Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Pengenal Visual hingga Mainan Daur Ulang, PAUD Berinovasi

Dari Pengenal Visual hingga Mainan Daur Ulang, PAUD Berinovasi
Minat|Pengetahuan Parenting

Inovasi belajar harus berpihak pada pengalaman anak

Inovasi pendidikan PAUD adalah penggunaan metode, media, atau teknologi yang sesuai tahap perkembangan anak untuk menjadikan belajar lebih aktif, aman, dan bermakna. Dua pelatihan bagi guru di Malang dan Lumajang menunjukkan bahwa inovasi tidak harus memilih antara perangkat digital dan bahan sederhana: keduanya dapat memperkaya pengalaman bermain jika tujuan belajarnya jelas. Pada Sabtu, 17 Oktober 2026, tim Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya melatih guru PAUD Terpadu Zamzam Malang memakai aplikasi seluler berbasis computer vision untuk pembelajaran interaktif pengenalan objek. Sepekan kemudian, pada Jumat, 23 Oktober, Rumah Main Kreatif mengadakan pelatihan pembuatan alat permainan edukatif dari bahan daur ulang dan bahan alam di TK Muslimat Thoriqul Jannah, Kecamatan Ranuyoso, Lumajang. Nilai kedua kegiatan ini bukan pada kebaruan alat semata, melainkan pada kemampuan guru menghubungkan media dengan rasa ingin tahu, gerak, dan percakapan anak.

Kamera ponsel menjadi pemantik eksplorasi

Aplikasi computer vision yang diperkenalkan kepada guru Zamzam, “Tebak Benda Bersama Farel dan Rara”, memakai kamera ponsel untuk membantu anak mengenali objek di sekitar. Aplikasi Android ini mencakup 85 jenis benda, dari buah dan fauna hingga kendaraan serta perlengkapan sekolah; maskotnya membimbing anak menyebut nama benda dalam bahasa Indonesia dan Inggris, disertai fakta sederhana. Mode jelajah memberi ruang untuk menemukan benda secara bebas, sementara mode misi—misalnya mencari benda berwarna merah—mengubah pengamatan menjadi tantangan. Guru juga berlatih mengatur durasi dan bahasa serta menggunakan aplikasi bersama papan tulis digital. Rancangannya patut diperhatikan: aplikasi berjalan luring, tanpa iklan dan pendaftaran akun, serta tidak menyimpan foto pengguna. Namun, teknologi hanya berguna bila guru mengarahkan obrolan dan aktivitas setelah anak melihat layar. Jika layar menjadi tujuan, bukan pemantik, kesempatan belajar bersama justru menyempit.

Dari Pengenal Visual hingga Mainan Daur Ulang, PAUD Berinovasi

Bahan bekas mengajak anak belajar dengan tangan

Di Ranuyoso, pendekatan yang dipilih berangkat dari benda yang mudah dijumpai: kardus bekas, stik es krim, tutup botol, dan bahan alam. Pelatihan Rumah Main Kreatif dipandu Anis Fitriya dan diikuti 15 guru sejawat se-Kecamatan Ranuyoso. Peserta mempraktikkan pemilihan bahan, perancangan media, pembuatan, hingga cara menggunakannya dalam pembelajaran. Salah satu contoh, kincir angka, mengajak anak menggenggam, memutar, menunjuk, dan mengucapkan angka, sehingga pengenalan bilangan berpadu dengan latihan motorik halus. Mainan bahan daur ulang punya keunggulan yang tak dimiliki aplikasi: anak dapat menyentuh, menggerakkan, dan mengulang tindakan dengan benda nyata. Tetapi bahan murah bukan otomatis aman. Guru perlu memastikan media bersih, tidak beracun, tidak tajam, serta tidak memiliki komponen kecil yang berisiko tertelan. Kreativitas perlu berjalan bersama pengawasan.

Dari Pengenal Visual hingga Mainan Daur Ulang, PAUD Berinovasi

Pilihan terbaik bukan perlombaan teknologi

Teknologi dan alat permainan edukatif dari bahan sekitar sebaiknya dipandang sebagai pasangan, bukan pesaing. Aplikasi dapat memperluas kosakata dan mengundang anak mengamati lingkungan; permainan buatan guru memberi kesempatan melatih koordinasi, mengenal angka, dan belajar melalui gerak. Keduanya juga menuntut keputusan pedagogis: apakah media sesuai usia, kebutuhan, dan tujuan kegiatan, serta apakah guru memberi ruang untuk bertanya dan mencoba? Sumber kegiatan di Lumajang menekankan bahwa kecocokan media dengan tahap perkembangan dan cara guru mengintegrasikannya menentukan manfaat stimulasi. Karena itu, sekolah tidak perlu mengejar perangkat paling canggih untuk disebut inovatif. Guru dapat memilih media berdasarkan tujuan, lalu mengamati respons anak dan menyesuaikan kegiatan. Tim Filkom UB berencana memberi pendampingan berkala kepada guru Zamzam dan mengumpulkan evaluasi pengguna untuk penyempurnaan aplikasi mendatang. Langkah tindak lanjut seperti ini penting agar inovasi tidak berhenti sebagai pelatihan satu hari.

Pada akhirnya, pembelajaran PAUD yang kreatif bukan soal layar atau bahan bekas, melainkan pengalaman yang dibangun di sekelilingnya. Aplikasi computer vision dan mainan bahan daur ulang sama-sama bernilai ketika mendorong anak mengamati, berbicara, bergerak, dan bermain dengan aman. Sekolah sebaiknya memberi guru keleluasaan memadukan keduanya sesuai kebutuhan anak, bukan menganggap satu pendekatan sebagai jawaban tunggal.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!