Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Arum Manis dan Sagon Gulung: Resiliensi Manis UMKM Jajanan Puluhan Tahun

Arum Manis dan Sagon Gulung: Resiliensi Manis UMKM Jajanan Puluhan Tahun
Minat|Makanan Kaki Lima

Warisan Manis yang Menolak Punah

Arum manis tradisional dan sagon gulung Bantul adalah jajanan lawas berbasis tepung dan gula yang dibuat dengan cara turun-temurun, dikerjakan dengan tangan terampil, dan dipertahankan oleh pelaku usaha kecil sebagai sumber nafkah keluarga sekaligus simbol warisan kuliner yang berjuang hidup di tengah gempuran makanan modern dan harga bahan baku naik.

Kisah Haji Ardi dan keluarga Muryati menunjukkan bahwa UMKM jajanan bertahan bukan karena kebetulan, tetapi karena pilihan sadar untuk tidak menyerah pada logika pasar jangka pendek. Sejak 2011, Haji Ardi memproduksi arum manis tradisional di Sleman dengan tujuan jelas: mempertahankan jajanan tempo dulu yang mulai dilupakan. Sementara itu, Sagon Gulung Makmur di Bantul berdiri di atas pondasi usaha keluarga yang dirintis sejak 1991 dan kembali bangkit setelah sempat berhenti akibat pandemi dan lonjakan biaya produksi.

Dua usaha ini mengajarkan satu hal penting: di sektor bisnis kuliner puluhan tahun, daya tahan sering lebih ditentukan oleh komitmen menjaga tradisi dan lapangan kerja lokal daripada sekadar mengejar margin keuntungan tercepat.

Arum Manis Haji Ardi: Dari Tiga Pekerja Menjadi Puluhan Penopang Nafkah

Di Ngrangsang, Selomartani, Kalasan, arum manis bukan sekadar camilan, melainkan mesin sosial kecil yang menghidupi puluhan orang. Sejak 2011, Ardi Sahami atau Haji Ardi memproduksi arum manis tradisional di Sleman untuk mempertahankan jajanan tempo dulu yang ia kenal dari kisah keluarga dan perjalanan usaha.

Usaha yang dulu hanya melibatkan tiga pekerja kini mempekerjakan sekitar 30 karyawan dengan pemasaran hingga Bali. Dalam konteks UMKM, angka ini bukan kecil; ini berarti puluhan rumah tangga menggantungkan pendapatan pada seutas gulali jadul. Di tengah kenaikan harga bahan baku dan penurunan omzet, Haji Ardi tetap memilih mempertahankan usaha dan para pekerjanya, alih-alih memangkas habis biaya tenaga kerja.

Pilihan mempertahankan kualitas arum manis tradisional yang dibuat dengan proses tidak sederhana menjadi bentuk perlawanan halus terhadap logika serba instan. "Meskipun menghadapi kenaikan harga bahan baku dan penurunan omzet, ia tetap berupaya mempertahankan kelangsungan usaha serta para pekerjanya". Itu bukan kalimat manajemen modern, melainkan etika kerja yang lahir dari kedekatan dengan para pekerja dan keyakinan bahwa jajanan jadul masih layak diperjuangkan.

Sagon Gulung Makmur: Dapur Keluarga yang Menolak Kalah oleh Pandemi

Di Gadingsari, Sanden, Bantul, dapur rumah Muryati berubah menjadi ruang perlawanan terhadap krisis. Usaha sagon gulung Bantul yang dirintis orang tuanya sejak 1991 sempat berhenti ketika pandemi Covid-19 datang dan harga bahan baku naik tajam. Keputusan berhenti saat itu bukan tanda menyerah, melainkan jeda terpaksa ketika biaya produksi tak lagi sejalan dengan kemampuan pasar menyerap produk.

