Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mahasiswa Jadi Garda Terdepan Pencegahan Bullying di Sekolah

Mahasiswa Jadi Garda Terdepan Pencegahan Bullying di Sekolah
Minat|Kesehatan Mental

Pencegahan bullying sekolah butuh wajah baru: mahasiswa di garis depan

Pencegahan bullying sekolah adalah serangkaian upaya sistematis untuk mengurangi, menghentikan, dan mencegah perilaku perundungan melalui kebijakan, edukasi anti-perundungan, pendampingan psikososial, serta keterlibatan aktif seluruh warga sekolah agar tercipta lingkungan belajar yang aman secara fisik, sosial, dan emosional bagi semua siswa.

Selama ini, pencegahan bullying dan kekerasan seksual anak sekolah cenderung dipahami sebagai urusan guru, kepala sekolah, atau pakar yang datang memberi ceramah singkat. Hasilnya mudah ditebak: pesan moral terdengar baik, tetapi menguap cepat begitu bel pulang berbunyi. Di tengah kebuntuan pendekatan top-down itu, muncul aktor baru yang mengubah dinamika: mahasiswa. Mereka datang bukan sebagai “pengkhotbah”, melainkan kakak sejawat yang dekat secara usia, bahasa, dan pengalaman hidup dengan siswa. Inilah mengapa program sejawat mahasiswa layak dilihat sebagai strategi kultural, bukan sekadar kegiatan tambahan.

Kuncinya bukan hanya materi edukasi anti-perundungan, tetapi siapa yang menyampaikan, bagaimana gaya komunikasinya, dan seberapa jauh siswa merasa aman untuk membuka suara. Pada titik ini, mahasiswa punya modal sosial yang sulit disaingi.

UAD di boarding school: edukasi anti-perundungan yang menyentuh wilayah sensitif

Kasus bullying dan kekerasan seksual masih menjadi persoalan serius di ruang pendidikan, termasuk di sekolah berasrama yang interaksinya berlangsung 24 jam. Alih-alih menunggu masalah meledak, mahasiswa Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan memilih maju terlebih dahulu. Mereka menyusun program kerja unggulan berupa sosialisasi pencegahan bullying dan kekerasan seksual di SMA Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta yang berlangsung 11 Agustus hingga 12 September 2026.

Kelompok PLP-KKN ini berisi 10 mahasiswa lintas prodi—dari Pendidikan Bahasa Inggris hingga Bimbingan dan Konseling—dengan komposisi dua laki-laki dan delapan perempuan. Keberagaman latar ini penting: isu kekerasan seksual dan literasi kesehatan mental siswa tidak bisa ditangani satu disiplin ilmu saja. Pada 21 Agustus 2026, mereka turun langsung ke siswi kelas X putri di Gedung Putri MBS, menggelar sesi Stop Bullying dan pencegahan kekerasan seksual selama sekitar tiga jam setengah.

Yang menarik, penekanan mereka bukan hanya pada definisi, tetapi juga dampak psikologis: korban bisa kehilangan kepercayaan diri, merasa takut, dan mengalami gangguan dalam kehidupan sosialnya. Ini bukan sekadar pengetahuan hukum; ini adalah literasi kesehatan mental yang jarang disentuh secara lugas di kelas formal.

Salah satu pesan paling praktis dari sesi ini jelas: pencegahan bullying dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti berani menolak ajakan merundung, menghargai perbedaan, tidak ikut menertawakan korban, dan melaporkan kejadian ke pihak sekolah. Pernyataan ini layak dikutip utuh karena menggeser fokus dari menunggu aturan ke tindakan sehari-hari yang bisa dilakukan setiap siswa.

UNISMA di MI: pencegahan dini mulai dari bangku sekolah dasar

Jika UAD menyasar remaja di boarding school, mahasiswa Universitas Islam Malang memilih bergerak lebih dini di level madrasah ibtidaiyah. Mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan Kependidikan (PPLK) mereka menggelar Sosialisasi Anti-Bullying di MI Al Marhamah, Jabung, Kabupaten Malang, pada Sabtu 26 September 2026. Sekitar 100 siswa mengikuti kegiatan dua jam ini—angka yang menunjukkan bahwa pencegahan bullying sekolah bisa menyentuh skala besar jika direncanakan matang.

