Sinergi sekolah–keluarga: dari slogan menjadi strategi nyata
Sinergi sekolah keluarga adalah kemitraan terencana dan berkelanjutan antara institusi pendidikan dan orang tua untuk menyelaraskan tujuan, nilai, dan praktik pengasuhan sehingga pendidikan di sekolah diperkuat secara konsisten di rumah, mencakup dukungan akademik, emosional, sosial, fisik, dan spiritual anak dalam menghadapi tumbuh kembang anak kompleks yang diwarnai tekanan zaman, arus informasi, dan dinamika psikologis keluarga. Tantangan dalam mendampingi tumbuh kembang anak yang semakin kompleks membuat pendekatan parsial tidak lagi memadai. Di titik ini, program pendampingan pola asuh seperti Athirah Edu-Parents Program (AEP) Volume 2 menjadi bukti bahwa kolaborasi orang tua sekolah tidak bisa hanya berupa pertemuan seremonial, tetapi harus terstruktur, berkala, dan berbasis ilmu yang relevan dengan kehidupan nyata anak. Tanpa sinergi yang disusun rapi, sekolah dan keluarga berjalan sendiri-sendiri, sementara anak menanggung kebingungan nilai dan tekanan prestasi yang tidak seimbang.

Athirah Edu-Parents Volume 2: contoh konkret kemitraan terstruktur
Sekolah Islam Athirah memilih menanggapi kompleksitas pengasuhan melalui Athirah Edu-Parents Program (AEP) Volume 2 yang digelar pada 27–28 Agustus 2026 di Vasaka Hotel Makassar. Program pendampingan pola asuh ini diikuti oleh para orang tua siswa dan dirancang sebagai ruang pembekalan sekaligus penguatan sinergi sekolah keluarga agar pendidikan yang diterima siswa di sekolah dapat diterapkan secara konsisten di rumah. Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, menegaskan bahwa pengasuhan anak tidak seharusnya hanya diukur dari pencapaian akademik; anak perlu dipersiapkan menghadapi kehidupan dengan fondasi iman dan takwa, kesehatan, kecerdasan, kemandirian, dan kemampuan mengelola emosi. Ini bukan sekadar seminar motivasi, melainkan upaya sistematis agar visi pendidikan sekolah tidak terputus begitu anak pulang ke rumah, tetapi mengalir menjadi kebiasaan sehari-hari. Ketika orang tua duduk sebagai peserta, mereka secara simbolik mengakui bahwa sekolah bukan “jasa” yang dibayar, melainkan mitra yang mengajak mereka terlibat penuh.
Tumbuh kembang anak kompleks: mengapa pendekatan holistik wajib
Fakta bahwa tumbuh kembang anak kompleks bukan sekadar frasa dramatis, tetapi deskripsi akurat tentang beban yang kini ditanggung keluarga. Anak menghadapi tuntutan akademik, paparan teknologi, perubahan sosial, dan kadang ketegangan dalam rumah tangga. Sumber-sumber ini menegaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan proses pembelajaran di sekolah; keluarga berperan penting dalam pemenuhan gizi, kesehatan mental, pengelolaan emosi, pembentukan karakter, hingga penguatan nilai keagamaan. Dokter Martira Maddeppungeng menyoroti bahwa nutrisi dan olahraga saja tidak cukup; anak juga membutuhkan kehangatan keluarga dan lingkungan yang aman karena kekerasan verbal maupun fisik dapat merusak otak anak. Bila orang tua tetap terpaku pada nilai rapor, mereka menutup mata terhadap rangkaian kebutuhan fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual yang harus berjalan beriringan agar anak tumbuh utuh, bukan hanya “pintar” tetapi rapuh.
Menggeser orientasi dari prestasi akademik menuju anak yang utuh
Orientasi pengasuhan yang sempit pada nilai ujian adalah warisan lama yang kini terbukti tidak relevan. Syamril secara terang menyatakan bahwa pengasuhan tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian akademik, karena tugas pendidikan adalah mempersiapkan anak menghadapi kehidupan, bukan sekadar lulus ujian. AEP Volume 2 menghadirkan pemateri dari berbagai bidang—pendidikan anak, kesehatan fisik dan tumbuh kembang, kesehatan mental, hingga nilai keislaman—untuk menunjukkan bahwa kebutuhan anak tidak dapat dilihat hanya dari satu aspek. Salah satu orang tua, Nur Apriyani, mengakui bahwa materi mengenai nutrisi sangat relevan dengan praktik pengasuhan hariannya. Pengakuan ini penting: ketika orang tua mulai melihat gizi, emosi, karakter, dan iman sebagai satu paket, barulah sinergi sekolah keluarga dapat bekerja secara nyata. Kolaborasi orang tua sekolah menjadi arena belajar dua arah, bukan ruang menghakimi nilai atau mengeluh tentang perilaku anak.
Kesimpulan: pendidikan anak sebagai proyek bersama, bukan beban tunggal
Pelajaran utama dari Athirah Edu-Parents Program Volume 2 adalah jelas: pendidikan anak adalah proyek bersama, bukan beban tunggal salah satu pihak. Sekolah menyediakan lingkungan belajar, sistem, dan nilai, sementara keluarga membentuk kebiasaan, karakter, dan suasana rumah yang menentukan apakah pelajaran di kelas menjadi gaya hidup atau sekadar catatan di buku. Tanpa kolaborasi orang tua sekolah yang intens dan terarah, anak akan hidup di dua dunia yang saling bertentangan—di sekolah diajarkan mengelola emosi, di rumah dia menyaksikan ledakan amarah; di sekolah ia diajak berpikir kritis, di rumah opininya dibungkam. Sinergi sekolah keluarga berarti menyatukan pesan, menyamakan standar, dan mengakui bahwa tumbuh kembang anak kompleks menuntut pendekatan holistik yang konsisten. Jika lebih banyak institusi pendidikan dan orang tua mengadopsi model program pendampingan pola asuh seperti AEP, kita lebih dekat pada generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga berkarakter, sehat, dan berdaya.






