Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Nasi Kucing: Porsi Kecil, Sejarah Besar di Balik Angkringan

Nasi Kucing: Porsi Kecil, Sejarah Besar di Balik Angkringan
Minat|Makanan Kaki Lima

Nama yang lahir dari porsi

Nasi kucing adalah nasi putih dalam bungkus kecil dengan lauk sederhana, sajian yang namanya menggambarkan ukuran porsinya dan bukan bahan makanan atau hidangan untuk kucing. Penyebutan itu merujuk pada jumlah nasi yang dianggap sebanding dengan makanan yang diberikan kepada seekor kucing. Di Yogyakarta, satu bungkus biasanya berisi beberapa sendok nasi dengan sedikit lauk; contoh tradisionalnya berupa sekepal nasi, secuil bandeng, dan sedikit sambal.

Ukuran mungil itu bukan kekurangan yang perlu ditutupi, melainkan bagian dari cara makan yang tumbuh bersama angkringan: orang bisa mengambil beberapa bungkus, lalu menambah gorengan atau sate sesuai selera. Saat harga bahan pokok naik, pilihan sederhana yang ramah di kantong punya nilai praktis bagi warga. Dalam sebuah contoh, dua bungkus nasi kucing bersama gorengan tempe, sate usus, dan es teh manis menghabiskan Rp10.000. Angka itu bukan patokan harga saat ini, tetapi menggambarkan mengapa sajian ini lama dikenal sebagai pengganjal lapar yang terjangkau.

Nasi Kucing: Porsi Kecil, Sejarah Besar di Balik Angkringan

Angkringan sebagai rumah kuliner rakyat

Sejarah nasi kucing tidak bisa dipisahkan dari angkringan, tempat makan sederhana yang berkembang di Yogyakarta dan wilayah Jawa Tengah. Nasi bungkus kecil dengan lauk seperti sambal teri atau oseng tempe cocok dengan cara angkringan menyajikan banyak pilihan dalam suasana santai. Hubungan ini membuat sego kucing angkringan lebih dari sekadar menu: ia menjadi bagian dari kebiasaan berkumpul, makan secukupnya, dan memilih lauk sesuai kebutuhan.

Kisah angkringan Yogyakarta kerap dikaitkan dengan Mbah Pairo, pedagang asal Klaten yang mulai berjualan di sekitar Stasiun Tugu pada 1950-an. Dari tradisi jalanan itu, nasi kucing menyebar ke berbagai daerah dan dikenal pula di Solo serta Semarang. Namun, identitasnya tetap kuat melekat pada Yogyakarta. Daya tariknya bukan kemewahan, melainkan kesederhanaan yang memberi ruang bagi siapa pun untuk singgah. Angkringan menjadikan porsi kecil sebagai pengalaman sosial, bukan sekadar ukuran hidangan.

Bekal di tengah Agresi Militer Belanda II

Jejak sejarah nasi kucing membawa cerita yang lebih berat daripada suasana angkringan malam. Pada 19 Desember 1948, Belanda menyerang Yogyakarta, yang ketika itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Di tengah keadaan genting, kebutuhan pangan gerilyawan menjadi bagian penting dari perjuangan. Perempuan dan warga sipil memasak, membungkus nasi serta lauk dengan daun pisang, lalu mengantarkannya kepada para gerilyawan.

Dalam kisah yang dituturkan veteran SWK 101, Djuwariyah, sebutan lama untuk sego kucing adalah nasi nuk. Makanan itu bukan bekal mewah, tetapi bekal praktis yang disiapkan dan dibagikan ketika persediaan tidak menentu. Peran warga yang bekerja di dapur dan jalur distribusi layak mendapat tempat dalam ingatan tentang perang, bukan hanya kisah pertempuran dan tokoh besar. Sebungkus nasi mungkin kecil, tetapi pada saat itu ia membantu menopang orang-orang yang bertahan di medan gerilya.

Dari bekal perjuangan menjadi identitas kota

Kini, nasi kucing Yogyakarta hadir sebagai kuliner rakyat yang mudah ditemui di angkringan, tetapi maknanya tidak berhenti pada rasa dan harga. Di dalam bungkus kecil itu bertemu dua lapisan kehidupan kota: tradisi makan bersama dan ingatan tentang warga yang ikut menjaga logistik perjuangan. Perubahan dari bekal masa perang menjadi sajian sehari-hari menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam arsip atau monumen; ia juga bertahan melalui kebiasaan yang terus diulang.

Karena itu, menyebut nasi kucing sebagai makanan murah saja terasa kurang. Porsi nasi kucing memang kecil, tetapi riwayatnya memperlihatkan besarnya peran pangan, kerja warga, dan solidaritas dalam masa sulit. Angkringan menjaga cerita tersebut tetap dekat dengan kehidupan sehari-hari, tanpa mengubahnya menjadi kisah yang jauh dari masyarakat. Nasi kucing bukan untuk kucing: ia adalah hidangan sederhana yang membawa jejak perjuangan dan menjadi bagian dari identitas Yogyakarta.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!