Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Jaket Chanel Ikonik dari The Devil Wears Prada Kembali Disorot

Jaket Chanel Ikonik dari The Devil Wears Prada Kembali Disorot
Minat|Seni Kuku

Dari layar lebar ke pasar resale

Busana ikonik film adalah pakaian yang melekat pada adegan dan perkembangan karakter, sehingga nilainya bagi penggemar dapat melampaui fungsi serta desainnya. Jaket Chanel yang dikenakan Anne Hathaway dalam The Devil Wears Prada kini ditawarkan di The RealReal, menempatkannya kembali dalam sorotan pasar resale. Harganya tercantum lebih dari Rp181 juta. Angka itu memang membuat jaket ini berada jauh dari jangkauan kebanyakan pembeli, tetapi daya tariknya bukan semata label Chanel: benda tersebut membawa jejak visual dari salah satu transformasi karakter yang paling diingat dalam film mode. Penjualan ulang ini memperlihatkan bahwa kostum layar dapat berubah menjadi barang koleksi, terutama ketika desain, pemeran, dan adegannya sama-sama dikenal.

Detail Chanel dalam transformasi Andy Sachs

Jaket bergaya nautikal itu berasal dari koleksi Chanel 2005 dan dirancang oleh Karl Lagerfeld, yang ketika itu menjabat sebagai direktur kreatif rumah mode tersebut. Dibuat dari katun produksi Prancis, jaket ini dihiasi trim dengan benang perak dan emas. Dalam film, Andy Sachs mengenakannya dalam montase perubahan penampilan setelah mulai bekerja di majalah mode fiktif Runway. Adegan itu bukan sekadar parade pakaian mewah: busana membantu menandai perubahan citra Andy, sampai penampilannya mengejutkan karakter yang diperankan Meryl Streep dan Emily Blunt. Karena itu, jaket ini punya konteks yang tidak dimiliki barang serupa tanpa riwayat layar. Bagi kolektor maupun penggemar film, hubungan antara rancangan Lagerfeld dan perjalanan karakter itulah yang membuatnya lebih menarik daripada sekadar jaket desainer.

Peran Patricia Field dan sulitnya meminjam busana

Patricia Field, stylist yang juga dikenal lewat karyanya dalam Sex and the City, memimpin pemilihan busana untuk The Devil Wears Prada. Namun, menghadirkan pakaian dari rumah mode ternama bukan pekerjaan mudah. Sejumlah desainer Eropa dan humas mereka awalnya enggan meminjamkan busana karena khawatir film tersebut akan menyinggung Anna Wintour, pemimpin redaksi Vogue yang disebut menjadi inspirasi karakter Miranda Priestly. Keraguan itu membuat dukungan Chanel terasa berarti bagi produksi, sekaligus menunjukkan bahwa kostum ikonik tidak muncul hanya karena pakaian mahal tersedia. Pilihan busana harus bekerja untuk cerita, karakter, dan suasana film. Dalam kasus jaket ini, nilai sejarah produksinya menambah lapisan makna pada perhatian yang kini diterimanya di pasar resale.

Daya tarik kolektor melampaui mode

Kemunculan jaket tersebut menegaskan bahwa pasar resale dapat memberi kehidupan baru pada busana yang memiliki cerita kuat. Daya tariknya menjangkau pemburu mode sekaligus penggemar perfilman: satu kelompok melihat rancangan Chanel era Lagerfeld, sementara kelompok lain mengingat momen perubahan Andy Sachs. The RealReal juga menampilkan dua jaket Chanel serupa dalam ukuran berbeda dengan harga yang tercantum masing-masing sekitar Rp181 juta. Meski demikian, harga tinggi tidak otomatis menjadikan barang ini investasi yang tepat bagi semua orang; nilainya sangat bergantung pada minat terhadap merek, film, dan provenance kostum. Kesimpulannya, jaket Chanel ini layak disorot bukan hanya karena label mewahnya, melainkan karena ia memperlihatkan bagaimana busana ikonik film dapat memperoleh daya tarik tersendiri setelah meninggalkan layar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!