Dari Penglihatan ke Abu-Abu: Adrian Yunan dan Makna Pribadi di Balik ‘Sebelah Mata’

Dari Penglihatan ke Abu-Abu: Adrian Yunan dan Makna Pribadi di Balik ‘Sebelah Mata’
Minat|Penyanyi/Band Pop

‘Sebelah Mata’: Bukan Sekadar Lagu, tapi Catatan Perjalanan Menuju Gelap

Perjalanan penerimaan kebutaan Adrian Yunan adalah kisah tentang seorang musisi dengan disabilitas yang mengubah ketakutan akan kehilangan penglihatan menjadi lagu ‘Sebelah Mata’ ERK, sebuah karya yang berangkat dari pengalaman kehilangan perlahan satu mata, jatuh ke dalam dunia abu-abu tanpa bentuk, lalu menjadikannya bahasa emosional yang kuat untuk bercerita tentang rasa berat, kerapuhan, dan keberanian menata hidup baru ketika seluruh tumpuan pada penglihatan pergi namun dorongan untuk tetap berkarya tidak ikut padam.

Inti kisah Adrian Yunan kebutaan bukan tentang heroisme instan, tetapi tentang proses panjang yang melelahkan. Ia mulai mengalami gangguan penglihatan sekitar 2004 atau 2005, ketika mata kanannya memasuki fase low vision dan memaksanya bergantung penuh pada mata kiri yang masih berfungsi. Dari titik rapuh itulah benih ‘Sebelah Mata’ ditanam: bukan sebagai slogan kritik sosial, tetapi sebagai memoar diam seorang musisi yang pelan-pelan sadar bahwa dunia visual yang ia kenal sedang mengecil dan akan hilang. Lagu ini, menurut saya, terasa jujur karena lahir dari rasa takut yang tidak disembunyikan.

Dari Penglihatan ke Abu-Abu: Adrian Yunan dan Makna Pribadi di Balik ‘Sebelah Mata’

Melepas Pekerjaan, Menggenggam Band: Tekanan Sebelum Gelap Total

Keputusan Adrian untuk resign dari pekerjaan kantoran dan mencurahkan hidup sepenuhnya ke Efek Rumah Kaca adalah langkah berani, tetapi juga sumber tekanan yang berat. Ia sendiri menggambarkannya sebagai fase ketika hidupnya seperti digantungkan pada satu titik: band. Di saat ritme hidup berputar di sekeliling ERK, gangguan penglihatan perlahan menjadi latar yang tidak bisa ia abaikan. Menurut saya, di sinilah tragedi dan kejujuran kisah ini bertemu: seorang musisi yang menumpuk mimpi pada satu tempat, sekaligus harus menghadapi fakta bahwa alat utama untuk “mengamati” dunia—mata—sedang runtuh.

Lagu ‘Sebelah Mata’ ERK akhirnya memegang dua lapis makna: di permukaan, banyak orang menganggapnya metafora kritik sosial, tetapi di kedalaman, ia adalah catatan pribadi tentang penglihatan yang menyusut dari dua mata menjadi sebelah, lalu hilang sama sekali. "Waktu itu sekitar 2004 atau 2005, aku sudah mulai low vision… makanya judulnya ‘Sebelah Mata’. Lagu itu merupakan cerita pribadiku," kata Adrian. Bagi pendengar yang tahu kisah ini, setiap lirik terasa seperti potongan diari; sebuah pengakuan bahwa seni kadang lahir dari ruang paling cemas dalam hidup.

Dari Hitam yang Disangka ke Abu-Abu yang Dialami: Mengartikan Ulang Kebutaan

Hari ini, Adrian Yunan kebutaan secara total, tetapi ia menolak gambaran baku bahwa kebutaan selalu berarti kegelapan hitam pekat. Ia menyebut pengalamannya lebih mirip layar abu-abu: mayoritas bagian tengah tanpa bayangan, tanpa cahaya, dengan sedikit celah samar di pinggir penglihatan. Bagi saya, deskripsi ini penting karena mematahkan stereotip: kebutaan tidak tunggal, pengalaman visual orang yang tidak melihat pun berlapis. Dari sinilah kita belajar bahwa disabilitas bukan sekadar label medis; ia adalah lanskap persepsi baru yang memaksa seseorang merumuskan ulang cara berinteraksi dengan dunia.

Proses berdamai dengan kebutaan ia sebut sebagai babak paling berat dalam hidupnya, dan jelas tidak terjadi dalam semalam. Ada masa ketika tekanan dari musik dan perubahan hidup membuatnya ingin berhenti total. Namun ia kemudian memilih "menyiasati semuanya" dengan lebih banyak mengelola sendiri, menjadi lebih realistis, dan mencari ketenangan. Musisi dengan disabilitas seperti Adrian menunjukkan bahwa adaptasi bukan hanya soal tongkat, braille, atau teknologi bantu, melainkan juga soal keberanian mengakui rasa takut lalu pelan-pelan mengubahnya menjadi keputusan baru: bertahan, menata ritme, dan tetap berkarya.

Kembali ke Musik: Karya sebagai Cara Berdamai dan Cerita Inspiratif Musisi

Ada momen ketika Adrian mencoba menjauh dari musik demi melepaskan diri dari tekanan yang menumpuk, namun pada akhirnya ia kembali juga ke sana. Ia menemukan cara berdamai lewat karya, menjadikan musik bukan lagi sumber beban semata, melainkan ruang untuk merapikan emosi dan menerima keadaan. Di titik ini, cerita inspiratif musisi seperti Adrian terasa sangat relevan bagi siapa pun yang merasa hidupnya diguncang perubahan radikal: sakit, kehilangan pekerjaan, atau putus asa pada mimpi. Seni, dalam kisah ini, bukan pelarian manis, melainkan alat untuk bertahan.

‘Sebelah Mata’ ERK lahir dari kondisi yang menyakitkan, namun berakhir sebagai karya yang resonan dengan banyak pendengar karena kejujuran yang dikandungnya. Lagu itu mengingatkan bahwa tantangan personal bisa diolah menjadi seni yang bermakna, dan musisi dengan disabilitas tidak berhenti menjadi relevan hanya karena indra mereka berubah. Menurut saya, pelajaran paling penting dari Adrian adalah ini: menerima kebutaan bukan berarti menerima kekalahan. Itu adalah keputusan untuk berdiri di atas panggung kehidupan dengan cara baru, tanpa penglihatan, tetapi dengan pemahaman yang lebih tajam tentang diri sendiri dan dunia.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!