Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pameran Makeup Through the Ages dan Lahirnya Percakapan Baru soal Kecantikan

Pameran Makeup Through the Ages dan Lahirnya Percakapan Baru soal Kecantikan
Minat|Makeup

HYAS: Saat Sejarah Makeup Menjadi Cermin Perubahan Zaman

HYAS: Makeup Through the Ages adalah pameran kecantikan heritage yang menghadirkan sejarah makeup Indonesia secara komprehensif melalui arsip, koleksi produk, dan narasi visual yang menelusuri perubahan ritual, perilaku, serta industri kecantikan dari masa kuno hingga menjelang Reformasi sebagai bagian dari perjalanan budaya dan sosial masyarakat. Pameran ini tidak netral; ia terang‑terangan menyatakan bahwa kecantikan layak dibaca seperti teks budaya, bukan sekadar urusan tren. Diselenggarakan di SPAC8, ASHTA District 8, HYAS membuka ruang di mana bedak, majalah, dan kemasan lama diangkat setara dengan karya seni, sehingga pengunjung dipaksa melihat bahwa sejarah makeup Indonesia bukan koleksi nostalgia, melainkan fondasi cara kita memaknai tubuh dan identitas hari ini. Di sinilah perjalanan makeup lintas generasi terasa hidup—bukan di museum yang sunyi, tetapi di ruang gaya hidup yang penuh arus kekinian.

Pameran Makeup Through the Ages dan Lahirnya Percakapan Baru soal Kecantikan

Drama 350 Koleksi: Menafsir Ulang Warisan Kecantikan Lokal

Keberanian utama HYAS adalah menumpuk bukti bahwa warisan kecantikan lokal punya cerita panjang dan kompleks, lalu menyusunnya seperti alur drama. Lebih dari 350 koleksi makeup, sekitar 200 majalah vintage, dan 100 buku langka dipilih lewat riset sembilan bulan untuk menunjukkan bahwa sejarah makeup Indonesia bukan footnote di catatan kolonial, melainkan narasi yang berdiri sendiri. Salah satu objek paling menggugah adalah face powder dari apotek era kolonial di Surabaya yang diduga berasal dari 1920‑an atau lebih awal, menandai bagaimana kecantikan mulai bernegosiasi dengan modernitas sejak dini. Kutipan yang pantas dicatat dari pameran ini adalah: “Melalui pendekatan ini, exhibition menjadi ruang untuk melihat kembali bahwa beauty heritage Indonesia memiliki perjalanan yang panjang, kaya, dan terus berkembang.” Pameran ini tegas menolak pandangan bahwa sejarah kecantikan hanyalah catatan gaya; ia mengungkap jejak kuasa, aspirasi, dan perubahan kelas sosial yang menempel di setiap produk.

Pameran Makeup Through the Ages dan Lahirnya Percakapan Baru soal Kecantikan

Mustika Ratu dan Martha Tilaar: Dari Salon Kecil ke I-Beauty Global

Bagian paling politis dari HYAS ada ketika arsip Mustika Ratu dan Sariayu Martha Tilaar ditempatkan sebagai tulang punggung perjalanan industri kecantikan Indonesia. Kehadiran Martha Tilaar Group di pameran ini mengingatkan bahwa industri tidak dibangun oleh tren singkat, melainkan oleh pionir dan gagasan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Berawal dari salon kecantikan yang didirikan DR. (HC) Martha Tilaar pada 1970, kelompok usaha ini tumbuh hingga lebih dari lima dekade dan kini memaknai kekayaan lokal dalam konsep I‑Beauty, yang menjadikan alam, budaya, dan kreativitas Indonesia sebagai kekuatan bersaing di pasar global. Dr. Kilala Tilaar menegaskan, “Where we are today is because someone dared to start yesterday. Sejarah bukan sekadar sesuatu yang kita lihat ke belakang. Sejarah adalah fondasi untuk menentukan ke mana kita akan melangkah berikutnya.” Di HYAS, warisan kecantikan lokal tidak dikurung di masa lalu; ia ditampilkan sebagai lensa strategi ekspansi yang percaya diri menghadapi virality tanpa kehilangan legacy.

Pameran Makeup Through the Ages dan Lahirnya Percakapan Baru soal Kecantikan

ASHTA District 8: Ruang Pertemuan Lintas Generasi dan Budaya

Pemilihan ASHTA District 8 sebagai lokasi bukan detail logistik; ini pernyataan sikap. Menempatkan sejarah makeup Indonesia di tengah ruang gaya hidup modern membuat diskusi soal kecantikan otomatis bersinggungan dengan konsumsi, kelas menengah, dan aspirasi urban. Pameran yang berlangsung pada 4–6 September 2026 di SPAC8 ini membuka pintu bagi publik, bukan hanya kolektor atau akademisi, untuk menafsir ulang ritual makeup lintas generasi di tengah hiruk pikuk mal. Pengunjung tidak sekadar melihat display; mereka diajak mengikuti workshop dan talk show yang menghubungkan beauty, budaya, dan industri kecantikan hari ini, menjadikan sejarah sebagai bahan bakar percakapan kontemporer. Pendekatan yang berada di antara museum dan gallery experience membuat HYAS terasa seperti laboratorium ide, tempat tradisi dirundingkan ulang di hadapan generasi yang tumbuh bersama algoritma media sosial, bukan hanya rubrik majalah.

Curated Shop dan Masa Depan Brand Lokal Berbasis Heritage

Salah satu keputusan paling strategis dalam HYAS adalah menghadirkan curated shop yang mempertemukan limited‑edition items dari heritage beauty brands dengan produk generasi baru brand lokal. Di sinilah teori bertemu praktik: warisan kecantikan lokal tidak berhenti sebagai memori; ia diposisikan sebagai titik awal strategi ekspansi pasar yang lebih luas. Konsep I‑Beauty yang dikembangkan Martha Tilaar Group menunjukkan bagaimana alam dan budaya Indonesia diterjemahkan menjadi inovasi yang relevan bagi konsumen masa kini tanpa mencabut akar lokalnya. Fenomena virality yang sering dianggap berseberangan dengan legacy justru dibaca sebagai peluang: perhatian cepat dipakai untuk menyalakan kembali nilai lama yang sudah teruji. HYAS membuat jelas bahwa makeup lintas generasi bukan sekadar koleksi dari masa ke masa, tetapi peta jalan bagi brand lokal yang ingin melompat ke panggung global dengan identitas yang tidak ditawar, namun tetap adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!