Sekitar enam bulan terakhir, Sagon Gulung Makmur kembali berproduksi. Muryati mengambil alih tongkat estafet, menata ulang usaha dari dapur rumah: menyiapkan bahan, mengolah adonan, memasak sagon, hingga memenuhi kebutuhan toko dan pesanan pelanggan bersama suami dan anak-anaknya. Usaha jajanan tradisional yang dirintis sejak 1991 itu kini menghasilkan rata-rata 250 biji sagon gulung per hari dari sekitar lima kilogram adonan.

Menariknya, keluarga ini memilih tetap setia pada cara tradisional: tepung ketan, kelapa parut, dan gula jawa diolah dengan telaten; anglo dipertahankan sebagai alat memasak utama karena dianggap memberi tekstur berbeda pada sagon gulung. Di sini terlihat bahwa strategi bertahan mereka bukan mengganti identitas produk, melainkan memperkuat karakter tradisional sebagai nilai jual utama.

Resiliensi Operasional: Kualitas Tradisional dan Tenaga Kerja Lokal sebagai Inti Strategi

Jika dilihat dari kacamata bisnis, baik arum manis tradisional Haji Ardi maupun Sagon Gulung Makmur sama-sama menolak resep umum efisiensi ekstrem. Keduanya memprioritaskan keberlanjutan usaha dan perlindungan tenaga kerja lokal, meski harga bahan baku naik dan permintaan tidak selalu stabil.

Haji Ardi memilih mempertahankan sekitar 30 karyawan, padahal kenaikan biaya dan penurunan omzet bisa saja dijadikan alasan untuk mengurangi pekerja. Di Bantul, Muryati melibatkan anggota keluarga dalam seluruh rantai produksi, dari persiapan bahan hingga distribusi ke toko-toko sekitar Srandakan, Sanden, dan Celep. Kegiatan produksi yang melibatkan keluarga ini bukan hanya soal hemat biaya, tetapi juga cara mentransfer keterampilan memasak sagon gulung yang belum sepenuhnya dikuasai generasi muda di rumah itu.

Keduanya juga sama-sama menjadikan kualitas tradisional sebagai benteng utama. Proses arum manis yang tidak sederhana dan penggunaan anglo untuk sagon gulung adalah pilihan sadar untuk menjaga karakter produk, meski berarti waktu dan tenaga lebih besar. Dalam jangka pendek, strategi ini mungkin terasa berat. Namun dalam jangka panjang, inilah yang membuat bisnis kuliner puluhan tahun tetap punya identitas kuat di tengah pasar yang seragam.

Pelajaran dari Dapur Kecil: Warisan Kuliner sebagai Investasi Sosial

Kisah arum manis tradisional di Sleman dan sagon gulung Bantul membantah anggapan bahwa jajanan jadul hanya hidup dari nostalgia. Keduanya membuktikan bahwa warisan kuliner bisa menjadi investasi sosial: menjaga lapangan kerja lokal, merawat keterampilan memasak, dan memberi ruang bagi keluarga untuk tetap mandiri secara ekonomi.

Tekanan biaya bahan baku yang terus naik memang menjadi tantangan utama, sampai sempat memaksa Sagon Gulung Makmur berhenti produksi dan menekan omzet arum manis Haji Ardi. Namun dedikasi pemilik untuk melestarikan warisan kuliner membuat mereka memilih bangkit kembali, bukan menutup buku. "Usaha jajanan tradisional yang dirintis orang tua Muryati pada 1991 itu kini menghasilkan rata-rata 250 biji sagon gulung setiap hari dengan melibatkan anggota keluarga".

Kesimpulannya, jika UMKM jajanan bertahan selama puluhan tahun, itu bukan karena mereka kebal krisis, tetapi karena mereka punya kompas nilai: kualitas tradisional, keberpihakan pada pekerja, dan keberanian untuk terus menggoreng harapan di tengah asap anglo dan wajan arum manis. Tugas kita sebagai konsumen sederhana namun penting: tidak membiarkan dapur-dapur kecil ini padam.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!