Kepala madrasah secara terang menegaskan bahwa tindakan bullying masih banyak ditemukan antar siswa, sehingga sosialisasi dianggap sangat penting untuk membantu siswa memahami batasan perilaku dalam berinteraksi. Di sini, mahasiswa tidak datang “menggurui”; mereka membongkar kebiasaan yang sudah dinormalisasi dengan bahasa yang dekat. Dengan pendekatan sederhana dan interaktif, siswa diajak membedakan bercanda dengan menyakiti, serta diajak menjaga ucapan dan menghargai perasaan teman.

Materi berikutnya mengajak siswa belajar membangun pertemanan sehat, yang menolak perundungan dan mengedepankan saling menghargai, membantu, dan menghormati perbedaan. Inilah inti edukasi anti-perundungan di usia dini: bukan sekadar melarang memukul atau mengejek, tetapi menanamkan pola relasi yang konstruktif. Tanpa itu, slogan anti-bullying akan berhenti di poster dinding.

Mahasiswa Jadi Garda Terdepan Pencegahan Bullying di Sekolah

Mengapa pendekatan sejawat mahasiswa lebih menjangkau siswa

Dua contoh di atas menunjukkan pola yang sama: program sejawat mahasiswa mengisi celah yang sering gagal ditangani model top-down. Mahasiswa datang sebagai kakak yang bisa diajak curhat, bukan figur otoritas yang menakutkan. Ini penting ketika menyentuh isu sensitif seperti kekerasan seksual anak sekolah. Dalam sesi di MBS Yogyakarta, misalnya, materi tidak berhenti pada daftar bentuk kekerasan fisik, verbal, dan digital; mahasiswa menekankan hak setiap individu atas batas tubuh pribadi dan tanggung jawab menghormati batas orang lain dalam interaksi langsung maupun digital.

Karena jarak psikologisnya lebih dekat, siswa cenderung lebih berani mengakui bahwa mereka pernah menjadi pelaku, korban, atau penonton. Ini memperluas jangkauan pencegahan: bukan hanya melindungi korban, tetapi juga mengajak “penonton diam” beranjak menjadi sekutu. Selain itu, penguatan literasi kesehatan mental siswa—misalnya penjelasan soal kecemasan, ketakutan, dan gangguan konsentrasi yang muncul akibat perundungan dan kekerasan seksual—terasa lebih membumi ketika disampaikan oleh figur yang mereka anggap setara.

Dengan kata lain, kekuatan pendekatan sejawat bukan pada kemewahan materi, melainkan pada kedekatan relasi dan keberanian bicara apa adanya.

Dari sosialisasi sesaat menuju budaya sekolah yang aman

Ada bahaya ketika kita menganggap satu sesi sosialisasi sebagai “tugas selesai”. Dalam kegiatan di MBS Yogyakarta sendiri ditegaskan bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman bukan pekerjaan yang selesai dengan satu kali sosialisasi; dibutuhkan pembiasaan, pendampingan, pengawasan, dan komitmen seluruh warga sekolah. Di sinilah peran mahasiswa perlu dilihat sebagai pemantik budaya, bukan penyelamat tunggal.

Secara praktis, program sejawat mahasiswa membuka dua jalur perubahan. Pertama, jalur perilaku: siswa diajak mengambil langkah konkret seperti menolak ajakan merundung, tidak menertawakan korban, dan berani melapor. Kedua, jalur struktural: sekolah terdorong membangun mekanisme pelaporan ramah siswa, sehingga mereka merasa aman berbicara dengan guru BK, wali kelas, atau pendidik lain.

Pendidikan yang memanusiakan seperti inilah yang seharusnya menjadi tolok ukur keberhasilan sekolah. Bukan hanya nilai rapor, tetapi sejauh mana siswa belajar menghargai sesama dan bertanggung jawab atas perilakunya. Jika kampus-kampus lain berani meniru dan memperkuat program sejawat mahasiswa, pencegahan bullying sekolah tidak lagi berhenti pada slogan, melainkan tumbuh menjadi budaya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!