Kreasi ikan menjadi pusat perhatian
Lomba masak regional adalah ajang antarwilayah untuk mengolah bahan dan resep setempat menjadi hidangan yang menarik, sekaligus membuka ruang belajar tentang pangan dan tradisi kuliner. Di Padang Panjang, Kelurahan Ngalau meraih juara pertama dalam dua kategori Lomba Masak Serba Ikan: menu balita dan kudapan. Kompetisi yang digelar Dinas Pangan dan Pertanian itu berlangsung pada 22 Oktober 2026 dan diikuti perwakilan dari seluruh 16 kelurahan di kota tersebut. Pada kategori menu keluarga, Kelurahan Pasar Baru menjadi juara pertama. Skala partisipasi ini membuat lomba lebih berarti daripada sekadar perebutan gelar: masyarakat mendapat panggung untuk menguji cara mengolah ikan menjadi menu yang beragam. Pemerintah kota juga menjadikan kegiatan ini sarana mendorong konsumsi ikan dan menyajikan makanan bergizi bagi keluarga, termasuk balita.

Rolade Aceh membawa bahan lokal ke panggung kompetisi
Di tingkat Aceh, Tim Forikan Kabupaten Aceh Tamiang meraih Juara Umum Lomba Masak Meuseuraya Rasa pada 24 Oktober 2026 di Banda Aceh. Menu andalannya, Rolade Kambing Dalica Aceh, menggunakan ikan kambing-kambing, bumbu rempah tangkap hijau, serta tumisan daun ubi dalam isiannya. Hidangan itu disajikan bersama Nasi Minyak Khas Tamiang yang diproses dengan cara dibakar, lalu dilengkapi Bumbu Kari Full Rempah. Kekuatan kreasi ini ada pada pertemuan bentuk olahan rolade dengan bahan dan racikan berciri lokal; inovasi tidak harus menghapus jejak rasa tradisional. Justru, hidangan tradisional Nusantara lebih mudah menarik perhatian ketika kekhasan bahannya tetap terbaca dalam sajian yang berbeda. Kemenangan tersebut juga menambah kepercayaan diri tim menjelang Lomba Cipta Menu Serba Ikan tingkat nasional yang akan berlangsung beberapa waktu mendatang.

Kompetisi sebagai ruang pelestarian dan pembaruan
Dua ajang ini menunjukkan bahwa kompetisi kuliner dapat menjalankan dua peran sekaligus: mendorong eksperimen dan menjaga resep serta bahan lokal tetap hadir dalam percakapan publik. Di Padang Panjang, ragam olahan ikan diarahkan pada kebutuhan keluarga dan edukasi tentang konsumsi ikan. Di Aceh, Meuseuraya Rasa menjadi bagian dari festival yang diselenggarakan Bank Indonesia Provinsi Aceh untuk mendukung UMKM lokal sekaligus mempromosikan pelestarian budaya kuliner Nusantara. Karena itu, nilai lomba tidak semestinya diukur hanya dari siapa yang menjadi juara kompetisi masak. Pertemuan para peserta, juri, dan pengunjung juga memberi ruang untuk melihat bagaimana kreasi kuliner lokal dapat berkembang tanpa kehilangan karakter bahan dan bumbunya. Keterlibatan perwakilan dari banyak kelurahan dan kabupaten menjadi modal penting; tantangannya adalah menjaga agar perhatian setelah perlombaan turut mengalir kepada pelaku kuliner setempat.






