detail-detail yang sering terlupakan. Namun fase ini tidak boleh dianggap garis finis. Tanpa pemeliharaan rutin, manhole yang rapi bisa berubah jadi perangkap sampah, dan bahu jalan yang kokoh dapat tergerus praktik parkir liar. Karena itu, publik layak menagih konsistensi jangka panjang: apakah pemerintah provinsi sanggup menjaga standar yang kini sedang dibangun. Jika ya, MYP Paket 1 bisa menjadi titik balik yang mengangkat mutu jalan regional dari sekadar proyek fisik menjadi layanan publik yang lebih manusiawi.






