Doomjobbing: Sibuk Melamar, tetapi Kehilangan Arah
Doomjobbing adalah kebiasaan melamar puluhan hingga ratusan pekerjaan secara serampangan tanpa mempertimbangkan kecocokan minat dan kualifikasi, sering kali sebagai pelarian dari burnout dan kecemasan karier. Polanya mudah dikenali: merasa cemas atau tidak pasti tentang pekerjaan saat ini, lalu mengirim lamaran massal tanpa memeriksa persyaratan secara saksama. Berbeda dari doomscrolling yang membuat seseorang terus menelusuri konten saat cemas, doomjobbing mengubah kegelisahan menjadi tindakan melamar kerja berulang-ulang. Tombol kirim memberi kesan bahwa kita sedang bergerak menuju perubahan, tetapi banyaknya lamaran bukan ukuran kecocokan atau kemajuan. Di sinilah doomjobbing dan burnout saling terkait: kelelahan di tempat kerja dapat memicu pencarian kerja serampangan, sementara penolakan berulang dan energi yang terkuras berisiko menambah kelelahan emosional.

Belanja Impulsif sebagai Pelarian dari Stres
Doom spending adalah kebiasaan menghabiskan uang secara impulsif demi kesenangan ketika stres atau menghadapi emosi negatif. Perilaku impulsif stres ini mungkin terasa seperti jalan keluar yang cepat karena pembelian menawarkan kesenangan yang dicari saat itu. Namun, rasa lega sesaat bukan berarti sumber tekanan sudah tertangani. Karena itu, doom spending stres layak diperhatikan sebagai pola perilaku, bukan dijadikan bukti bahwa seseorang tidak mampu mengendalikan diri atau otomatis mengalami gangguan mental. Pertanyaan yang lebih berguna ialah: apakah keinginan membeli muncul setelah hari yang berat, kecemasan, atau perasaan buruk lainnya? Mengenali kaitan antara suasana hati dan dorongan belanja dapat membantu seseorang melihat kebiasaan itu dengan lebih jernih. Tidak perlu menunggu sampai perilaku terasa sulit dihentikan untuk mengakui bahwa stres sedang memengaruhi keputusan.
Ganti Reaksi Otomatis dengan Langkah yang Lebih Terarah
Doomjobbing bisa menjadi mekanisme pertahanan diri untuk meredam kecemasan, tetapi kesan produktifnya menipu: kebiasaan ini dapat menghabiskan waktu dan energi serta membuat seseorang makin sedih. Jika dibiarkan, penolakan beruntun juga dapat mengikis kepercayaan diri, memicu burnout, dan mengalihkan waktu dari jejaring profesional atau pengembangan keterampilan. Karena itu, menganggap pola ini sebagai coping mechanism tidak sehat lebih berguna daripada memuji jumlah lamaran yang terkirim. Untuk mencari kerja dengan lebih terarah, pilih posisi yang benar-benar diinginkan dan telaah keterampilan yang dibutuhkan. Batasi jumlah lamaran, sesuaikan resume untuk tiap posisi, dan sisihkan waktu untuk berbincang dengan profesional di bidang tujuan. Menjaga keseimbangan juga penting: olahraga, meditasi, atau berkumpul dengan orang terdekat dapat membantu menjaga kepercayaan diri selama pencarian kerja. Dalam konteks kesehatan mental kerja, perubahan pola layak menjadi pengingat untuk memeriksa sumber tekanan, bukan alasan untuk menyalahkan diri.







