Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pusat Data AI Butuh Energi Hijau, Bukan Rem Pertumbuhan

Pusat Data AI Butuh Energi Hijau, Bukan Rem Pertumbuhan
Minat|Eksplorasi Aplikasi AI

Mengapa Pusat Data AI Harus Dibangun di Atas Energi Hijau

Pusat data AI adalah fasilitas komputasi berkapasitas tinggi yang memproses dan menyimpan data untuk beragam aplikasi kecerdasan buatan, menjalankan server akselerasi, sistem pendinginan, jaringan, dan cadangan daya yang beroperasi 24 jam, sehingga menciptakan kebutuhan listrik pusat data yang terukur besar dan berpotensi menekan sistem energi jika tidak disuplai oleh energi hijau yang direncanakan dengan baik. Lonjakan konsumsi listrik global dari pusat data, yang diperkirakan mencapai sekitar 485 TWh pada 2025, sudah menjadi alarm bahwa infrastruktur AI berkelanjutan tidak bisa dipisahkan dari strategi energi. Jika pusat data AI Indonesia tumbuh tanpa kerangka energi hijau data center yang jelas, ambisi menjadi basis regional AI berisiko berbalik menjadi beban karbon baru. Pertanyaannya bukan lagi apakah pusat data harus dibangun, tetapi listrik macam apa yang menyalakan rak-rak server itu.

Keunggulan Data dan Energi: Modal Besar yang Belum Disusun Rapi

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengakui bahwa negara ini belum kuat di algoritma berskala besar, tetapi punya kelebihan di dua unsur lain: data dan daya komputasi berbasis energi hijau. Dengan populasi besar dan aktivitas digital yang tinggi, pusat data AI Indonesia punya bahan baku data melimpah, namun tata kelola dan perlindungannya belum optimal sehingga kekayaan data belum sepenuhnya menopang riset dan inovasi. Di sisi energi, potensi sungai seperti Mamberamo sekitar 23 GW dan Kayan sekitar 12 GW menunjukkan betapa besar peluang menjadikan energi rendah karbon sebagai tulang punggung listrik pusat data. Tetapi potensi bukan kapasitas siap pakai: tanpa pembangkit, transmisi, gardu induk, dan jaringan yang terbangun, keunggulan ini hanya tinggal angka di atas kertas. Di sinilah letak kesalahan pandang: banyak bicara soal GPU, sedikit bicara soal rantai energi.

Ledakan Investasi AI: Listrik Menjadi Titik Lemah yang Nyata

Ambisi menjadi basis AI dan data center di Asia Tenggara berhadapan dengan persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh GPU: listrik. PT PLN mencatat 159 pelanggan data center dengan konsumsi 2.378 GWh dan kapasitas tersambung sekitar 2.038 MVA, dengan 99 persen kapasitas masih terkonsentrasi di sistem Jawa-Madura-Bali. Di atas kertas, proyeksi kebutuhan listrik data center melonjak dari sekitar 580 MW pada 2026 menjadi 3,5 GW pada 2030 dan berpotensi 25,3 GW pada 2034. Kalimat yang pantas dikutip di sini: "Permintaan listrik dalam skala besar dan relatif terukur dapat menjadi anchor demand bagi pembangunan pembangkit dan jaringan baru." Tetapi jika pembangunan pusat data jauh lebih cepat daripada pembangkit dan jaringan, tekanan terhadap sistem energi justru akan meningkat. Pertumbuhan AI yang agresif tanpa jaminan keandalan pasokan, kualitas daya, dan skalabilitas adalah resep untuk bottleneck komputasi dan reputasi yang runtuh.

Strategi Pemerintah: Mendukung Pertumbuhan, Bukan Menginjak Rem

Alih-alih membatasi jumlah pusat data demi menekan emisi, Stella Christie mendorong pendekatan yang tidak populer namun rasional: mendukung pertumbuhan dengan insentif agar energi untuk AI berasal dari energi terbarukan. Gagasannya tegas, “pusat data dengan energi hijau adalah keunggulan kita”, bukan sekadar slogan hijau yang ditempel di laporan. Di sisi pasokan, rencana usaha penyediaan tenaga listrik 2025–2034 menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit dan storage sebesar 69,5 GW, dengan sekitar 76 persen berasal dari energi baru terbarukan dan storage. Jika pengembangan ini berjalan sesuai rencana, pusat data AI bisa mendapat listrik yang semakin rendah karbon. Namun setiap mata rantai — dari proyek pembangkit, perizinan, pembangunan jaringan, hingga interkoneksi ke lokasi data center — membutuhkan koordinasi yang jarang terjadi secara otomatis. Tanpa orkestrasi kebijakan yang serius, RUPTL hanya akan menjadi daftar niat baik yang tertinggal dari laju investasi AI.

Menjadi Hub AI Hijau: Dari Potensi ke Eksekusi Infrastruktur

Kebutuhan listrik AI membuka peluang menyatukan dua agenda yang sering dipisah: ekonomi digital dan transisi energi. Di sini letak kesempatan strategis: menjadikan energi hijau data center sebagai identitas infrastruktur AI berkelanjutan, bukan sekadar fitur tambahan untuk laporan keberlanjutan. International Energy Agency memperkirakan sekitar setengah pertumbuhan kebutuhan listrik data center global hingga 2035 dapat dipenuhi energi terbarukan, dengan dukungan penyimpanan energi dan jaringan listrik. Artinya, ruang untuk menempatkan pusat data AI Indonesia sebagai hub rendah karbon sangat nyata, asalkan pasokan energi bersih ditingkatkan tanpa mengorbankan keandalan dan keterjangkauan. Strategi AI tidak cukup hanya membangun GPU dan gedung server; diperlukan rantai terkoordinasi: energi → pembangkit → transmisi → jaringan → data center → komputasi AI → aplikasi digital. Kesimpulannya lugas: yang menentukan posisi sebagai hub AI bukan jumlah chip, melainkan keberanian mengunci AI pada listrik hijau yang nyata, bukan janji.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!