Silaturahmi dengan peluang ekonomi
Konferensi Anxi Sedunia adalah pertemuan internasional masyarakat keturunan Anxi dari berbagai negara untuk mempererat persaudaraan dan membuka ruang kerja sama lintas budaya serta usaha. Pada Minggu, 25 Oktober 2026, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menghadiri sekaligus membuka Temu Kangen Masyarakat Anxi Sedunia ke-12 di Hotel Wyndham Palembang.
Sekitar 500 delegasi dari Tiongkok, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Myanmar, dan Indonesia menghadiri acara tiga tahunan tersebut. Skala dan jangkauan peserta memberi Palembang kesempatan berharga untuk memperkenalkan daerah kepada jejaring internasional. Namun ukuran keberhasilan acara ini semestinya tidak berhenti pada banyaknya tamu atau kemeriahan seremoni. Nilai strategisnya terletak pada apakah hubungan yang terjalin dapat diteruskan menjadi proyek yang membuka manfaat bagi warga Sumatera Selatan.

Dari jaringan diaspora ke kerja sama nyata
Pemerintah daerah berharap hubungan persaudaraan masyarakat Anxi yang tersebar di berbagai negara dapat menjadi jembatan menuju kolaborasi usaha dan investasi. Herman Deru menyatakan, “Melalui pertemuan ini, kita berharap masyarakat Anxi dapat semakin memajukan dunia usaha yang selama ini digeluti, sekaligus menciptakan kesepakatan kerja sama dan berinvestasi di Sumatera Selatan”. Harapan tersebut masuk akal: jejaring diaspora dapat membantu mempertemukan pelaku usaha, pengetahuan, dan calon mitra.
Akan tetapi, investasi Sumatera Selatan tidak akan bertambah hanya karena pertemuan berlangsung di tingkat internasional. Pemerintah dan pelaku usaha perlu menindaklanjuti perkenalan dengan komunikasi yang konsisten, informasi potensi daerah yang jelas, serta pembahasan proyek yang konkret. Hasil yang paling berarti adalah kerja sama yang berkelanjutan dan manfaat yang dirasakan masyarakat, bukan sekadar foto bersama atau janji umum.

Pertanian dan perkebunan perlu menjadi fokus
Bidang pertanian dan perkebunan disebut sebagai sasaran potensial kerja sama, sejalan dengan harapan gubernur agar temu kangen menghasilkan investasi baru di sektor-sektor tersebut. Fokus ini memberi arah yang lebih jelas bagi peluang investasi global yang dibicarakan di Palembang. Bila dijalankan dengan kemitraan yang tepat, investasi dapat membuka ruang usaha dan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
Konferensi juga menjadi kesempatan memperkenalkan budaya, adat istiadat, dan kuliner Sumatera Selatan kepada tamu mancanegara. Itu bukan pelengkap tanpa arti: kesan positif terhadap daerah dapat membantu membangun hubungan, tetapi promosi mesti disertai tindak lanjut usaha yang terukur. Bagi delegasi Anxi Palembang, pengalaman langsung mengenal potensi setempat seharusnya menjadi awal percakapan bisnis, bukan akhir dari agenda kunjungan.
Ukuran keberhasilan ada pada tindak lanjut
Rangkaian konferensi mencakup gala dinner penyambutan, forum bisnis dan investasi, pameran produk unggulan seperti Teh Tieguanyin, pelantikan pengurus periode baru, pertunjukan seni budaya kolaborasi Tionghoa-Melayu, serta aksi sosial bagi masyarakat setempat. Agenda tersebut menyediakan ruang untuk mempertemukan peserta, mengenalkan produk, dan memperkuat hubungan. Tantangannya adalah menjaga agar forum bisnis tidak menjadi acara satu kali tanpa kesinambungan.
Palembang layak memanfaatkan kehadiran sekitar 500 delegasi sebagai pintu masuk untuk membangun kemitraan jangka panjang. Pemerintah daerah perlu memastikan minat yang muncul diterjemahkan menjadi komunikasi dan rencana kerja yang dapat ditindaklanjuti, terutama di sektor pertanian dan perkebunan. Kesimpulannya, Konferensi Anxi Sedunia akan bernilai bagi Sumatera Selatan jika persaudaraan internasional itu berujung pada kerja sama nyata dan manfaat yang sampai kepada masyarakat.






