Pendidikan bukan satu-satunya jalan karier
Perjalanan karier Tasya Farasya memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi bagian dari identitas seseorang tanpa harus menentukan satu-satunya profesi yang akan dijalani. Ia menempuh pendidikan kedokteran gigi di Universitas Trisakti, tetapi kemudian membangun nama di industri kecantikan sebagai kreator konten dan beauty influencer. Peralihan itu bukan cerita tentang meninggalkan pendidikan, melainkan tentang memilih ruang kerja yang paling selaras dengan minatnya. Sebelum dikenal luas di media sosial, Tasya bersekolah di SMA Negeri 8 Jakarta. Pendidikan Tasya Farasya memberi latar akademik yang berbeda dari citra publiknya sekarang, sementara ketertarikan pada makeup telah tumbuh sejak masa sekolah. Kisahnya menarik karena menunjukkan bahwa jurusan kuliah dan profesi akhir tidak selalu harus berimpit.
Minat makeup tumbuh sebelum popularitas
Ketertarikan Tasya pada rias wajah berkembang melalui pengalaman sehari-hari, bukan semata-mata muncul setelah ia dikenal di internet. Saat SMA, ia bergabung dengan kelompok tari dan kerap membantu merias teman-temannya sebelum tampil. Ibunya, Ala Alatas, juga mengenalkannya pada makeup sejak kecil. Dari bekal awal itu, Tasya memperdalam keterampilannya dengan belajar dari perias profesional Juanda Hasid Sorumba, yang dikenal sebagai Benu Sorumba. Urutan ini penting: popularitasnya tidak berdiri hanya di atas kamera dan media sosial, tetapi bertumpu pada minat yang diasah dan pengalaman praktik. Ia kemudian merintis pekerjaan sebagai makeup artist bersama sahabatnya, Becky. Pada tahap tersebut, makeup mulai bergeser dari kegemaran menjadi pekerjaan yang membuka jalan ke audiens lebih luas.
Dari MUA menjadi beauty influencer
Media sosial menjadi titik perubahan dalam karier Tasya Farasya. Ia mulai membuat video YouTube berisi tutorial makeup, ulasan produk, dan informasi seputar kecantikan. Konten itu memperluas jangkauannya, hingga ia dikenal sebagai beauty influencer dengan audiens besar dari beragam kalangan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa keahliannya merias wajah dapat diterjemahkan menjadi komunikasi yang konsisten: bukan hanya memperlihatkan hasil, tetapi juga membagikan cara dan penilaian terhadap produk. Kerja sama dengan merek kosmetik serta produk perawatan kulit lalu menjadi bagian dari profesinya. Menurut saya, kekuatan perubahan jalur ini terletak pada kesinambungan minatnya. Pendidikan kedokteran gigi bukan jalur yang ia lanjutkan menjadi profesi publik, tetapi perjalanan kecantikannya bertumbuh dari keterampilan yang telah lama ia kembangkan.
Membangun bisnis di luar konten
Tasya tidak berhenti pada peran sebagai kreator dan pemberi rekomendasi. Ia memperluas kiprahnya ke bisnis dengan meluncurkan Mother of Pearl (MOP), merek kosmetik yang diperkenalkan pada 2021. Ia juga merambah usaha makanan dan minuman melalui Golden Black Coffee serta Golden Black Gourmet. Langkah-langkah ini memperlihatkan bagaimana audiens dan pengalaman di dunia kecantikan dapat menjadi pijakan untuk membangun identitas usaha sendiri. Perhatian publik terhadap Tasya belakangan kembali meningkat setelah ia mengungkap persoalan pembangunan rumah yang diperkirakan membutuhkan biaya perbaikan struktur hingga Rp6 miliar. Di tengah sorotan itu, perjalanan pendidikan dan profesinya kembali relevan: jalur hidupnya tidak mengikuti pola lurus dari jurusan kuliah ke pekerjaan, tetapi berkembang dari minat, keterampilan, dan peluang yang ia bangun.
Kesimpulannya, pendidikan kedokteran gigi adalah bagian penting dari profil Tasya, tetapi bukan batas bagi kariernya. Ia mengubah ketertarikan pada makeup menjadi pekerjaan sebagai MUA, lalu memperluas pengaruhnya melalui konten dan bisnis kecantikan. Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan dapat membekali seseorang tanpa mengunci masa depannya pada satu profesi.






