Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Onshore Power Supply Tanjung Priok dan Lompatan Menuju Pelabuhan Hijau

Onshore Power Supply Tanjung Priok dan Lompatan Menuju Pelabuhan Hijau
Minat|Asia Tenggara

OPS: Definisi Singkat dan Mengapa Tanjung Priok Tidak Bisa Menunggu

Onshore Power Supply adalah sistem kelistrikan yang menyediakan pasokan listrik dari darat ke kapal yang sedang bersandar di dermaga, sehingga kapal dapat mematikan mesin bantu berbahan bakar fosil, mengurangi emisi gas buang, kebisingan, dan getaran, sekaligus meningkatkan efisiensi energi selama kapal berada di pelabuhan. Di Tanjung Priok, teknologi ini tidak sekadar proyek percobaan; ini adalah pernyataan sikap bahwa pelabuhan utama tidak lagi bisa mengandalkan mesin diesel yang berisik dan boros emisi saat kapal sandar. PT Pelabuhan Indonesia meluncurkan layanan Onshore Power Supply (OPS) di Dermaga Serbaguna Nusantara, Terminal PNP Dermaga 004, dengan kapasitas awal 500 kVA. Langkah ini mempertegas bahwa transformasi menuju pelabuhan hijau Indonesia bukan jargon seremoni, melainkan perubahan struktur energi yang menyentuh jantung operasi pelabuhan.

Onshore Power Supply Tanjung Priok dan Lompatan Menuju Pelabuhan Hijau

Kolaborasi Pelindo–PLN: Dari 500 kVA ke 1 MVA dan Setengah Jalan ke Green Port

Pelindo memulai Onshore Power Supply Tanjung Priok dengan satu fasilitas listrik darat berkapasitas 500 kVA yang memungkinkan kapal menerima pasokan listrik dari dermaga dan mengurangi penggunaan auxiliary engine kapal. Tidak lama berselang, PT PLN bersama Pelindo meresmikan dua unit OPS dengan total kapasitas 1 MVA di Dermaga Serbaguna Nusantara, menjadikannya unit pertama dari program pengembangan 24 unit OPS di Tanjung Priok. Ini bukan proyek infrastruktur energi pelabuhan yang berdiri sendiri; OPS jelas diposisikan sebagai tulang punggung pelabuhan hijau Indonesia. “Fasilitas ini memungkinkan kapal yang sedang bersandar mematikan mesin diesel dan beralih menggunakan pasokan listrik yang lebih efisien dan bersih dari darat”. Ketika perusahaan listrik negara menyelaraskan OPS dengan agenda dekarbonisasi industri dan pengembangan green port, pesan yang muncul tegas: pelabuhan tidak boleh lagi menjadi kantong emisi yang luput dari perhatian.

Emisi Kapal Berkurang, Kebisingan Turun: Dampak Nyata bagi Kota dan Industri

OPS bekerja dengan skema shore-to-ship power: saat kapal bersandar dan terhubung, kebutuhan listrik seperti hotel load, reefer, pompa, dan operasi lain dipasok dari jaringan listrik darat sehingga auxiliary engine dapat dimatikan. Di sinilah dampak praktis bagi warga dan pelaku usaha terlihat. Penggunaan listrik darat mengurangi konsumsi BBM, jam operasi mesin bantu, kebutuhan pemeliharaan, emisi gas buang, kebisingan, serta getaran di area dermaga. Pengujian menunjukkan OPS dapat menurunkan emisi gas buang kapal hingga 75 persen, sekaligus menghilangkan emisi lokal seperti NOx, SOx, dan partikulat selama kapal sepenuhnya menggunakan listrik darat. Bagi operator kapal, OPS berarti efisiensi biaya energi yang diukur berpotensi memberikan penghematan sekitar 40 hingga 64 persen dibandingkan genset kapal. Singkatnya, emisi kapal berkurang bukan klaim abstrak; ia punya angka, punya alat, dan kini punya infrastruktur yang nyata di dermaga.

Roadmap 24 Unit: OPS sebagai Strategi, Bukan Sekadar Fasilitas Tambahan

Peluncuran OPS di Dermaga 004 hanyalah tahap awal. Pelindo dengan terang menyebutnya sebagai pintu masuk pengembangan layanan lebih luas ke terminal lain dengan kapasitas disesuaikan profil kapal. Di atas kertas, roadmap Tanjung Priok mengarah ke 24 unit OPS pada 2027, sementara roadmap nasional mengindikasikan hingga 123 unit OPS pada 2050. Rencana ini menunjukkan bahwa infrastruktur energi pelabuhan sedang digeser dari paradigma diesel ke paradigma elektrifikasi. PT Energi Pelabuhan Indonesia, sebagai bagian dari Pelindo Group, mengelola jaringan distribusi listrik internal dan memastikan keandalan pasokan dari darat ke kapal. Di sisi lain, PLN menegaskan bahwa penyediaan listrik untuk OPS menunjukkan kesiapan jaringan kelistrikan mereka dalam memenuhi kebutuhan energi di kawasan pelabuhan. OPS, dengan demikian, bukan pelengkap, tetapi strategi jangka panjang untuk menjadikan pelabuhan lebih efisien, lebih bersih, dan siap atas standar maritim global yang semakin ketat.

Pelabuhan Hijau Bukan Lagi Pilihan, Melainkan Kewajiban

Tanjung Priok sedang digunakan sebagai laboratorium nyata konsep pelabuhan hijau Indonesia. Pengoperasian OPS secara eksplisit disebut sebagai langkah transformasi menuju green port, dan penyediaan listrik OPS disejajarkan dengan agenda dekarbonisasi industri maritim dan pembangunan berkelanjutan melalui pengembangan green port. Artinya, arah kebijakan sudah jelas: pelabuhan yang tidak bergerak ke energi bersih akan tertinggal, bukan hanya dalam reputasi, tetapi juga dalam standar teknis yang ditetapkan pasar global. Investasi pada energi bersih di pelabuhan mendukung transisi energi dan elektrifikasi sektor maritim, serta memerlukan listrik yang andal untuk operasional kapal selama berada di dermaga. OPS adalah contoh konkret bagaimana infrastruktur energi pelabuhan dapat menjadi alat untuk menekan emisi, menaikkan efisiensi, dan memberi nilai tambah jangka panjang. Jika pelabuhan lain enggan mengikuti, Tanjung Priok berpeluang menjadi tolok ukur baru—dan pada saat yang sama, menjadi cermin yang menyingkap siapa yang tertinggal dalam agenda keberlanjutan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!