Fasilitas harus memperbaiki pengalaman, bukan sekadar menambah bangunan
Wisata Danau Paisupok adalah pengalaman berkunjung ke danau berair jernih di Desa Luk Panenteng yang kini didukung fasilitas wisata dan layanan bagi pengunjung serta usaha warga. PLN mendukung pengembangan kawasan wisata di Kecamatan Bulagi Utara, Kabupaten Banggai Kepulauan, melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan PLN Peduli, yang disalurkan lewat UP3 Luwuk dalam rangka Hari Listrik Nasional ke-81. Dukungan ini datang saat kebutuhan pembenahan kian nyata: sebelum bantuan tersedia, keterbatasan infrastruktur membuat pengelola belum mampu melayani wisatawan secara maksimal. Karena itu, ukuran keberhasilan bukan banyaknya fasilitas yang diresmikan, melainkan apakah pengunjung merasa lebih mudah dilayani dan warga memperoleh manfaat berkelanjutan. Danau yang memesona sudah menjadi modal; layanan yang tertata menentukan apakah potensi itu berkembang menjadi destinasi yang layak dikunjungi kembali.
Perahu listrik memberi arah pada wisata ramah lingkungan
Paket dukungan PLN mencakup dua penanda identitas desa, dua gerbang kawasan wisata, satu paket jalan titian, dua set lampu hias, fasilitas ticketing, satu paket Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU), dan satu perahu listrik. Di antara fasilitas itu, perahu listrik paling jelas menghubungkan layanan wisata dengan ambisi wisata ramah lingkungan: ia menawarkan sarana transportasi yang memakai energi bersih, sementara SPLU mendukung pemanfaatan listrik di kawasan tersebut. Namun, teknologi saja tidak otomatis membuat pariwisata berkelanjutan. Penggunaan, perawatan, dan pengelolaan fasilitas harus berjalan seiring agar perahu tidak menjadi pajangan dan pengalaman pengunjung tetap terjaga. Jalan titian, gerbang, dan ticketing melengkapi perjalanan dari kedatangan hingga menjelajahi danau. Kombinasi ini lebih meyakinkan daripada mengandalkan daya tarik alam semata, sebab kenyamanan wisatawan juga bergantung pada layanan yang mendukung.
Kios UMK menghubungkan kunjungan dengan pendapatan warga
Satu kios kuliner dibangun untuk memberi pelaku usaha lokal tempat berjualan yang lebih layak dan membantu pemasaran produk UMK. Dampaknya terasa langsung bagi John, pemilik kios di kawasan wisata, yang mengatakan bahwa kios tersebut membuat aktivitas berjualan lebih nyaman dan membuka peluang meningkatkan pendapatan ketika pengunjung datang membeli. Inilah alasan dukungan usaha lokal seharusnya dipandang sebagai bagian inti dari pembangunan destinasi, bukan pelengkap dekoratif. Wisatawan mendapat akses pada kuliner setempat, sementara perputaran ekonomi berpeluang tinggal di desa. Potensi itu makin berarti di tengah pertumbuhan kunjungan: wisata Danau Paisupok dan Pantai Poganda mencatat 20.555 pengunjung pada 2022, naik menjadi 49.696 pada 2023, lalu mencapai 51.669 selama Januari–September 2024. Angka tersebut memperlihatkan peluang besar, tetapi manfaatnya perlu menjangkau warga melalui usaha yang benar-benar mampu melayani pengunjung.
Pelatihan dan perawatan menentukan keberlanjutan
Pembangunan fisik disertai pelatihan pemeliharaan dan pengelolaan kawasan wisata agar warga dapat merawat fasilitas serta melayani wisatawan dengan lebih baik. Langkah ini penting: tanpa keterampilan dan tanggung jawab pengelolaan yang jelas, perahu, kios, jalan titian, maupun fasilitas lain berisiko kehilangan fungsi setelah bantuan diserahkan. Pengembangan Luk Panenteng juga bukan agenda sesaat; kawasan tersebut telah masuk perencanaan pengembangan kawasan strategis pariwisata sejak 2019. Tantangan berikutnya ialah menjaga koordinasi pemerintah daerah, pemerintah desa, pengelola, dan pelaku usaha agar pertumbuhan kunjungan tidak mengorbankan lingkungan dan kualitas pelayanan. Harapan agar fasilitas dirawat dan dimanfaatkan secara optimal perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan rutin serta pengelolaan yang konsisten. Pada akhirnya, perpaduan perahu listrik, kios UMK, dan pelatihan akan menjadi penopang wisata Danau Paisupok hanya jika masyarakat menjadi pengelola aktif, bukan sekadar penerima fasilitas.






