Sport science, VALD Performance, dan perubahan cara klub melihat tubuh atlet
Teknologi sport science adalah pendekatan terukur yang menggabungkan data fisiologis, biomekanik, dan beban latihan untuk memantau kesehatan, mencegah cedera, serta mengoptimalkan performa sepak bola profesional secara sistematis sepanjang musim kompetitif. Dalam konteks ini, Persebaya Surabaya memilih jalur yang berani: menjadikan data sebagai kompas utama dalam membangun tim. Pengamat sepak bola nasional Rendra Soedjono menyebut Persebaya sebagai pionir penerapan sport science setelah Green Force memakai teknologi VALD Performance untuk memetakan kondisi fisik pemain, mirip konsep MilanLab milik klub top Eropa. Pilihan ini bukan kosmetik teknologi, melainkan perubahan cara pandang: tubuh pemain tidak lagi dilihat sekadar kuat atau lemah, tetapi sebagai sistem kompleks yang harus dipetakan, diukur, lalu dijaga secara presisi.

VALD Performance sebagai senjata pencegahan cedera, bukan sekadar alat pengukur
Di banyak klub, cedera masih dipandang sebagai nasib buruk; di Persebaya, cedera diperlakukan sebagai risiko yang bisa diprediksi dan ditekan. Sistem VALD Performance digunakan untuk mendeteksi titik lemah otot, memantau risiko cedera, sekaligus memetakan kebutuhan treatment, program latihan, dan gizi secara lebih terukur. Rendra Soedjono menegaskan bahwa teknologi ini membantu tim medis mengidentifikasi titik lemah otot sebelum berujung cedera serius, dan menyebut Persebaya sebagai pionir pengembangan sport science di sepak bola nasional. Dengan pemetaan ini, staf pelatih tahu siapa yang rentan, siapa yang butuh penguatan spesifik, dan kapan intensitas latihan harus disesuaikan. Pencegahan cedera atlet bukan lagi mengandalkan insting pelatih, tetapi keputusan berbasis data yang konsisten dan dapat diuji ulang sepanjang pramusim.
Pemusatan latihan pramusim di Thailand: laboratorium fisik, taktik, dan mental
Persebaya tidak memisahkan teknologi dari lapangan; keduanya dipertemukan dalam pemusatan latihan pramusim di Thailand. Menjelang Super League 2026/2027, Francisco Rivera dan rekan setim menjalani tahap akhir pramusim melalui pemusatan latihan tersebut, berangkat dari Surabaya pada Selasa 18 Agustus dan dijadwalkan pulang pada Kamis 27 Agustus. Thailand diposisikan sebagai ruang "final touch" untuk menyatukan kebugaran, ketajaman, karakter, dan mentalitas tim. Seluruh catatan pramusim—dari tujuh laga uji coba hingga keberhasilan menjuarai turnamen pramusim—dibuka kembali sebagai data evaluasi, bukan sekadar kenangan trofi. Di sini sport science menemukan konteks: angka-angka dari VALD dan monitoring fisik diterjemahkan menjadi penyesuaian intensitas, variasi lawan, serta skenario tekanan yang mendekati kondisi kompetisi sebenarnya.
Mentalitas pemenang dari data: dari ruang lab ke ruang ganti
Penerapan teknologi sport science di Persebaya bukan tujuan akhir; targetnya tetap performa sepak bola profesional yang stabil sepanjang musim. Pelatih menekankan bahwa kompetisi panjang akan menguji tim bukan hanya saat dalam kondisi terbaik, tetapi juga ketika menghadapi tekanan dan keterpurukan. Karena itu, pemusatan latihan di Thailand bukan sekadar soal fisik dan taktik, tetapi juga membangun kebersamaan yang menyerupai keluarga dan mentalitas pemenang. Kebersamaan 24 jam di luar negeri menciptakan ruang bagi pemain untuk saling memahami, menanggung beban performa, dan menghadapi cedera sebagai masalah kolektif, bukan individual. Dengan pemetaan risiko cedera dan langkah pencegahan yang rapi, klub bisa menjaga lebih banyak pemain tetap tersedia, sehingga kolektivitas tidak runtuh hanya karena absennya satu-dua nama kunci sepanjang musim kompetisi.
Persebaya sebagai model baru klub modern: data sebagai dasar, bukan dekorasi
Pendekatan berbasis data yang diambil Persebaya adalah pesan jelas untuk klub-klub lain: modernitas bukan soal slogan, tetapi konsistensi pada detail. Rendra Soedjono menilai penerapan sport science menjadi langkah penting Persebaya dalam membangun pengelolaan klub modern menjelang Super League 2026/2027. Dengan pemetaan kondisi fisik dan risiko cedera, klub dapat melakukan langkah pencegahan sebelum cedera mengganggu kemampuan tim sepanjang kompetisi. Di sisi lain, pemusatan latihan di Thailand digunakan untuk mengunci intensitas, organisasi permainan, dan mentalitas, karena ketika liga bergulir tidak ada lagi ruang untuk sekadar mencoba. Kesimpulannya sederhana: Persebaya menunjukkan bahwa teknologi sport science seperti VALD Performance hanya akan bernilai ketika dipadukan dengan latihan berintensitas tinggi, evaluasi jujur, dan kejelasan tujuan—datang bukan sekadar untuk bertanding, tetapi untuk bersaing sampai batas terbaik tim.






