Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Media Sosial hingga Menu Jumbo: Strategi UMKM Kuliner Naik Kelas

Dari Media Sosial hingga Menu Jumbo: Strategi UMKM Kuliner Naik Kelas
Minat|Memasak

Strategi Bisnis Kuliner Lokal di Era Video Pendek

Strategi bisnis kuliner lokal adalah kombinasi langkah pemasaran, pemanfaatan media sosial, dan inovasi menu makanan yang dirancang pelaku usaha untuk menarik pelanggan, meningkatkan penjualan, serta membangun loyalitas konsumen di tengah perubahan cara orang mencari dan merekomendasikan makanan. Perubahan perilaku konsumen yang kini banyak mengandalkan video pendek dan unggahan kreator membuat penjualan media sosial kuliner bukan lagi pelengkap, melainkan panggung utama bagi UMKM kuliner berkembang. Rekomendasi yang dulu mengalir dari keluarga dan teman, kini bersaing dengan konten yang muncul di gawai setiap detik. Pelaku usaha yang menganggap media sosial sekadar etalase pasif akan tertinggal. Sebaliknya, mereka yang menjadikannya kanal interaksi, observasi tren, dan penggerak penjualan lintas platform mulai memanen hasil. Kasus Amanda Brownies, Suweger, dan Pempek Minah menunjukkan bahwa keberanian bereksperimen di dunia digital dan dapur adalah syarat minimum untuk tetap relevan.

Amanda Brownies: Dari Warisan Keluarga ke Mesin Konten TikTok

Amanda Brownies adalah contoh terang bagaimana merek lama bisa terasa baru ketika berani mengubah strategi bisnis kuliner lokal ke arah multi-channel. Berawal dari usaha keluarga di Bandung pada 1999 dan kini memiliki 150 outlet dari Aceh hingga Papua, mereka tidak puas hanya mengandalkan nama besar lintas generasi. Sejak 2020, Amanda mengembangkan konten di TikTok dan menggandeng kreator makanan serta gaya hidup untuk menyasar audiens yang lebih muda. Menurut data internal, lebih dari 40 ribu video organik buatan pengguna telah menampilkan produk brownies mereka dengan total tayangan melampaui 500 juta kali. Kutipan “Dulu ibu saya yang menyuguhkan Amanda untuk saya, sekarang saya yang membelikan untuk anak saya” dari Hilda Nathania menggambarkan bagaimana satu merek bisa hidup di beberapa generasi sekaligus. Keputusan bergabung dengan TikTok GO by Tokopedia pada Juli 2026 mempertegas bahwa penjualan media sosial kuliner bukan sekadar awareness, tetapi kanal transaksi yang serius.

Suweger dan Eksperimen Menu: Menguji Selera, Mengasah Identitas

Berbeda dari Amanda yang sudah mapan, Suweger tumbuh dari usaha minuman untuk mahasiswa dan kini memperluas pilihan produknya ke kategori camilan. Langkah ini tampak sederhana, tetapi secara strategis penting: mereka menguji inovasi menu makanan untuk memperdalam relasi dengan basis pelanggan yang sama. Menambah camilan berarti memperpanjang waktu kunjungan dan nilai transaksi per pelanggan, sekaligus membuka ruang kreatif untuk konten di media sosial. Dalam konteks strategi bisnis kuliner lokal, pendekatan Suweger menunjukkan bahwa UMKM kuliner berkembang tidak harus langsung melompat ke ekspansi besar; menguji menu baru adalah cara aman membaca pasar tanpa mengorbankan identitas awal. Di era di mana konsumen mudah pindah ke merek lain, kemampuan bereksperimen sambil tetap relevan dengan kebutuhan mahasiswa—segmen yang sensitif harga namun aktif di platform digital—menjadi senjata penting. Jika Amanda memaksimalkan skala dan distribusi, Suweger menonjol lewat kelincahan dan kedekatan dengan komunitas.

Pempek Minah: Mengubah Tren Viral Menjadi Produk Jumbo yang Laku

Di Palembang, Pempek Minah menunjukkan sisi lain strategi bisnis kuliner lokal: membaca tren viral lalu mengubahnya menjadi inovasi menu makanan yang konkret. Jeli melihat pasar, mereka meluncurkan menu terbaru pempek serba jumbo di Kampung Kapitan Palembang. Belakangan, varian kulit dan keriting memang populer disajikan dengan ukuran besar untuk memikat pengunjung. Owner Aminah mengakui pelaku usaha pempek otomatis tertarik dengan fenomena pempek jumbo yang viral. Namun ia menekankan bahwa tidak semua bisa membuat jumbo yang tetap enak dan legit di lidah. Pempek keriting jumbo diluncurkan sebulan lalu dengan harga Rp5.000 per satuan, tetap lembut hingga ke dalam. Begitu juga Pempek Kulit Jumbo yang lebih besar dari ukuran tangan, tanpa tulang, renyah dan gurih, dibanderol Rp5.000 per buah. Lenggang Jumbo yang memakai dua telur ayam dan dijual Rp10.000 per porsi sanggup membuat pelanggan “makan satu aja udah puas dan kenyang. Lebih hemat jadinya”.

Pelajaran untuk UMKM Kuliner: Multi-Channel dan Inovasi, Bukan Sekadar Naik Harga

Benang merah dari Amanda Brownies, Suweger, dan Pempek Minah jelas: UMKM kuliner berkembang karena berani bermain di banyak kanal sekaligus dan terus berkreasi di dapur. Amanda memanfaatkan TikTok, bekerja sama dengan kreator, lalu menghubungkan perhatian di media sosial dengan kanal penjualan melalui TikTok GO by Tokopedia. Suweger memperluas kategori dari minuman ke camilan untuk menambah alasan pelanggan datang dan memesan. Pempek Minah menangkap tren pempek jumbo yang viral dan menjawabnya dengan varian keriting, kulit, dan lenggang jumbo berharga terjangkau, tanpa mengorbankan kualitas ikan dan teknik pengolahan. Inovasi ini menjadi bukti bahwa pelaku usaha kuliner dapat terus berkreasi mengikuti tren tanpa harus selalu mengandalkan kenaikan harga. Kesimpulannya, strategi bisnis kuliner lokal yang efektif hari ini adalah kombinasi penjualan media sosial kuliner yang aktif, eksperimen menu yang terukur, dan keberanian melihat tren sebagai peluang, bukan ancaman.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

Related Products

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!