Ambisi kota global perlu fondasi yang nyata
Kota global adalah kota yang mampu menghubungkan kegiatan ekonomi bernilai tinggi dengan infrastruktur, layanan publik, dan aturan yang membuat bisnis serta warganya dapat berkembang. Itulah taruhan Jakarta ketika pemerintah mendorong ibu kota menjadi pusat jasa, keuangan, dan ekonomi digital yang berdaya saing global melalui transportasi massal dan rencana International Financial Center.
Ambisi itu kembali dibahas dalam perhelatan Kearney 100 Years of Impact di Jakarta, dengan sasaran masuk 20 besar Global City Ranking pada 2045. Target tersebut memberi arah, tetapi status kota global tidak lahir dari slogan atau proyek ikonik saja. Jakarta harus mengubah kepadatan ekonomi menjadi produktivitas, pekerjaan berkualitas, dan akses yang lebih baik bagi penduduk. Tanpa manfaat yang terasa luas, reputasi internasional hanya akan menjadi ukuran untuk investor, bukan kemajuan kota.
Transportasi adalah infrastruktur ekonomi sehari-hari
MRT dan LRT Jakarta bukan sekadar proyek mobilitas: keduanya dapat mempertemukan pekerja, perusahaan, pendidikan, dan layanan kota dengan waktu perjalanan yang lebih terukur. Pemerintah mendukung pembangunan MRT dan LRT sebagai Proyek Strategis Nasional serta merencanakan perluasan jaringan untuk memperkuat konektivitas. Pada 2026, cakupan transportasi publik tercatat menjangkau 92,5% wilayah Jakarta. Angka jangkauan itu penting, tetapi belum menjawab apakah perjalanan harian benar-benar mudah.
Bagi pengguna, mutu layanan, frekuensi, integrasi antarmoda, tarif terjangkau, serta akses menuju stasiun menentukan apakah transportasi publik menjadi pilihan praktis. Gagasan membangun kota lebih vertikal agar warga dapat tinggal dekat tempat kerja juga masuk akal hanya jika kawasan hunian terhubung dengan angkutan umum dan tidak memindahkan beban perjalanan ke jalan yang sama. Konektivitas harus diukur dari kemudahan hidup, bukan hanya panjang jaringan.
International Financial Center harus ditopang kepastian
Rencana International Financial Center dimaksudkan untuk menarik investasi dan memperluas aktivitas jasa keuangan, sekaligus menempatkan Jakarta lebih kuat dalam jaringan keuangan internasional. Pemerintah menyatakan akan mempelajari praktik pusat keuangan global; Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan bahwa ekosistem kompetitif dan kepastian hukum menjadi kunci menarik modal. Penekanannya tepat: lembaga keuangan memilih tempat yang menawarkan aturan konsisten, akses tenaga kerja, dan konektivitas yang dapat diandalkan.
Fondasi ekonomi Jakarta cukup besar untuk mendukung upaya itu. PDRB pada triwulan II 2026 mencapai Rp1.058,02 triliun, sementara investasi semester I tercatat Rp173,6 triliun atau 17,2% dari total nasional. Namun, angka besar tidak otomatis berarti manfaat tersebar merata. Pemerintah perlu memastikan modal mendorong pekerjaan berkualitas, keterampilan lokal, dan keterkaitan dengan pelaku usaha setempat. Tanpa hal tersebut, pusat keuangan global berisiko tumbuh sebagai enklave yang sibuk tetapi terpisah dari ekonomi sehari-hari.
Ukur keberhasilan dari manfaat, bukan peringkat
Target 2045 memberi Jakarta waktu untuk menyatukan transportasi, kawasan bisnis, dan layanan kota dalam satu strategi. Pemerintah Provinsi DKI mencatat pertumbuhan ekonomi 5,52% dan Indeks Keyakinan Konsumen 150, sementara pemerintah pusat juga menyoroti perlunya menangani sampah, banjir, dan integrasi Jabodetabek. Persoalan tersebut bukan pelengkap: investor dan warga sama-sama membutuhkan kota yang berfungsi, bukan hanya pusat bisnis yang mudah dijangkau.
Kota global Jakarta akan dinilai lebih layak ketika perluasan MRT dan LRT menyederhanakan perjalanan lintas kawasan, aturan memberi kepastian, dan pertumbuhan jasa keuangan membuka peluang yang bisa diakses warga. Peringkat internasional dapat menjadi penanda kemajuan, tetapi bukan tujuan akhir. Jakarta sebaiknya mengejar status pusat keuangan global dengan ukuran yang lebih dekat pada kehidupan penduduk: pekerjaan produktif, perjalanan yang efisien, dan lingkungan kota yang lebih layak. Itulah cara ambisi 2045 memperoleh makna nyata.






