Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Bang Andra dan 71 Km Jalan Desa yang Mengubah Peta Ekonomi Banten

Program Bang Andra dan 71 Km Jalan Desa yang Mengubah Peta Ekonomi Banten
Minat|Asia Tenggara

Bang Andra: Dari Jalan Desa ke Mesin Penggerak Ekonomi Lokal

Program Bang Andra adalah inisiatif pembangunan infrastruktur perdesaan yang berfokus pada jalan desa Banten untuk memperkuat konektivitas perdesaan, memudahkan akses layanan dasar, dan mempercepat aktivitas ekonomi desa yang selama ini terhambat keterisolasian geografis, terutama di wilayah-wilayah yang masih tertinggal dan bergantung pada pertanian serta usaha kecil.

Kuncinya: pembangunan jalan desa bukan lagi sekadar proyek fisik, melainkan strategi ekonomi. Pada tahun anggaran pertama, Program Bang Andra merampungkan 62 ruas jalan dengan total 71,05 km yang tersebar di lima kabupaten/kota. Angka ini penting, karena setiap kilometer jalan perdesaan yang layak di Banten langsung mengubah perhitungan biaya angkut hasil bumi, akses pendidikan, dan layanan kesehatan. Gubernur Andra Soni sejak awal mengarahkan program ini untuk membuka konektivitas desa dan melancarkan aktivitas ekonomi, bukan sekadar mengejar target panjang ruas. Pendekatan tersebut memberi pesan jelas: pembangunan daerah tertinggal dimulai dari aspal di depan rumah petani, bukan dari gedung megah di pusat kota.

Program Bang Andra dan 71 Km Jalan Desa yang Mengubah Peta Ekonomi Banten

Angka-angka Kunci: 71,05 Km Tuntas, 46 Km Menyusul

Jika ditarik ke angka, skala Program Bang Andra sudah melampaui level simbolik. Sepanjang 2025, pemerintah provinsi menuntaskan 62 ruas jalan desa dengan total penanganan 71,05 km yang menjangkau 101 desa dan 351.099 jiwa. Ruas-ruas itu terdistribusi di Kabupaten Lebak (29,63 km), Pandeglang (26,71 km), Serang (9,09 km), Kota Serang (4,61 km), dan Kabupaten Tangerang (2,01 km). Ini bukan proyek yang hanya menyentuh satu titik, melainkan jaringan infrastruktur perdesaan yang mulai menyambungkan kantong-kantong ekonomi desa di seluruh Banten.

Lebih penting lagi, program ini tidak berhenti pada seremoni peresmian. Tahun 2026, pemerintah provinsi menyiapkan kelanjutan Program Bang Andra untuk 33 ruas jalan tambahan sepanjang sekitar 46 km dengan anggaran sekitar Rp164 miliar. Kutipan yang layak dicatat: “Pada 2026, kami akan melanjutkan pembangunan 33 ruas jalan desa sepanjang 46 kilometer dengan total anggaran sekitar Rp 164 miliar,” ujar Kepala Dinas PUPR Arlan Marzan. Komitmen multiyear seperti ini penting agar desa melihat konsistensi, bukan sekadar satu gelombang proyek menjelang acara seremonial.

Lebak dan Serang: Dari Jalan Rusak ke Jalur Ekonomi Baru

Dampak paling terasa Program Bang Andra muncul di wilayah yang selama ini dikenal tertinggal. Di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, perbaikan ruas Cikeusik–Simpang Cijaku sepanjang 2,88 km menghubungkan Desa Malingping Selatan, Sukaraja, dan Kersaratu. Jalan ini melintasi lebih dari 1.224 hektare lahan pertanian dan 677 hektare perkebunan, sekaligus menjadi akses menuju belasan fasilitas pendidikan dan layanan kesehatan, termasuk RSUD Malingping. Ketika akses pasar dan sekolah menyatu di satu koridor jalan desa, konektivitas ekonomi desa tidak lagi sekadar konsep, tetapi rute harian motor dan pikap pengangkut hasil panen.

Kisah yang berulang terdengar dari para kepala desa. Kepala Desa Sukaraja menyebut, waktu tempuh ke pasar turun dari sekitar 30 menit menjadi kurang dari lima menit setelah jalan diperbaiki. Kepala Desa Kersaratu menyatakan bahwa perbaikan jalan poros desa yang sebelumnya rusak berat selama puluhan tahun kini disambut antusias warga. Di Kabupaten Serang, Bupati Ratu Rachmatuzakiyah mengakui program jalan desa ini sangat membantu mobilitas warga menuju fasilitas kesehatan, pendidikan, dan aktivitas ekonomi sehari-hari. Inilah bukti konkret bagaimana infrastruktur perdesaan yang tepat sasaran memotong biaya waktu dan uang yang selama ini diam-diam dibayar masyarakat desa.

Konektivitas Ekonomi Desa dan Strategi Mengurangi Ketertinggalan

Program Bang Andra jelas berposisi sebagai instrumen pemerataan, bukan proyek mercusuar. Gubernur Andra Soni menegaskan pembangunan jalan desa adalah kunci pengikisan disparitas antarwilayah dan bagian dari upaya memperkuat konektivitas wilayah. Jalan layak membuat hasil bumi lebih mudah keluar, layanan dasar lebih dekat, dan kesempatan ekonomi lebih setara. Itulah inti pembangunan daerah tertinggal: mengurangi biaya ketertinggalan yang selama ini harus ditanggung petani, pelajar, dan pelaku usaha kecil.

Di sisi lain, program ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antarpemerintah. Bupati Serang secara terbuka menyebut Program Bang Andra sangat membantu di tengah efisiensi anggaran daerah, dan telah mengusulkan 26 titik ruas jalan untuk masuk program tahun 2027. Dengan kata lain, pemkab melihat jalan desa Banten yang dibangun provinsi sebagai perpanjangan strategi pengembangan ekonomi lokal, bukan pesaing program kabupaten. Jika pola sinergi ini konsisten, pembangunan infrastruktur desa bisa bergerak lebih cepat daripada ritme biasa birokrasi yang kerap lamban.

Ke Depan: Menjaga Jalan, Menjaga Peluang Keluar dari Kemiskinan

Meski capaian 71,05 km jalan desa Banten layak diapresiasi, pekerjaan rumahnya belum selesai. Infrastruktur perdesaan baru akan benar-benar menjadi penyangga konektivitas ekonomi desa jika dipelihara dan diperluas secara konsisten. Di banyak daerah, jalan desa sering rusak beberapa tahun setelah diresmikan karena beban angkut tinggi dan minimnya perawatan. Andra Soni sudah mengingatkan agar masyarakat ikut menjaga fasilitas yang dibangun agar manfaatnya bertahan panjang. Ajakan ini seharusnya dibaca sebagai peringatan: tanpa pemeliharaan, keuntungan ekonomi yang muncul hari ini bisa menguap besok.

Ke depan, arah kebijakan sudah cukup jelas: program berlanjut dengan target 33 ruas jalan dan usulan tambahan dari kabupaten. Yang perlu dijaga adalah keberpihakan: prioritas harus tetap pada desa yang paling tertinggal, dengan indikator yang transparan. Jalan desa yang menghubungkan lahan pertanian, sekolah, dan puskesmas seharusnya selalu berada di urutan atas. Program Bang Andra telah membuktikan bahwa jalan di kampung bisa menggerakkan lebih banyak hal dibanding satu proyek besar di pusat kota. Jika konsistensi dan perawatan terjamin, aspal yang kini mengkilap di Lebak dan Serang bisa menjadi pijakan keluar dari lingkaran kemiskinan bagi generasi berikutnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!